
PWMU.CO — Langit malam di Porong terasa lebih syahdu dari biasanya. Di halaman Masjid Al-Munirah, kompleks Muhammadiyah Boarding School (MBS) Porong, sebanyak 54 santri dari jenjang SD, SMP, hingga SMA diwisuda sebagai penghafal Al-Quran.
Bukan di aula, bukan pula di gedung megah, melainkan di halaman terbuka, beratapkan langit Allah yang penuh gemintang, seolah menjadi saksi bisu atas janji suci yang diikrarkan dari dada para penjaga Kalam Ilahi.
Dengan tema “Menjaga Kalam Ilahi, Memancarkan Cahaya Hati, Mewarisi Misi Nabi”, Wisuda Tahfidz Angkatan Ketiga ini bukan sekadar menandai capaian kuantitatif hafalan, mulai dari 1 hingga 10 juz, melainkan juga menunjukkan capaian kualitatif yang luar biasa: penguasaan ilmu alat dan kemampuan membaca kitab turats (kitab kuning/gundul) tanpa harakat.
Ketika Kitab Gundul Menjadi Jalan Ilmu
MBS Porong tidak hanya mencetak hafizh, tapi juga membentuk kader ilmuwan muda Islam yang mampu menembus warisan intelektual Islam klasik. Malam itu, digelar pula ujian terbuka kitab gundul yang memukau hadirin. Salah satu santri, Fahmi Azzam, tampil percaya diri membaca dan mensyarah ayat Al-Quran dari tafsir klasik. Ia menjelaskan asbābun nuzūl, makna lafziyah, hingga konteks hukum, dengan fasih dalam bahasa Arab lisan.
Inilah bukti bahwa para santri tidak hanya menyimpan hafalan dalam dada, tetapi juga memahami pesan dan makna Al-Quran melalui literasi keilmuan klasik. Di MBS Porong, santri dibina dengan pembelajaran nahwu, sharaf, balaghah, gharib, hingga tajwid secara mendalam dan aplikatif.
“Kami ingin para santri tidak sekadar membaca Al-Quran dengan tartil, tapi juga mampu mengakses khazanah keilmuan Islam dari sumber aslinya. Inilah pesantren modern yang sejati,” ungkap Kepala Pengasuhan Santri dalam sambutannya.
Apresiasi dari Tokoh Daerah dan Aparat
Acara wisuda dihadiri oleh berbagai tokoh penting. Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo, Misbach, M.Pd., menyampaikan bahwa menghafal Al-Quran adalah perjuangan besar, namun menjaganya adalah tantangan yang lebih berat.
“Banyak hafizh yang terlena karena kesibukan lain, lalu hafalannya memudar. Maka istiqamah dan murāja‘ah harus menjadi bagian dari hidup kalian,” ujarnya dengan penuh harap.
Sementara itu, Kepala KUA Kecamatan Porong menegaskan bahwa penghafal Al-Quran saat ini mendapat peluang besar, baik secara ukhrawi maupun duniawi.
“Banyak kampus favorit dan profesi strategis yang memprioritaskan hafizh Qur’an. Kalian adalah aset umat dan bangsa,” katanya.
Komandan Rayon Militer (Danramil) Kecamatan Porong juga hadir bersama tokoh-tokoh Muhammadiyah, Aisyiyah, dan organisasi otonom kepemudaan. Kehadiran lintas elemen ini menunjukkan sinergi dan dukungan terhadap peran strategis MBS Porong dalam mencetak generasi Qurani yang berdaya saing.
Sebagai angkatan ketiga, para wisudawan kali ini menjadi representasi nyata dari visi MBS Porong: menyatukan kekuatan spiritual, intelektual, dan sosial dalam satu tarikan napas pendidikan. Tak hanya belajar tartil dan tahfidz, santri juga dibekali dengan keterampilan berbicara, membaca kitab kuning, memahami tafsir, dan hidup dalam kedisiplinan kolektif. Mereka diajak berdialog dengan zaman, sekaligus dibekali dengan warisan ilmu masa lalu.
Di bawah cahaya lampu dan gemerlap bintang malam, 54 santri menegakkan kepala, bukan karena sombong, tetapi karena telah memikul Kalam Ilahi dalam dada. Dari halaman masjid yang sederhana, lahirlah generasi pembaharu yang kelak menjadi lentera di tempat-tempat yang gelap. (*)
Oleh Rozaq Akbar Editor M Tanwirul Huda





0 Tanggapan
Empty Comments