Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Lapang Dada, Sehatkan Rohani

Iklan Landscape Smamda
Lapang Dada, Sehatkan Rohani
Hilman Sueb. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Moh. Helman Sueb Pembina Pesantren Muhammadiyah Babat, Lamongan
pwmu.co -

Dalam kehidupan sehari-hari, manusia tak pernah lepas dari persoalan. Ada masalah kecil yang menguji kesabaran, ada pula ujian besar yang mengguncang ketenangan jiwa. Di sinilah sifat lapang dada menjadi kunci penting dalam menjaga kesehatan rohani dan keharmonisan hidup.

Secara bahasa, lapang dada menurut KBBI bermakna merasa lega, tidak sesak, tenang, tidak gusar, serta mampu menerima keadaan dengan sabar dan ikhlas. Dalam konteks kehidupan, lapang dada adalah sikap batin yang mencerminkan keluhuran akhlak, ketenangan jiwa, dan kedewasaan spiritual seseorang.

Sikap lapang dada sangat dibutuhkan, baik dalam kehidupan pribadi maupun bermasyarakat. Dengan hati yang lapang, seseorang mampu menghadapi persoalan dengan jernih, tidak mudah putus asa, dan mampu mencari solusi tanpa dikuasai emosi.

Lapang dada sejatinya bukan sekadar hasil latihan mental, tetapi merupakan karunia dari Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā. Hal ini tercermin dalam doa Nabi Musa ‘alaihis salām ketika dihadapkan pada tugas berat menghadapi Fir‘aun, penguasa zalim di masanya. Allah mengabadikan doa tersebut dalam Al-Qur’an:

Rabbi syraḥ lī ṣadrī”

“Ya Tuhanku, lapangkanlah dadaku.” (QS. Thaha: 25)

Doa ini menunjukkan bahwa bahkan seorang nabi pun menyadari keterbatasan dirinya. Nabi Musa memohon kelapangan dada agar diberi ketenangan, keberanian, serta kelancaran dalam menyampaikan dakwah dan menghadapi tantangan besar.

Dari sini dapat dipahami bahwa kelapangan dada adalah fondasi lahirnya sifat-sifat mulia seperti kesabaran, keteguhan, keberanian, dan sikap pemaaf.

Teladan Para Nabi

Rasulullah Muhammad Saw adalah contoh sempurna manusia dengan kelapangan dada. Beliau dikenal sebagai sosok yang sabar, pemaaf, dan berani, meskipun menghadapi penolakan, cacian, bahkan ancaman jiwa. Kelapangan dada menjadikan beliau mampu menebarkan kasih sayang, tanpa kehilangan ketegasan dalam membela kebenaran.

Demikian pula para rasul lainnya. Mereka menghadapi penentangan umatnya bukan dalam hitungan hari atau tahun, melainkan sepanjang hidup. Dengan lapang dada, mereka tetap istiqamah, menyadari bahwa dakwah memerlukan waktu, pengorbanan, dan keyakinan penuh terhadap pertolongan Allah.

Ibrahim, Pemuda Berjiwa Besar

Salah satu contoh nyata kelapangan dada adalah Nabi Ibrahim ‘alaihis salām. Sebagai seorang pemuda, ia dengan berani menghancurkan berhala-berhala kaumnya, menentang kemusyrikan, bahkan berhadapan dengan ayahnya sendiri yang berada di jalan yang salah. Keberanian itu ia lakukan seorang diri, tanpa organisasi, tanpa pengikut.

Risiko dibakar hidup-hidup tidak menggoyahkan keyakinannya. Semua itu menunjukkan bahwa kelapangan dada telah merasuk kuat dalam jiwa Ibrahim, melahirkan keberanian luar biasa dan keteguhan iman.

Buah dari Lapang Dada

Lapang dada membawa dampak besar dalam kehidupan seseorang. Dengan hati yang lapang, seseorang akan memiliki jiwa yang ikhlas, sabar, berani, dan mudah memaafkan. Ia terhindar dari rasa putus asa, tidak mudah bosan dalam kebaikan, serta selalu terdorong untuk berlomba-lomba dalam amal saleh.

Kelapangan dada juga menjaga manusia dari perbuatan munkar dan fahsya, karena hatinya terikat kuat dengan Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā, Sang Maha Menguasai langit dan bumi.

Oleh karena itu, sudah selayaknya kita senantiasa memohon kepada Allah agar dianugerahi hati yang lapang. Sebab dengan lapang dada, rohani menjadi sehat, hidup menjadi tenang, dan iman semakin kokoh.

Semoga Allah Subḥānahu wa Ta‘ālā melimpahkan kepada kita semua karunia kelapangan dada, agar mampu menjalani kehidupan dengan penuh kesabaran, keikhlasan, dan keteguhan dalam kebenaran. Āmīn. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu