Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Laporan dari Makkah: Strategi Berburu Saf Guru SD Musix Surabaya Jalani Umrah Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Laporan dari Makkah: Strategi Berburu Saf Guru SD Musix Surabaya Jalani Umrah Ramadan
Umrah di bulan ramadan. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Memasuki pekan kedua ibadah umrah di tanah suci, pasangan pendidik SD Muhammadiyah 6 Gadung (SD Musix) Surabaya, Anisah Herwati, S.Pd.I., M.Pd., dan Dr. Mukayat Al Amin, S.Sos., M.Sosio., membagikan pengalaman inspiratif mengenai perjuangan beribadah di tengah membeludaknya jemaah Ramadan tahun ini, Jumat (13/3/2026).

Suasana Masjidil Haram pada Ramadan memang berbeda dibandingkan hari-hari biasa. Sejak pagi hari, ribuan jemaah dari berbagai negara sudah memadati setiap sudut masjid untuk mendapatkan tempat terbaik beribadah.

Lantunan ayat suci Al-Qur’an terdengar dari berbagai penjuru, sementara sebagian jemaah tampak duduk berzikir, membaca mushaf, atau beristirahat menunggu waktu salat berikutnya. Menjelang waktu Magrib, hamparan sajadah yang rapat dan saf-saf panjang membentuk lautan manusia yang khusyuk, menghadirkan pemandangan spiritual yang begitu menggetarkan hati.

Anisah Herwati Kepala Urusan (Kaur) Kurikulum SD SD Musix, sementara sang suami, Dr. Mukayat Al Amin, adalah Dosen di Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya). Setelah sepekan menjalani ibadah di Madinah, hari ini keduanya resmi memasuki Kota Makkah Al-Mukarramah dengan tantangan fisik yang lebih besar.

Ketatnya Masjidil Haram: Sekali Keluar, Tempat Melayang

Anisah Herwati menceritakan bahwa akses masuk ke dalam Masjidil Haram saat Ramadan sangatlah kompetitif. Pada hari pertama di Makkah, mereka bahkan sempat kesulitan masuk ke area dalam masjid karena kapasitas yang sudah penuh sejak dini hari.

“Di Madinah, kami masih bisa mengikuti Tarawih meski di pelataran” Kisan Anisa nama kecil Anisa Herwati melalui pesan singkat

Namun di Makkah, lanjutnya, akses sangat ketat. Sekali kita keluar dari saf, tempat itu akan langsung terisi jemaah lain. Akhirnya hari ini kami hanya bisa salat Isya berjemaah di luar.

Kondisi ini memaksa mereka menyusun strategi bertahan di dalam masjid. Dr. Mukayat Al Amin menjelaskan bahwa kunci ibadah di Makkah adalah ketahanan fisik untuk berdiam lama di satu titik.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

“Besok kami berencana berangkat pukul 09.00 pagi agar mendapatkan tempat di dalam,” jelas Dr. Mukayat.

Strateginya adalah, sambungnya, menetap hingga malam hari untuk merangkai salat Duha, Zuhur, Asar, Magrib, Isya, hingga Tarawih dan Itikaf dalam satu rangkaian tanpa keluar area masjid,”

Membawa Bekal Berbuka demi Menjaga Saf

Menjalankan strategi “maraton” ibadah dari pagi hingga malam tentu menuntut persiapan logistik yang matang. Anisah memutuskan untuk membawa bekal makanan ringan sendiri agar bisa berbuka di dalam masjid tanpa harus kembali ke hotel.

“Kami harus membawa bekal untuk berbuka supaya tidak perlu keluar masjid. Jika keluar sebentar saja untuk mencari makan, tempat salat kami akan melayang. Ini perjuangan fisik yang luar biasa, sehingga kami harus pandai mengatur ritme agar tetap sehat,” tambah Anisah.

Doa dan Harapan dari Tanah Air

Kabar perjuangan ibadah pasangan ini mendapat perhatian khusus dari keluarga besar SD Musix di Surabaya. Kepala SD Musix, Munahar, S.H.I., M.Pd., menyampaikan harapan dan doa terbaik bagi kelancaran ibadah mereka.

“Kami mendoakan agar Ustadzah Anisah dan Bapak Mukayat senantiasa diberikan kesehatan, kekuatan, serta kemudahan dalam menjalankan seluruh rangkaian ibadah umrah di bulan suci ini. Semoga perjalanan beliau berdua lancar dan selamat hingga kembali ke tanah air nanti,” harap Munahar. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡