Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Lawan Kekerasan Digital, Korps IMMawati Sidoarjo dan IMM Umsida Suarakan Perlindungan Perempuan

Iklan Landscape Smamda
Lawan Kekerasan Digital, Korps IMMawati Sidoarjo dan IMM Umsida Suarakan Perlindungan Perempuan
Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat Aisyiyah yang juga akademisi, sekaligus pemerhati isu perempuan, Dr. Adib Sofia, S.S., M.Hum., saat menyampaikan materi. Foto: Olivia Ovania/PWMU.CO.
pwmu.co -

Pesatnya perkembangan teknologi digital tidak selalu berjalan beriringan dengan terciptanya ruang yang aman, khususnya bagi perempuan. Di balik kemudahan akses informasi dan komunikasi, ancaman kekerasan berbasis gender di ranah daring justru semakin marak dan mengkhawatirkan.

Menyadari kondisi tersebut, Korps IMMawati Sidoarjo bersama Koordinator Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) menggelar Webinar Nasional pada Sabtu (27/12/2026), sebagai bentuk kepedulian dan langkah edukatif dalam melawan kekerasan digital terhadap perempuan.

Webinar Nasional ini menjadi ruang diskusi strategis bagi generasi muda untuk memahami secara komprehensif bentuk, dampak, serta upaya pencegahan Kekerasan Berbasis Gender Online (KBGO).

Kegiatan ini sekaligus menegaskan komitmen IMM sebagai organisasi kader dalam mewujudkan lingkungan akademik yang aman, inklusif, dan berkeadilan gender, terutama di tengah realitas ruang digital yang masih kerap tidak ramah bagi perempuan.

Ketua Koordinator Komisariat (Korkom) IMM Umsida, M. Ghulam Saifullah, dalam sambutannya menegaskan bahwa ruang siber sejatinya harus menjadi ruang aman bagi semua, terutama perempuan, untuk belajar dan berekspresi. Namun, realitas yang ada justru menunjukkan sebaliknya.

“Di era digital, ruang siber seharusnya menjadi ruang aman untuk belajar dan berekspresi, tapi faktanya, masih banyak perempuan yang mengalami kekerasan, pelecehan, dan ketidakadilan di ruang digital,” ujarnya.

Ia menekankan bahwa webinar ini menjadi penting bukan hanya sebagai ruang diskusi, tetapi juga sebagai upaya membangun kesadaran kolektif agar persoalan kekerasan digital tidak berhenti pada wacana semata.

“Webinar ini menjadi penting bukan hanya untuk dibahas, tetapi untuk disadari dan ditindaklanjuti bersama. Sebagai IMM, kami percaya bahwa perjuangan kemanusiaan harus hadir di mana pun, termasuk di ruang digital. Ini adalah ikhtiar kecil kami agar dunia maya menjadi ruang yang lebih aman, adil, dan beradab,” tuturnya.

Mengangkat tema “Perlawanan Terhadap Kekerasan Digital”, webinar ini menghadirkan narasumber istimewa yakni Wakil Ketua Majelis Tabligh dan Ketarjihan Pimpinan Pusat Aisyiyah yang juga akademisi, sekaligus pemerhati isu perempuan, Dr. Adib Sofia, S.S., M.Hum.

Dalam pemaparannya, ia memberikan perspektif mendalam mengenai pentingnya keadilan, perlindungan korban, serta pendekatan humanis dalam menangani kasus kekerasan digital.

Paparan tersebut disampaikan melalui sudut pandang sosiologis, psikologis, hingga nilai-nilai keislaman yang relevan dengan konteks masyarakat saat ini.

Adib Sofia menjelaskan bahwa kekerasan digital, seperti sekstorsi atau pemerasan seksual melalui ancaman penyebaran konten pribadi, merupakan ancaman serius yang berdampak besar terhadap kondisi psikologis, sosial, dan moral perempuan.

Ia menguraikan bahwa KBGO setidaknya mencakup lima bentuk utama, yakni online threats seperti ancaman dan pencurian data, pelanggaran privasi melalui doxing, malicious distribution atau penyebaran konten tanpa izin, cyber sexual harassment, hingga sexploitation.

Lebih jauh, ia menyoroti tantangan besar yang kerap dihadapi korban, mulai dari keterbatasan akses pelaporan hingga tekanan sosial berupa stigma, rasa malu, dan trauma.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Menurutnya, banyak kasus kekerasan justru tidak tertangani dengan baik karena perspektif korban sering kali terabaikan, bahkan disalahkan.

“Narasi yang menyudutkan perempuan, termasuk yang mengaitkan kekerasan dengan gaya hidup korban, perlu dihentikan,” tegasnya.

Dalam pandangan keislaman, Adib Sofia menegaskan bahwa perempuan memiliki hak untuk produktif dan berperan aktif di ruang publik. Urusan domestik tidak seharusnya menjadi penghalang bagi perempuan untuk berkembang dan berkontribusi di berbagai bidang kehidupan.

Oleh karena itu, dibutuhkan pendekatan yang empatik dan aman agar korban berani bersuara serta mendapatkan pendampingan yang layak.

“Memahami perspektif korban bisa dimulai dengan pendekatan yang membuat mereka merasa nyaman, seperti menjadi sahabat atau bestie. Pendekatan ini telah diterapkan melalui Biro Informasi dan Konsultasi Keluarga Aisyiyah,” ungkapnya.

Ia juga menekankan pentingnya membangun kesadaran berpikir kritis agar perempuan mampu menyadari nilai dan martabat dirinya, serta tidak terjebak dalam situasi yang memojokkan berdasarkan konstruksi gender.

Sebagai langkah nyata dalam penanganan kekerasan berbasis gender, Adib Sofia menjelaskan bahwa Komisi Nasional Anti Kekerasan terhadap Perempuan telah membangun jejaring kerja sama dengan 83 lembaga mitra di berbagai daerah dan lintas sektor untuk memperkuat upaya pencegahan, pendampingan, dan perlindungan korban kekerasan.

Salah satu lembaga yang tergabung dalam jaringan mitra tersebut adalah Pos Bantuan Hukum (POSBAKUM) Aisyiyah, yang tercatat sebagai mitra ke-19 dan berperan aktif dalam memberikan pendampingan hukum serta layanan bagi korban kekerasan berbasis gender.

Sejalan dengan semangat penguatan perlindungan korban kekerasan berbasis gender yang didorong melalui jejaring Komisi Nasional Perempuan RI bersama lembaga-lembaga mitra, Korps IMMawati Sidoarjo bersama Korkom IMM Umsida turut mengambil langkah progresif dengan mempersiapkan re-launching Ruang Aman Perempuan bagi seluruh mahasiswi di lingkungan kampus Umsida.

Inisiatif ini diharapkan menjadi wadah yang aman, suportif, dan solutif bagi perempuan untuk berbagi, melapor, serta memperoleh pendampingan awal atas berbagai bentuk kekerasan, baik di ranah luring maupun daring, dengan mengedepankan perspektif korban dan pendekatan yang berkeadilan gender.

Melalui Webinar Nasional ini, Korps IMMawati Sidoarjo bersama Korkom IMM Umsida menegaskan perannya sebagai agen perubahan yang responsif terhadap tantangan zaman.

Kegiatan ini tidak hanya menjadi ruang edukasi, tetapi juga momentum kolektif dalam memperjuangkan terciptanya ruang digital yang aman, adil, dan bermartabat bagi semua, khususnya perempuan. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu