
PWMU.CO – Lembaga Dakwah Komunitas (LDK) Pimpinan Wilayah Muhammadiyah (PWM) Jawa Timur menggelar Festival Komunitas Muhammadiyah dan Silaturahmi Wilayah (Fastamu dan Silatwil) di kantor PWM Jatim, Sabtu (22/2/2025). Acara ini diikuti lebih dari 150 peserta dari LDK Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) se-Jawa Timur.
Kegiatan ini bertujuan menyinergikan program LDK PWM Jatim dengan berbagai pihak, termasuk Dinas Sosial Provinsi Jawa Timur. Kepala Dinas Sosial Jawa Timur, Restu Novi Widiani, turut hadir dalam acara tersebut.
“Kami bersyukur dan berterima kasih bisa diundang dalam acara ini, karena kami sangat terbantu dalam berbagai persoalan sosial. Jawa Timur memiliki angka kemiskinan yang tinggi, sehingga diperlukan kolaborasi untuk menurunkan angka tersebut,” ujar Restu.
Ia menambahkan bahwa kehadiran Dai Komunitas sangat dibutuhkan untuk melakukan pendampingan dan pembinaan secara berkelanjutan. Beberapa program prioritas yang disinergikan mencakup pemberantasan kemiskinan, peningkatan layanan kesehatan, serta penanganan berbagai permasalahan sosial seperti hukum, bencana, lansia tunggal di perkampungan, kemiskinan ekstrem, dan penyandang disabilitas.
“Kami berharap forum silaturahmi ini segera ditindaklanjuti agar percepatan pencapaian program dapat terwujud. Komunikasi dengan dinas sosial di kabupaten/kota juga perlu diperkuat, terutama dalam menangani kemiskinan ekstrem di berbagai daerah,” tambahnya.
Acara dilanjutkan dengan sesi dialog dan penyerahan sertifikat Dai Komunitas secara simbolik.
Pada sesi kedua, hadir Imam Hambali selaku Ketua Lazismu Jawa Timur dan Moch Arifin selaku Ketua LDK Pimpinan Pusat Muhammadiyah. Imam Hambali menekankan pentingnya sinergi antara LDK se-Jawa Timur dan Lazismu dalam memperkuat gerakan dakwah.
“Lazismu berperan sebagai jembatan program LDK kepada masyarakat, mengajak partisipasi publik melalui dana Lazismu guna mendanai berbagai kegiatan seperti pembinaan muallaf, program Dai 3T, dan komunitas lainnya,” jelas Imam Hambali.
Sementara itu, Moch Arifin menekankan bahwa dakwah komunitas harus berlandaskan etika dan strategi yang tepat agar misi dakwah dapat berhasil. Ia mengutip Alquran surat An-Nahl ayat 125 sebagai pedoman dakwah.
“Perjuangan Dai Komunitas di daerah 3T (terpencil, terjauh, dan tertinggal) sangat mulia. Meski dengan keterbatasan, mereka tetap menjalankan dakwah yang simpatik dan sesuai kebutuhan masyarakat. Saat ini, ada 150 Dai 3T yang tersebar di berbagai pelosok Indonesia untuk menyebarkan dakwah yang mencerahkan,” ujar Moch Arifin. (*)
Penulis Andi Hariyadi Co-Editor Ahmad Sa’dan Husaini Editor Wildan Nanda Rahmatullah


0 Tanggapan
Empty Comments