Upaya pelestarian budaya lokal terus dilakukan melalui berbagai inovasi, salah satunya di bidang pendidikan. Ainin Nurul Hayati, S.Pd, guru SMP Muhammadiyah 14 Driyorejo, Gresik berhasil meraih gelar magister dengan mengangkat Tari Remo Putri Gaya Tawi sebagai fokus penelitian yang dipadukan dengan pemanfaatan teknologi berbasis Android, Selasa (20/1/2026).
Inovasi ini menjadi bukti bahwa budaya tradisional dapat tetap lestari seiring perkembangan teknologi digital.
Ditemani oleh ketiga buah hatinya dan sang suami Dr. Welly Suryandoko, S.Pd., M.Pd, Ainin Nurul Hayati, dengan mantap melangkah menuju ruang sidang untuk mempertanggungjawabkan tesis yang telah disusunnya.
Sidang dijadwalkan berlangsung selama 2 jam yang dimulai pukul 10.00 WIB hingga pukul 12.00 WIB.
Mengambil Program studi S2 Pendidikan Seni Budaya, Fakultas Bahasa dan Seni, Universitas Negeri Surabaya (Unesa), Ainin tampil mengenakan hijab berwarna hitam lengkap dengan almamater biru khas Unesa.
Mengangkat Judul Tugas Akhir “Kepraktisan Mobile Learning Berbasis Android Dalam Pembelajaran Tari Remo Putri Gaya Tawi Pada Siswa SMK”, ia akan mempertahankan dihadapan dewan penguji.
Sidang tersebut menghadirkan lima orang dewan penguji yang terdiri atas Prof. Dr. Hj. Warih Handayaningrum, M.Pd; Dr. Indar Sabri, S.Sn, M.Pd; Dr. Setyo Yanuartuti, M.Si; Dr. Sn. Retnayu Prasetyanti Sekti, M.Si; dan Prof. Dr. Anik Juwariyah, M.Si.
Tari Remo merupakan salah satu tarian khas Jawa Timur yang sarat dengan nilai budaya, sejarah, dan karakter. Namun, ditengah arus globalisasi dan dominasi budaya modern, minat generasi muda terhadap seni tradisional mulai menurun.
Berangkat dari kondisi tersebut, Ainin Nurul Hayati, S.Pd yang saat ini tercatat sebagai salah satu guru SMP Muhammadiyah 14 Driyorejo Gresik ini berinisiatif menghadirkan pembelajaran Tari Remo yang lebih menarik dan relevan dengan dunia siswa masa kini melalui media pembelajaran berbasis aplikasi Android.
Dalam penelitian magisternya, Perempuan kelahiran Tulungagung, 6 Juli 1989 ini mengembangkan media pembelajaran digital yang memuat materi Tari Remo secara interaktif.
Aplikasi tersebut berisi informasi tentang sejarah Tari Remo, ragam gerak, iringan musik, hingga video tutorial yang dapat diakses kapan saja melalui gawai.
Dengan pendekatan ini, siswa tidak hanya belajar secara teoritis, tetapi juga dapat mempraktikkan gerakan secara mandiri dengan panduan visual yang jelas.
“Sebagian besar guru seni budaya masih melakukan pembelajaran konvensional yang mengajarkan praktek dengan mencontohkan di kelas dan menggunakan media PPT (Power Point) saja.
Kalaupun ada yang mengunakan media perangkat digital hanya sebatas melalui Youtube maupun TikTok”, tuturnya saat menjelaskan hasil wawancara dengan guru seni budaya tempat ia mengambil penelitian.
“Kekurangan dari pembelajaran seperti itu hanya satu arah saja dan kurang meningkatkan keterampilan siswa dalam pembelajaran tari. Maka dengan begitu dibutuhkanlah sebuah aplikasi yang dapat diakses oleh siswa dimanapun dan kapanpun. Di dalamnya sudah terdapat materi, potongan ragam Gerak, dan video tutorial secara utuh yang juga memuat proyek yang harus dikerjakan oleh siswa sehingga pembelajaran akan lebih terstruktur,” paparnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan teknologi berbasis Android mampu meningkatkan minat dan pemahaman siswa terhadap Tari Remo.
Siswa menjadi lebih antusias mengikuti pembelajaran seni budaya karena media yang digunakan dekat dengan keseharian mereka. Selain itu, pembelajaran berbasis aplikasi dinilai efektif membantu guru dalam menyampaikan materi secara sistematis dan menarik.
Mengambil obyek di salah satu SMK (Sekolah Menengah Kejuruan) di daerah Surabaya, ia berhasil membidik salah satu hal unik lainnya dalam riset yang dilakukan hampir dua tahun ini yaitu mengenai penari yang membawakan Tari Remo.
“Identik dengan siswa putra yang membawakan Tari Remo, maka saya tergerak untuk sekaligus melakukan penelitian mengenai Tari Remo yang dibawakan oleh Perempuan sehingga nantinya siswa putri bisa juga membawakan Tari Remo”, ucapnya saat diwawancarai PWMU.CO sesaat setelah dinyatakan lulus ujian tesis.
Pemilik hobi menari sejak kecil ini juga menegaskan bahwa Tari Remo Putri Gaya Tawi ini sudah mulai kehilangan eksistensinya karena empunya tari (istilah untuk yang mengajarkan tari pertama kalinya) sudah meninggal dan tidak ada penerusnya.
“Dulu pernah dilakukan penelitian dan diajarkan pada guru MGMP (Musyawarah Guru Mata Pelajaran) yang ada di Jombang tapi setelah itu tidak ada tindak lanjutnya”, imbuhnya.
Keberhasilan meraih gelar magister ini tidak hanya menjadi pencapaian akademik pribadi, tetapi juga memberikan kontribusi nyata bagi dunia pendidikan dan pelestarian budaya lokal.
Inovasi pembelajaran yang dikembangkan diharapkan dapat diterapkan secara lebih luas, khususnya di SMP Muhammadiyah 14 Driyorejo Gresik yang ingin mengintegrasikan kearifan lokal dengan teknologi digital.
Pihak Spemia menyampaikan apresiasi atas prestasi tersebut dan berharap inovasi ini dapat menginspirasi guru – guru lain untuk terus berkreasi.
“Selamat atas diraihnya gelar Magister dan semoga bisa memberikan dampak baik kepada dunia pendidikan dan kemajuan SMP Muhamamdiyah 14 Driyorejo Gresik”, kata Muhammad husen Al Asy’ari, S.Pd, Kepala SMP Muhammadiyah 14 Driyorejo Gresik.
Melalui sinergi antara budaya dan teknologi, Tari Remo Putri Gaya Tawi sebagai warisan budaya Jawa Timur diharapkan dapat terus dikenal, dipelajari, dan dilestarikan oleh generasi muda di era digital.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments