Menjadikan sekolah besar, unggul, dan memiliki daya saing tinggi bukanlah perkara mudah. Dibutuhkan keberanian untuk berubah, visi yang kuat, serta ikhtiar berkelanjutan dari seluruh elemen sekolah.
Kesadaran inilah yang kini tengah tumbuh di lingkungan sekolah Muhammadiyah di Kota Kupang, Nusa Tenggara Timur (NTT).
“Sekolah tidak boleh hanya diam dan tidur. Untuk menjadi besar, sekolah harus berani melompat,” tegas Dr. Mulyana, S.Pd, M.Si, motivator dan konsultan pendidikan nasional asal Surabaya, saat memberikan materi motivasi kepada para kepala sekolah, guru, dan karyawan Muhammadiyah di Kupang, Rabu–Kamis (21–22/1/2026).
Dalam paparannya, Mulyana menekankan bahwa kunci utama kebangkitan sekolah terletak pada kepemimpinan kepala sekolah yang visioner.
Menurutnya, pemimpin sekolah tidak cukup hanya menjalankan rutinitas administratif, tetapi harus mampu melahirkan terobosan nyata dan tidak biasa.
“Salah satu tantangan terbesar sekolah hari ini adalah bagaimana mendapatkan kepercayaan masyarakat. Untuk itu, proses SPMB (Sistem Penerimaan Murid Baru) tidak boleh biasa-biasa saja. Harus ada diferensiasi, harus ada nilai lebih yang ditawarkan kepada publik,” ujarnya.
Dia menjelaskan bahwa strategi pemasaran sekolah (school marketing) harus dirancang secara kreatif, berbasis keunggulan nyata, serta mampu menjawab kebutuhan dan harapan orang tua di era kompetisi pendidikan yang semakin ketat.
Kegiatan motivasi dan penguatan kapasitas ini merupakan bagian dari In House Training (IHT) yang diselenggarakan oleh Majelis Dikdasmen Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Kupang.
IHT digelar selama dua hari sebagai langkah strategis untuk meningkatkan kualitas dan kuantitas sekolah Muhammadiyah di wilayah tersebut.
Ketua Majelis Dikdasmen PDM Kota Kupang, Dr. H. Umar Ali, M.Pd., dalam sambutannya menegaskan bahwa kebangkitan sekolah Muhammadiyah tidak akan terwujud jika hanya berpangku tangan.
“Untuk membesarkan sekolah Muhammadiyah di Kupang, kita harus terus berikhtiar dan bekerja keras. IHT ini adalah bagian dari ikhtiar kolektif kita dalam menjawab tantangan zaman,” ungkapnya.
Dia juga menekankan pentingnya sinergi antara persyarikatan dan amal usaha Muhammadiyah. Menurutnya, bahu-membahu seluruh unsur merupakan jembatan penting agar sekolah Muhammadiyah di Kupang mampu segera bangkit, berkembang, dan mengejar ketertinggalan.
Sementara itu, Ketua Pelaksana IHT, Mukhtar Mele, SE, mengaku bersyukur dan antusias atas terselenggaranya kegiatan tersebut. Ia menilai IHT ini memberikan bekal strategis bagi sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kupang untuk melangkah lebih maju.
“Kami sangat senang dengan IHT selama dua hari ini. Harapannya, sekolah Muhammadiyah benar-benar memahami strategi marketing sekolah yang efektif, mampu mendesain keunggulan sekolah, serta menguasai strategi sukses SPMB,” ujarnya.
Mukhtar juga menyampaikan optimisme bahwa melalui penerapan strategi yang tepat, jumlah pendaftar di sekolah Muhammadiyah dapat meningkat secara signifikan, bahkan hingga 200 persen.
IHT ini tidak hanya menjadi ajang transfer ilmu, tetapi juga momentum penyadaran kolektif bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan.
Sekolah Muhammadiyah di Kupang kini dituntut untuk bertransformasi—berani tampil berbeda, menguatkan keunggulan, dan membangun kepercayaan publik secara berkelanjutan.
Dengan semangat ikhtiar, kolaborasi, dan inovasi, sekolah Muhammadiyah di Kupang optimistis dapat bangkit dan berkembang, menjemput masa depan pendidikan yang lebih unggul dan berdaya saing tinggi di NTT. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments