Wilayah Iran, yang dulu bernama Persia, dikenal sebagai pusat lahirnya para jenius. Termasuk saat peradaban Islam mencapai puncaknya sekitar tahun 650 hingga 1250 M. Di daerah ini memunculkan banyak ilmuwan besar yang mengubah sains dunia. Bahkan hingga kini.
Berikut beberapa daftar ilmuwan Iran yang mampu mendorong kemajuan ilmu pengetahuan global. Terutama bidang kedokteran, sains alam, dan metode penelitian.
Ibnu Sina
Nama aslinya adalah Abu Ali al-Husain bin Abdullah bin Sina, dunia Barat lebih mengenalnya sebagai Avicenna. Lahir di Afshanah, dekat Bukhara (sekarang Uzbekistan) pada 980 M dari ibu berdarah Persia.
“Berasal dari Balkh, ayah Ibnu Sina, Abdullah, pindah ke Afshanah dan bertemu istrinya yang berasal dari Persia, Sitara,” begitu tulis Muhammad Moljum Khan dalam buku 100 Muslim Paling Berpengaruh Sepanjang Sejarah halaman 194. Dia meninggal dunia pada Ramadhan 1037 M pada usia 57 tahun dan dimakamkan di Hamadan, Iran.
Dua karya Ibnu Sina yang paling terkenal adalah Kitab asy-Syifa’ dan Al-Qanun fi ath-Thib. Kitab al-Shifa adalah ensiklopedia besar tentang filsafat dan ilmu pengetahuan. Sementara dalam Al-Qanun fi ath-Thib, Ibnu Sina mengklasifikasikan penyakit, menjelaskan anatomi dan gejala penyakit.
Tidak ketinggalan, dia juga menyusun ratusan obat dan metode pengobatan secara sistematis. Buku ini kemudian menjadi rujukan utama di dunia Islam dan Eropa selama berabad-abad.
Al-Razi
Nama aslinya adalah Abu Bakar Muhammad bin Zakaria ar-Razi. Di Barat, dia dikenal dengan nama Rhazes. Ar-Razi lahir pada tahun 865 Masehi di kota Rayy. Kota tersebut terletak di lembah selatan jajaran Dataran Tinggi Alborz yang berada di dekat Teheran, Iran.
Al-Razi merupakan dokter terbesar dalam tradisi medis Islam. Selain sebagai dokter, Al-Razi juga dikenal sebagai filsuf dan alkemis. Dia menulis banyak karya ilmiah di bidang kedokteran, farmasi, dan filsafat. Namanya tercatat dalam sejarah Islam dan dunia Barat sebagai pionir yang membawa perubahan besar dalam pendekatan terhadap dunia medis.
Tokoh yang meninggal pada tahun 925 ini menghasilkan lebih 200 karya tulis. Di antaranya yang monumental adalah “Al-Hawi”, ensiklopedia medis raksasa yang dijadikan rujukan utama di Eropa. Kemudian juga Kitab al-Mansuri yang berisi teks kedokteran. Juga ada Sir al-Asrar, karyanya dalam bidang kimia dan farmasi.
Tidak ketinggalan juga ada Al-Judari wal-Hasbah. Sebuah buku yang membahas tentang cacar dan campak sebagai dua wabah yang berbeda. Buku ini kemudian diterjemahkan belasan kali ke dalam Latin dan bahasa Eropa lainnya.
Al-Biruni
Nama aslinya Abu Raihan Muhammad bin Ahmad Al-Biruni, lahir pada tahun 973 M. Al-Biruni dikenal sebagai salah satu ilmuwan paling serba bisa pada masa keemasan dunia Islam. Keahliannya mencakup banyak bidang sekaligus, seperti astronomi, matematika, geografi, sejarah, antropologi, dan etnografi.
Sepanjang hidupnya, Al-Biruni menulis sangat banyak karya ilmiah. Ia bahkan membuat daftar sendiri atas tulisannya yang mencapai lebih dari seratus judul. Al-Biruni juga melakukan penelitian terhadap sesuatu ilmu pengetahuan yang ‘belum pernah digarap’ oleh ilmuwan sebelumnya.
Salah satu sumbangsih orisinil Al-Biruni adalah keliling bumi, dan meyakini bumi bentuknya bulat. Dia Menghitung keliling bumi dengan akurasi tinggi menggunakan pendekatan trigonometri, serta membahas teori rotasi bumi. Tak heran jika Al-Biruni adalah sosok yang berperan penting di dunia matematika. Khususnya pengembangan trigonometri, yaitu konsep sinus, cosinus, tangen.
Al-Khawarizmi
Nama lengkapnya adalah Abu Abdullah Muhammad bin Musa Al-Khawarizmi, lahir pada tahun 780 M. Di dunia Barat, namanya dikenal dalam berbagai bentuk, seperti Algoritmi, Algorismus, atau Algorithm, yang kemudian melahirkan istilah “algoritma”.
Jadi, Algoritma yang dikenal dalam matematika adalah sebutan dunia Barat untuk Al-Khawarizmi. Semasa Khalifah Harun Al-Rasyid (786–809 M) dari Bani Abbasiyah, Al-Khawarizmi dipercaya sebagai bagian dari Bayt Al-Hikmah. Salah satu karya monumentalnya adalah Al-Jabr wa’l-Muqabala, sebuah buku dasar aljabar yang memperkenalkan solusi sistematis untuk persamaan linear dan kuadrat.
Penemuan luar biasa Al-Khawarizmi yang masih terpakai hingga kini adalah memperkenalkan sistem bilangan desimal dan pentingnya angka nol (0). Coba banyangkan jika tidak ada angka 0, mungkin umat manusia kesulitan untuk menulis angka di atas ribuan. Seperti angka Romawi misalnya, sudah ada kesulitan untuk menulis angka 50 ke atas!
Umar Khayam
Nama aslinya adalah Ghiyath al-Din Abu al-Fath Umar ibn Ibrahim al-Nisaburi al-Khayyami. Lahir pada tahun 1048 M, dia meninggal pada tahun 1131 M di Nishabur, Iran. Ia terkenal karena observasi astronominya, meski ada juga yang mengenalnya sebagai penyair.
Pada 1073, Malik-Syah, penguasa Isfahan (Iran), mengundang Khayyam untuk membangun dan bekerja pada sebuah observatorium. Tentu saja bersama-sama dengan sejumlah ilmuwan terkemuka lainnya pada zamannya. Salah satu temuan pentingnya adalah keakuratannya dalam menghitung durasi satu tahun. Dengan sangat akurat, dia mengoreksi hingga enam digit di belakang koma untuk mengukur lamanya satu tahun: 365,24219858156 hari.
Sebagai seorang matematikawan, dia paling terkenal karena karyanya pada klasifikasi dan solusi persamaan kubik. Dia memberikan solusi geometris dengan perpotongan kerucut.






0 Tanggapan
Empty Comments