Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Literasi Keilmuan Islam Sebagai Jangkar Akal dan Iman

Iklan Landscape Smamda
Literasi Keilmuan Islam Sebagai Jangkar Akal dan Iman
Oleh : Maftuhah, M.Pd. Dosen STIT Muhammadiyah Paciran
pwmu.co -

Di era ketika kecepatan jari kerap melampaui ketajaman akal, dan linimasa media sosial lebih dipercaya ketimbang kitab suci, manusia modern seolah terjebak dalam pusaran informasi yang bising tanpa henti.

Berita datang silih berganti dalam hitungan detik, opini bersimpang siur tanpa kendali, dan tafsir keagamaan sering kali lahir dari rahim instan tanpa melalui proses kesabaran ilmiah.

Di tengah arus deras inilah, literasi keilmuan Islam menemukan relevansi vitalnya—bukan sekadar sebagai keterampilan teknis membaca, melainkan sebagai ikhtiar eksistensial untuk menjaga akal dan iman agar tetap berpijak pada hikmah.

Literasi dalam Islam sejatinya bukanlah konsep baru yang asing.

Wahyu pertama yang menyapa kemanusiaan melalui lisan Rasulullah SAW adalah perintah membaca: Iqra’.

Sebuah kata sederhana, namun mengandung muatan teologis dan epistemologis yang sangat dalam.

Membaca dalam konteks ini bukan hanya mengeja huruf di atas kertas, melainkan sebuah perintah untuk membedah realitas, memahami jati diri, dan menafsirkan tanda-tanda zaman.

Ironisnya, di era digital ini, aktivitas membaca sering kali tereduksi menjadi sekadar gerakan menggulir layar (scrolling): cepat, dangkal, dan tergesa-gesa.

Informasi ditelan mentah-mentah tanpa dikaji, lalu disebarkan secara masif tanpa verifikasi.

Di sinilah titik mula dari berbagai problem keumatan. Isu-isu keagamaan kontemporer hadir dengan kompleksitas yang tinggi: dari radikalisme yang mengeras, tantangan moderasi beragama, klaim kebenaran tunggal yang hegemonik, hingga banalitas agama di ruang digital yang hanya mengejar statistik “suka” dan “bagikan”.

Semua fenomena ini menuntut respons yang tidak emosional, melainkan intelektual; tidak reaktif-konfrontatif, melainkan reflektif-solutif.

Literasi keilmuan Islam menjadi kunci utama agar umat tidak mudah terseret arus sentimen sesaat, apalagi terjebak dalam narasi keagamaan yang miskin dalil serta kehilangan konteks sosiologis.

Ia adalah kesanggupan untuk memahami teks secara holistik, membedah latar belakang sejarahnya (asbabun nuzul atau asbabul wurud), serta mengontekstualisasikannya dengan realitas kekinian yang dinamis.

Literasi ini menuntut ketekunan akademik, kerendahan hati intelektual, dan keberanian untuk berpikir kritis-objektif.

Dalam proses tersebut, iman dan ilmu tidak diposisikan sebagai dua kutub yang bertentangan, melainkan dua sayap yang saling menguatkan untuk membawa manusia menuju derajat yang lebih mulia.

Allah SWT secara eksplisit menjanjikan derajat yang tinggi bagi mereka yang beriman dan berilmu.

Namun, ilmu yang dimaksud bukanlah pengetahuan yang mandek pada hafalan atau koleksi gelar.

Ilmu yang sejati adalah ilmu yang “hidup”—ilmu yang membimbing perilaku dan melahirkan akhlakul karimah, bukan sekadar memicu perdebatan kusir yang sia-sia.

Literasi keilmuan Islam, dengan demikian, berfungsi ganda: ia mencerdaskan pikiran sekaligus melembutkan nurani.

Fenomena “ustadz dadakan” di ruang digital menjadi tantangan tersendiri.

Potongan ayat dan hadis beredar tanpa sanad keilmuan yang jelas, sering kali dipangkas demi kepentingan durasi atau provokasi.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Ketika agama direduksi menjadi sekadar slogan dan sensasi visual, literasi keilmuan hadir sebagai penyeimbang yang otoritatif.

Ia mengajarkan wara’ (kehati-hatian) dalam berpendapat, adab dalam menyikapi perbedaan, serta kesadaran bahwa kebenaran sejati tidak selalu lahir dari suara yang paling nyaring.

Bagi generasi muda Muslim, khususnya mahasiswa, literasi ini adalah bekal mutlak untuk menavigasi masa depan.

Generasi ini tidak cukup hanya menjadi religius secara ritual, tetapi harus rasional secara intelektual; tidak cukup saleh secara personal, tetapi harus peka dan kontributif secara sosial.

Literasi ini membentuk karakter generasi yang mampu berdialog secara bermartabat dengan peradaban global tanpa harus kehilangan identitas keislamannya yang substansial.

Lebih jauh lagi, literasi keilmuan Islam mendorong umat untuk bertransformasi dari konsumen informasi menjadi produsen gagasan.

Sejarah emas Islam mencatat bahwa peradaban mulia dibangun melalui tradisi literasi yang kokoh—membaca, menulis, dan berdialektika secara kritis.

Literasi yang kuat akan menjadikan umat Islam sebagai kontributor aktif dalam pembangunan peradaban, bukan sekadar penonton di pinggiran sejarah.

Dalam konteks ini, peran institusi pendidikan, organisasi otonom seperti Muhammadiyah, hingga media komunitas menjadi sangat strategis.

Budaya iqra’ harus dihidupkan kembali melalui ruang-ruang diskusi yang sehat dan literasi digital yang beretika.

Teknologi tidak perlu dijauhi karena takut akan fitnahnya, melainkan harus ditaklukkan dan diarahkan untuk menebar kemaslahatan.

Media sosial harus diisi dengan konten yang mencerahkan, bukan sekadar menambah kebisingan.

Muhammadiyah, melalui spirit Islam Berkemajuan, telah lama menanamkan bahwa Islam adalah agama yang mencerahkan, bukan mengeraskan; membebaskan, bukan membelenggu.

Literasi keilmuan Islam sejalan dengan visi tersebut: mengajak umat untuk berpikir jernih, bersikap adil (wasathiyah), dan bertindak solutif di tengah kerumitan persoalan modernitas.

Pada akhirnya, literasi keilmuan Islam adalah sebuah perjalanan panjang tanpa henti. Ia tidak akan tuntas hanya melalui satu seminar atau satu kurikulum formal.

Ia adalah laku hidup (way of life): membaca dengan adab, berpikir dengan rendah hati, dan bertindak dengan hikmah.

Di tengah derasnya badai isu modern, literasi inilah jangkar yang menjaga kita agar tidak hanyut dalam kedangkalan, sekaligus menjadi layar yang menuntun umat menuju pelabuhan peradaban yang mulia dan bermartabat.

Sebab, di zaman yang terlalu gaduh oleh suara manusia, literasi mengajarkan kita untuk kembali mendengar suara Tuhan dan nurani.***

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu