Transformasi digital oleh Muhammadiyah melalui peluncuran aplikasi MASA dan fitur eKATAM merupakan langkah maju yang patut mendapatkan apresiasi yang besar.
Di tengah percepatan teknologi global, Muhammadiyah kembali membuktikan jati diri sebagai organisasi Islam yang adaptif, modern, dan inklusif.
Inovasi ini menyederhanakan birokrasi yang selama ini sering kali terkesan kaku.
Namun, di balik daya kemudahan akses tersebut, terselip sebuah kegelisahan yang fundamental dan tidak mungkin untuk diabaikan, yaitu: “apakah kemudahan menjadi anggota berisiko menggerus kualitas keanggotaan itu sendiri?”
Kekhawatiran ini bukanlah sebuah skeptisisme tanpa dasar.
Melalui sistem pendaftaran digital, seseorang kini dapat resmi menyandang status anggota Muhammadiyah hanya dalam hitungan menit.
Prosesnya berlangsung senyap; tanpa interaksi tatap muka, tanpa pengenalan mendalam, bahkan nyaris tanpa verifikasi menyeluruh terkait rekam jejak personal calon pendaftar.
Dalam perspektif administratif, ini adalah puncak efisiensi.
Namun, bagi organisasi berbasis ideologi seperti Muhammadiyah, efisiensi teknis tidak selalu sejalan dengan keteguhan prinsip.
Muhammadiyah, sejak awal berdirinya, bukan sekadar sebagai organisasi massa yang mengejar kuantitas statistik.
Organisasi ini gerakan dalam jalan dakwah dan tajdid yang denyut nadinya bertumpu pada integritas nilai.
Keanggotaan dalam Muhammadiyah bukan sekadar kepemilikan nomor induk, melainkan sebuah tanggung jawab besar atas representasi moral dan ideologis.
Ketika seseorang memegang kartu anggota, ia secara otomatis menjadi “wajah” bagi organisasi di mata publik.
Di sinilah letak problematikanya, tanpa mekanisme verifikasi yang memadai—baik menyangkut riwayat hidup maupun integritas sosial—pintu masuk bagi individu dengan latar belakang bermasalah menjadi terbuka lebar.
Di era keterbukaan informasi saat ini, satu perilaku menyimpang dari seorang anggota dapat dengan cepat viral dan mencederai marwah persyarikatan secara kolektif.
Identitas personal kini tak lagi bisa dipisahkan dari identitas institusional yang melekat padanya.
Fenomena ini menjadi kian kompleks saat dipertemukan dengan tren “Log In Muhammadiyah” yang tengah marak di kalangan generasi muda.
Istilah ini awalnya melambangkan kesadaran intelektual untuk mengadopsi manhaj Muhammadiyah yang rasional.
Namun, ketika gagasan besar ini hanya difasilitasi oleh fitur “sekali klik” di eKATAM, ada risiko pergeseran makna yang mengkhawatirkan: dari sebuah “kesadaran batin yang mendalam” menjadi sekadar “formalitas pendaftaran digital.”
Jika transisi ini tidak dikawal, kita akan menyaksikan lahirnya keanggotaan yang bersifat simbolik belaka, tidak substantif.
Seseorang mungkin memiliki eKATAM di ponselnya, namun hatinya belum tentu terpaut pada Matan Keyakinan dan Cita-Cita Hidup Muhammadiyah (MKCH).
Kesenjangan antara lonjakan jumlah anggota dan kedalaman kualitas kader akan menjadi bom waktu bagi keberlangsungan gerakan di masa depan.
Tentu saja, digitalisasi bukanlah musuh yang harus dijauhi. Digitalisasi adalah keniscayaan peradaban.
Yang dibutuhkan saat ini adalah penyempurnaan sistem agar teknologi tetap tunduk pada prinsip organisasi.
Pertama, perlu dan pentingnya mekanisme verifikasi berlapis. Status keanggotaan digital sebaiknya bersifat sementara (calon anggota) hingga ada konfirmasi faktual dari struktur Pimpinan Cabang atau Ranting setempat. Ruang perkenalan personal secara fisik tetap harus terjaga eksistensinya.
Kedua, integrasi mutlak antara eKATAM dengan sistem kaderisasi. Anggota baru idealnya wajib mengikuti modul pembinaan dasar secara daring maupun luring, seperti Baitul Arqam dan pengajian terstruktur lainnya, sebagai syarat aktivasi kartu anggota penuh.
Keharusan ini tidak sekadar untuk pemenuhan formalitas belaka, namun upaya untuk memberikan penguatan pondasi ideologi.
Ketiga, penguatan standar etik sejak awal pendaftaran melalui pakta integritas digital yang tegas. Perlu kita pahami bersama bahwa menjadi anggota Muhammadiyah itu tidak sekadar memiliki hak, tetapi juga tanggungjawab moral.
Terakhir, aplikasi MASA harus bertransformasi menjadi platform edukasi yang menyediakan akses literasi mengenai sejarah dan manhaj gerakan secara berkelanjutan. Aplikasi ini dapat dikembangkan sebagai platform pembelajaran yang berisi materi tentang manhaj, sejarah, dan nilai-nilai Muhammadiyah.
Pada akhirnya, tantangan eKATAM adalah ujian keseimbangan antara aksesibilitas dan kedalaman komitmen.
Kita tentu merindukan setiap individu yang “masuk” ke Muhammadiyah bukan sekadar angka dalam database pusat, melainkan jiwa yang siap bergerak.
Sebab, kekuatan sejati Muhammadiyah tidak pernah terletak pada tumpukan kartu anggota, melainkan pada militansi, integritas, dan pengabdian nyata para kadernya di tengah masyarakat.***





0 Tanggapan
Empty Comments