Langkah saya dari Jawa Timur menuju Jambi pada akhir Oktober 2025 lalu diiringi satu bekal utama: logika. Sebagai Fasilitator Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA) PP Muhammadiyah, saya membawa amanah untuk membagikan materi teknis, struktur berpikir, dan algoritma kepada para pendidik hebat di garda terdepan: para guru PAUD Aisyiyah se-Provinsi Jambi.
Selama lima hari, Rabu hingga Ahad (29 Oktober – 2 November 2025), suasana di BPMP Provinsi Jambi terasa hangat dan sarat antusiasme. Kami berkumpul dalam Bimbingan Teknis (Bimtek) Pembelajaran Mendalam, KKA, dan Penguatan Pendidikan Karakter dengan agenda yang padat dan menantang.
Membedah Kurikulum, Menyisipkan Logika
Tugas kami jelas: bagaimana mengintegrasikan Computational Thinking (CT) atau berpikir komputasional ke dalam denyut nadi pembelajaran PAUD? Tentu saja, ini bukan tentang menempatkan anak-anak usia dini di depan laptop untuk belajar coding baris demi baris. Ini adalah tentang menanamkan fondasi berpikir yang runut.
Kami memulainya dari akar. Kami mengulas kembali cara membuat Rencana Tahunan (Prota), menyusun Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Mingguan (RPPM), hingga menurunkannya menjadi Rencana Pelaksanaan Pembelajaran Harian (RPPH).
Tantangan utamanya adalah di sini. Bagaimana menyisipkan konsep KKA—seperti dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma—ke dalam RPPH yang berbasis tema dan permainan? Kami mendiskusikan metode unplugged coding (koding tanpa gawai), menggunakan permainan tradisional, gerak lagu, dan instruksi sederhana untuk melatih logika anak.
Kami juga mendalami teknik asesmen yang otentik untuk melihat perkembangan berpikir runut anak, hingga bagaimana menuangkannya dalam pelaporan hasil belajar yang komprehensif. Secara teknis, materi tersampaikan. Para guru dengan tekun menyusun RPPH baru mereka, kini dengan sentuhan “logika” koding. Namun, di tengah diskusi teknis itulah, saya justru menemukan sebuah pemahaman yang jauh lebih dalam.
Saya datang untuk mengajar, namun saya pulang dengan membawa pelajaran berharga. Pelajaran tentang Dekomposisi Cinta.
Salah satu pilar CT adalah dekomposisi, yaitu kemampuan memecah masalah besar yang rumit menjadi bagian-bagian kecil yang lebih mudah dikelola. Saya bersiap menjelaskan konsep ini dengan contoh-contoh teknis.
Namun, saya keliru. Di tanah Jambi yang ramah, saya menyaksikan bagaimana para guru PAUD ini adalah ahli dekomposisi yang sesungguhnya. Mereka adalah ahli mengurai hal paling rumit—yaitu dunia—menjadi tawa dan pelukan sederhana untuk anak didik mereka.
Mereka “mendekomposisi” emosi tantrum menjadi kebutuhan dasar yang belum terpenuhi; mereka mengurai konsep “alam semesta” menjadi selembar daun kering di halaman sekolah.
Mereka telah membuktikan bahwa fondasi berpikir runut yang paling kokoh bukanlah rumus, melainkan cinta yang tanpa batas. Terima kasih atas pelajaran teduh ini.
Algoritma Terindah Bernama Kesabaran
Kami berdiskusi tentang algoritma: serangkaian instruksi langkah-demi-langkah yang harus diikuti untuk menyelesaikan tugas. Saya membawa logika tentang urutan yang presisi.
Namun, apa yang saya temukan dari Jatim, saya membawa bekal logika, namun di Jambi saya menemukan pola-pola ketulusan yang menyejukkan jiwa.
Para guru PAUD di sini telah mengajarkan saya algoritma terindah: sebuah langkah sabar yang merajut hati, membangun fondasi masa depan. Algoritma mereka bukanlah “Jika A maka B”. Algoritma mereka adalah “Jika anak jatuh, peluk dulu, tenangkan, baru ajak bicara.” Itu adalah algoritma kesabaran yang diulang tanpa lelah, sebuah proses looping (perulangan) yang tidak bertujuan untuk menciptakan mesin, tetapi untuk menumbuhkan manusia. Kenangan ini akan selalu menjadi kompas hati saya.
Abstraksi dalam Mata Murni Sang Anak
Terakhir, kami membahas abstraksi. Dalam koding, ini adalah proses menyaring detail yang tidak perlu dan fokus pada inti masalah. Kita mengabaikan “warna tombol” dan fokus pada “fungsi tombol”.
Lagi-lagi, saya belajar dari mereka.
Langkah dari Jatim membawa saya pada logika, namun langkah di Jambi menuntun saya pada akarnya. Bersama mereka, para penjaga tunas bangsa, saya belajar bahwa abstraksi terbaik adalah melihat dunia lewat mata murni sang anak.
Para guru ini adalah master abstraksi. Mereka mampu menyaring kebisingan dunia orang dewasa dan fokus pada hal terpenting bagi seorang anak: rasa aman, rasa ingin tahu, dan rasa diterima. Mereka tidak membebani anak dengan kerumitan dunia, tetapi menyajikan esensinya: bahwa belajar itu menyenangkan.
Logika yang Menemukan Hatinya
Lima hari di Jambi telah usai. Saya mungkin telah berbagi tentang cara teknis mengintegrasikan koding dalam RPPH, atau bagaimana asesmen berpikir runut dapat dicatat dalam pelaporan.
Namun, para guru PAUD Aisyiyah Jambi telah memberi saya lebih banyak. Mereka mengingatkan saya bahwa setinggi apa pun teknologi kecerdasan artifisial dirancang, fondasinya tetaplah kecerdasan manusiawi.
Saya pulang ke Jawa Timur dengan membawa keyakinan baru. Bahwa logika tanpa hati adalah mesin yang dingin. Namun logika yang bertemu dengan ketulusan—seperti yang saya saksikan di Jambi—adalah kekuatan yang membangun peradaban. Kenangan ini akan hidup sebagai pelajaran tentang logika hati. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments