Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

LP2M PP Muhammadiyah Zona 1 Jawa Timur Gelar Pembinaan Pesantren di Pondok Pesantren An Nur Sidoarjo

Iklan Landscape Smamda
LP2M PP Muhammadiyah Zona 1 Jawa Timur Gelar Pembinaan Pesantren di Pondok Pesantren An Nur Sidoarjo
LP2M PP Muhammadiyah Zona 1 Jawa Timur Gelar Pembinaan Pesantren di Pondok Pesantren An Nur Sidoarjo. Foto: Istimewa/PWMU.CO
pwmu.co -

Lembaga Pembinaan Pesantren Muhammadiyah (LP2M) Pimpinan Pusat Muhammadiyah Zona 1 Wilayah Jawa Timur menggelar kegiatan Pembinaan Pesantren Muhammadiyah pada Ahad (8/2/2026), bertempat di Pondok Pesantren Muhammadiyah An Nur Sidoarjo.

Kegiatan ini menjadi ruang konsolidasi strategis bagi pesantren-pesantren Muhammadiyah dalam menjawab tantangan zaman sekaligus memperkuat identitas keislaman dan keilmuan.

Zona 1 LP2M Jawa Timur meliputi wilayah Sidoarjo, Sumenep, Mojokerto, Jombang, Malang, Pasuruan, Banyuwangi, Jember, Nganjuk, Kediri, Lumajang, dan Bondowoso. Para pimpinan pesantren, pengelola, serta perwakilan amal usaha Muhammadiyah dari berbagai daerah tampak antusias mengikuti agenda pembinaan yang sarat dengan gagasan dan refleksi strategis tersebut.

Kegiatan diawali dengan sambutan sekaligus pembukaan resmi oleh Ketua LP2M Pimpinan Pusat Muhammadiyah, Ustadz Dr. Maskhuri, M.Ed. Dalam pemaparannya, ia menegaskan bahwa pembinaan pesantren pada periode ini menjadi sangat penting karena masih banyak kebijakan dan arah strategis LP2M yang belum sepenuhnya dipahami hingga level bawah.

“Periode kepemimpinan ini masih kurang lebih satu tahun tujuh bulan. Banyak kebijakan yang belum sepenuhnya dipahami oleh pesantren di daerah. Karena itu, LP2M perlu turun ke bawah (turba) agar visi dan kebijakan bisa dipahami secara utuh,” tegasnya.

Ia juga menyoroti perkembangan pesantren Muhammadiyah yang sangat pesat dalam beberapa tahun terakhir. Namun, menurutnya, pertumbuhan tersebut harus diimbangi dengan kesiapan sumber daya manusia (SDM).

“Problem utama pesantren Muhammadiyah hari ini adalah ketimpangan antara pertumbuhan lembaga dengan kesiapan SDM,” ujarnya.

Dalam konteks peningkatan kualitas, Ustadz Maskhuri menekankan pentingnya penguatan bahasa Arab dan bahasa Inggris sebagai kebutuhan mutlak pesantren masa kini. Selain itu, ia juga menyoroti urgensi kemampuan santri dan pengasuh dalam membaca dan memahami kitab-kitab turats (khutub thurats) sebagai fondasi keilmuan pesantren.

“Pesantren Muhammadiyah harus melahirkan santri yang kokoh dalam tradisi keilmuan Islam, tetapi juga memiliki kapasitas global,” tambahnya.

Sementara itu, Dr. Pradana Boy ZTF, Ph.D, selaku Ketua LP2M Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Timur, menyampaikan materi utama terkait arah dan tantangan pesantren Muhammadiyah. Dalam paparannya, ia mengangkat pertanyaan fundamental: mengapa Muhammadiyah harus mendirikan dan mengembangkan pesantren?

Menurutnya, perkembangan pesantren di lingkungan Muhammadiyah saat ini menunjukkan tren yang sangat positif. Hal ini tidak terlepas dari latar belakang pimpinan Muhammadiyah yang banyak berasal dari kalangan cendekiawan dan intelektual.

“Karena itu, Muhammadiyah tidak boleh berhenti hanya mencetak intelektual Muslim, tetapi juga harus mencetak ulama yang berkualitas, ulama yang berilmu, berpikir maju, dan mampu menjawab persoalan umat,” jelasnya.

Ia juga menyebutkan beberapa faktor lain yang mendorong berdirinya pesantren Muhammadiyah, di antaranya faktor politik dan pergeseran tren pendidikan masyarakat kelas menengah ke atas yang mulai kembali melirik pesantren sebagai pilihan utama pendidikan anak.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Namun demikian, Dr. Pradana Boy menegaskan bahwa pesantren Muhammadiyah juga menghadapi tantangan serius, baik dari sisi internal maupun eksternal. Tantangan internal meliputi sinergi kelembagaan, keselarasan kurikulum, serta kolaborasi antar pesantren Muhammadiyah agar tidak berjalan sendiri-sendiri.

LP2M PP Muhammadiyah Zona 1 Jawa Timur Gelar Pembinaan Pesantren di Pondok Pesantren An Nur Sidoarjo. Foto: Istimewa/PWMU.CO

Adapun tantangan eksternal, lanjutnya, datang dari tradisi pendidikan lama, dinamika tren pendidikan nasional dan global, serta munculnya paham keagamaan yang ekstrem dan instan yang berpotensi memengaruhi cara berpikir generasi muda.

“Pesantren Muhammadiyah harus hadir sebagai penyeimbang: kuat dalam manhaj keislaman, moderat, dan berkemajuan,” tegasnya.

Pandangan senada disampaikan oleh Ketua PWM Jawa Timur Bidang Pesantren, Dr. Samsudin, M.Ag. Ia mengungkapkan data perkembangan pesantren Muhammadiyah di Jawa Timur yang menunjukkan pertumbuhan signifikan. Untuk Zona 1 sendiri, tercatat sekitar 46 pesantren, sementara Zona 2 yang akan melaksanakan pembinaan di Bojonegoro diperkirakan memiliki sekitar 56 pesantren.

Dr. Samsudin menekankan bahwa pesantren Muhammadiyah saat ini tidak lagi hanya menjadi tempat mempelajari ilmu-ilmu agama semata, tetapi juga menjadi ruang pengembangan ilmu-ilmu akademik dan sains.

“Semua potensi santri harus diapresiasi. Harapannya, dari pesantren ini lahir ilmuwan-ilmuwan hebat yang tetap paham agama,” ujarnya.

Meski demikian, ia mengingatkan agar pesantren tetap selektif dalam mengikuti perkembangan zaman.

“Pesantren boleh mengikuti tren, tetapi pembelajaran agama harus tetap menjadi prioritas utama. Muhammadiyah didirikan oleh seorang ulama dan dibangun di atas pilar-pilar Islam,” tandasnya.

Kegiatan pembinaan ini menjadi momentum penting bagi Pondok Pesantren Muhammadiyah An Nur Sidoarjo sebagai tuan rumah, sekaligus menjadi ruang refleksi bersama untuk memperkuat peran pesantren Muhammadiyah dalam mencetak generasi yang alim, berilmu, berakhlak, dan berkemajuan.

Dengan semangat kolaborasi dan pembinaan berkelanjutan, LP2M berharap pesantren Muhammadiyah di Jawa Timur mampu terus berkembang, adaptif terhadap zaman, namun tetap kokoh pada nilai-nilai Islam dan cita-cita persyarikatan.

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu