Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

M. Natsir dan Tokoh Tokoh Muhammadiyah dalam Mempersatukan Ummat dengan Dakwah

Iklan Landscape Smamda
M. Natsir dan Tokoh Tokoh Muhammadiyah dalam Mempersatukan Ummat dengan Dakwah
pwmu.co -

Dewan Dakwah dan Muhammadiyah

M. Natsir. (Istimewa/PWMU.CO)
M. Natsir. (Istimewa/PWMU.CO)

Sebelumnya, Natsir bersama beberapa ulama lainnya, telah berhasil mendirikan Dewan Dakwah Islamiyyah Indonesia (Dewan Dakwah) 26 Februari 1967 sebagai wadah persatuan dan mempersatukan ummat.

Tokoh tokoh yang berkumpul dalam organisasi Dewan Dakwah, antara lain Natsir, berlatar belakang dari Persatuan Islam (Persis) dapat bersatu dan bekerja sama dalam ber dakwah dengan Prof Dr HM Rasyidi (Yogyakarta), Buya Malik Ahmad (Minangkabau), KH. Hasan Basri (Kalimantan Selatan) dan Dr Anwar Harjono SH (Lulusan Mualimin Muhammadiyah Yogyakarta asal Sidoarjo).

Semua berasal dari Persyarikatan Muhammadiyah; KH Abdullah Syafei (Jakarta Selatan), KH Noer Aly (Bekasi) alim ulama dan pengasuh Pondok Pesantren; H. Afandi Ridwan (Bandung) dari Persatuan Ummat Islam (PUI), Moh. Soleman (Tidore, Maluku Utara); Osman Ralibi (Aceh) dan lain lain.

Tokoh tokoh Muhammadiyah cukup aktif dan setia dalam mendampingi Natsir dalam gerakan Dakwah melalui Dewan Dakwah. Seperti Prof Rasyidi, sempat menjadi Ketua Kolektif Kolegial Dewan Dakwah melanjutkan kepemimpinan pasca wafatnya Natsir. Dr. Anwar sebagai Ketua Harian setelah wafatnya Prof Rasyidi, ditetapkan sebagai Ketua Umum Dewan Dakwah. Ketua ketua umum selanjutnya yang berasal dari Muhammadiyah adalah Drs. H. Cholil Badawi (Magelang) dan H. Syuhada Bahri (Banten) mantan Wakil Ketua PC Muhammadiyah Tanah Abang III, Bendungan Hilir, Jakarta Pusat.

Dewan Dakwah sendiri hingga saat ini masih menjalankan fungsinya, antara lain sebagai perekat ukhuwah islamiah sebagai langkah persatuan ummat melalui Dakwah. Bahkan kepengurusannya hingga kini mencerminkan dari berbagai latar belakang organisasi dan faham yang berbeda beda.

Di badan Pembina ada Prof Dr Didin Hafidhuddin MSc (Bogor) dari BKSPPI/Ibnu Khaldun, Mashadi Sulthoni MA (Minang) dari Perti, Natsir Zubaedi (Klaten) dari KBPII, Dr Abdullah Hehamahua SH (Ambon) dari KAHMI/Masyumi dan Dr Anwar Abbas MA (Muhammadiyah/MUI).

Di badan pengurus Dr Adian Husaini MA (Ketua Umum) asal Bojonegoro, dari Majelis Ulama  Muda Indonesia (MIUMI) dan pernah aktif di Majlis Tabligh PP Muhammadiyah, Drs Avid Solihin MM (Sekretaris Umum) asal Tasikmalaya, pernah aktif dalam Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Dr Nur Kertapati MA (Waketum), dari HMI dan Al Irsyad Al Islamiyyah, Dr Imam Zamroji (Waketum), asal Tulung Agung, dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU), Teten Romli Qomaruddin (Majlis Fatwa dan Pengkajian), asal Garut dari Persis, dan lainnya.

Mempersatukan Ummat dengan Dakwah

Karena itu bagi Natsir mempersatukan ummat bukan hanya ada dalam dunia ide dan pemikiran saja, seperti yang disampaikan dan ditulisnya dalam buku “Mempersatukan ummat”. Bagi beliau mempersatukan ummat sudah menjadi bagian dari perjuangannya dalam Dakwah sejak beliau aktif di Persis. Bahkan telah dilakukannya, baik melalui gerakan Dakwah struktural pada saat aktif dalam Partai Islam Masyumi dan ketika berada dalam pemerintahan Republik Indonesia (RI).

Natsir kini dikenal sebagai bapak NKRI. Beliau pun kemudian berusaha sungguh-sungguh mewujudkannya lewat Dakwah kultural, melalui Dewan Dakwah dan Forum Ukhuwah Islamiyyah (FUI) yang dibentuknya bersama ulama lainnya. Dalam bukunya “Mempersatukan ummat” Natsir memberikan beberapa fondasi dan langkah- langkah strategis dalam mempersatukan ummat Islam, baik di tingkat nasional maupun global

Iklan Landscape UM SURABAYA

Diantaranya Natsir mengemukakan pentingnya iman dalam mempersatukan ummat. Awalnya beliau bertanya kenapa ummat Islam tidak bersatu? Lalu beliau memberikan jawaban dan solusinya berkaitan dengan iman, berdasarkan firman Allah, “Sesungguhnya orang orang mu’min itu bersaudara” (QS. Al Hujurat:11).

Menurutnya iman ini yang perlu ditumbuhkan dalam setiap diri ummat Islam apalagi para pemimpinnya dalam makna menurut Natsir sebagai berikut: Satu, keimanan yang menjelma berupa ‘ubudiyah yang tertib dan khusyu’ kepada Allah, dalam amal saleh, tingkah laku dan Budi pekerti yang bermutu tinggi dalam pergaulan sehari-hari dengan sesama muslim khususnya dan sesama anggota masyarakat umumnya.

Dua, keimanan yang meletakkan tuntunan Allah dan Rasul sebagai petunjuk dalam menentukan sikap dan langkah, bila berhadapan dengan tiap-tiap masalah duniawiyah dan Ubudiyah.

Tiga, keimanan yang menjadikan si pemiliknya mampu untuk mengendalikan hawa dan nafsu, dan menempatkannya pada ketentuan Allah dan Rasul, tempat memulangkan segala persoalan yang diperselisihkan.

Setelah memberikan tiga panduan tentang pentingnya keimanan dalam mempersatukan ummat Natsir menegaskan apabila masalah ini diabaikannya. “Apabila keimanan yang demikian itu hilang, atau lemah di kalangan ummat Islam, atau dikalangan sebagian dari padanya, maka rasa bersaudara akan hilang, atau lemah pula. Terlampau lemah untuk menjadi ikatan pemersatu ummat,” tegasnya (*)

Editor Amanat Solikah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu