Sebanyak dua puluh empat mahasiswa kuliah kerja nyata (KKN) Universitas Ahmad Dahlan (UAD) Yogyakarta yang tengah bertugas di Desa Setail pada Sabtu (16/8/2025) mengikuti serangkaian renungan malam menjelang detik-detik peringan Agustus di Dusun Jalen II, Desa Setail, Genteng, Banyuwangi.
Sejak dari awal dalam rangka persiapan acara pelaksanaan renungan malam Desa Setail seluruh mahasiswa UAD melibatkan diri turut membantu panitia pemerintah desa (Pemdes) menyiapkan segala sesuatunya, mulai mempersiapkan tenda, menggelar karpet, memasang tenda dan keperluan lainnya.
“Acara renungan malam diadakan setiap tahun yang pelaksanaannya menjelang malam HUT RI, kami mewakili pemerintah desa sekaligus sebagai warga masyarakat akan selalu melaksanakan kegiatan semacam ini dalam rangka mengenang jasa dua pahlawan perjuangan yang berasal dari Desa Setail yaitu gugur di tempat ini karena penghianatan oleh bangsanya sendiri,”
“Kedua pahlawan kita adalah bapak Baderun dan bapak Samiran yang saat ini nama beliau kita abadikan sebagai dua jalan utama desa,” ujar Moh. Faizin selaku ketua panitia yang juga menjabat sekretaris Desa Setail.
Setelah serangkain acara seremonial malam renungan berakhir, dilanjutkan dengan pemutaran film dokumenter perjuangan sekitar lima belas meni,t kemudian disambung sambutan tokoh masyarakat Penasehat Pimpinan Ranting Muhammadiyah (PRM) Jalen, Genteng, Banyuwangi, H Moch. Socheh yang juga mantan kepala desa dua periode tahun 1986-1991 dan 1994-1997.
Dalam sambutannya, H. Socheh mengupas sejarah peristiwa tewasnya Baderun dan Samiran, berdasarkan peristiwa sejarah bahwa pada tahun 1945 bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada masa penjajahan Jepang, namun setelah Jepang jatuh pada tahun 1947 sampai 1948 Belanda ingin kembali menjajah Indonesia yang kita kenal dengan agresi militer.
Pada peristiwa agresi inilah Belanda mengawali menumpas mantan pejuang-pejuang/veteran yang sudah tidak aktif di kesatuannya dengan harapan ketika Belanda berkuasa lagi para tentara Indonesia sudah lemah dan untuk memburu para veteran.
“Belanda memanfaatkan para penghinat bangsa sebagai mata-mata, dan dari kejahatan orang-orang munafik itulah bapak Baderun dan Samiran diberondong peluru tentara Belanda di sekitar tempat ini,” ungkap H. Socheh panjang lebar.
Salah satu mahasiswi KKN UAD, Siti Nuraisyah Ramadhani asal dari Pakanbaru wajahnya tampak tegang rasa haru menyelimuti perasannya setelah mendengarkan kisah dua pejuang bangsa dari Desa Setail yang terbunuh karena penghianatan oleh saudara sebangsanya.
“Masyarakat di sini sangat kompak dalam menghargai dan menghormati jasa para pejuang bangsa, khususnya dua pahlawan yang gugur dan berasal dari kampung sini yang kematiannya disebabkan oleh penghianatan saudara sendiri,” ujar Siti Nuraisyah yang matanya terlihat berkaca-kaca.
Upacara renungan menyambut HUT RI ke-80 yang dihadiri tokoh dan warga masyarakat termasuk beberapa cucu veteran berakhir tepat pukul 21.00 Wib dan acara ditutup dengan do’a.(*)






0 Tanggapan
Empty Comments