Sebanyak 75 siswa kelas 8 dan 9 SMP Dwi Dharma Jombang mengikuti kegiatan penyuluhan tentang pencegahan kenakalan remaja yang diselenggarakan oleh Kelompok 4 Kuliah Kerja Nyata (KKN) Desa Kedungpari, Universitas Muhammadiyah Surabaya (UM Surabaya) pada Selasa (5/8/2025).
Kegiatan ini menghadirkan dua pemateri yang merupakan mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan Program Studi S1 Keperawatan UM Surabaya, Moh Faruq Anas dan Achmad Farhan Azis. Dalam penyuluhan tersebut, mereka menyampaikan materi mengenai bentuk-bentuk kenakalan remaja, faktor-faktor penyebabnya, serta dampak yang ditimbulkan dari sisi kesehatan, pendidikan, dan sosial.
Kegiatan ini bertujuan sebagai upaya menurunkan angka kenakalan remaja di lingkungan SMP Dwi Dharma. Melalui penyuluhan ini, diharapkan para siswa memperoleh wawasan dan kesadaran akan pentingnya menjaga perilaku, membatasi diri dari pengaruh negatif lingkungan, serta membentuk karakter yang bertanggung jawab dan positif.
“Masa remaja adalah periode transisi yang sangat penting dalam kehidupan seseorang. Di fase ini, remaja mengalami perubahan fisik, psikologis, dan sosial yang cukup drastis. Sayangnya, tidak semua remaja mampu menyesuaikan diri dengan baik terhadap perubahan tersebut,” ujar Moh Faruq Anas.
Menurut Faruq, hal tersebut memicu munculnya berbagai bentuk perilaku menyimpang yang dikenal sebagai kenakalan remaja. Kenakalan remaja bukan hanya sekadar perilaku membangkang, tetapi juga mencakup tindakan yang bertentangan dengan norma sosial, hukum, dan nilai-nilai agama.
“Bentuk kenakalan ini sangat beragam, mulai dari yang ringan seperti membolos sekolah, hingga yang berat seperti tawuran, pergaulan bebas, penyalahgunaan alkohol, dan merokok di usia dini,” jelasnya.
Ia juga menjelaskan bahwa faktor penyebab kenakalan remaja sangat kompleks dan saling berkaitan. Dari sisi keluarga, kurangnya perhatian orang tua serta pola asuh yang terlalu otoriter atau justru terlalu permisif dapat menjadi pemicu utama.
“Ketika anak tidak mendapatkan kasih sayang, arahan, atau batasan yang sehat di lingkungan rumah, mereka cenderung mencari pelampiasan atau validasi dari lingkungan luar yang belum tentu memberikan pengaruh positif,” sambungnya.
Di sisi lain, menurut Faruq, faktor lingkungan juga memiliki peran besar dalam mendorong kenakalan remaja. Hal ini meliputi pengaruh teman sebaya yang berperilaku negatif, tinggal di lingkungan yang rawan kriminalitas, serta minimnya kegiatan positif di masyarakat. Sementara itu, dari sisi individu, remaja sering kali mengalami krisis identitas, emosi yang belum stabil, serta rasa ingin tahu yang tinggi tanpa disertai kontrol diri yang memadai.
Sementara itu, Achmad Farhan menjelaskan bahwa salah satu bentuk kenakalan remaja yang sering terjadi adalah tawuran antar-pelajar. Tawuran ini umumnya dipicu oleh solidaritas kelompok yang salah arah, dendam antar-sekolah, atau provokasi dari pihak luar. Dampaknya sangat merugikan, baik secara fisik maupun psikologis, bahkan dapat berujung pada kematian.
“Selain tawuran, pergaulan bebas juga menjadi masalah serius di kalangan remaja. Banyak di antara mereka yang terjerumus dalam hubungan seksual di luar nikah, yang pada akhirnya dapat menyebabkan kehamilan yang tidak diinginkan, penularan penyakit menular seksual, putus sekolah, hingga menerima stigma negatif dari masyarakat,” terangnya.
Ia juga menegaskan bahwa penyalahgunaan minuman keras tidak kalah memprihatinkan. Banyak remaja mulai mengonsumsi alkohol karena rasa ingin tahu, tekanan dari teman sebaya, atau sebagai bentuk pelarian dari stres.
Padahal, menurut Achmad Farhan, dampaknya sangat berbahaya bagi kesehatan fisik dan mental, serta berisiko menimbulkan ketergantungan jangka panjang. Hal serupa juga terjadi pada kebiasaan merokok sejak usia dini. Rokok mengandung lebih dari 7.000 zat kimia berbahaya, termasuk senyawa yang dapat menyebabkan kanker dan merusak organ dalam. Banyak remaja mulai merokok karena pengaruh lingkungan, keluarga, atau keinginan untuk terlihat “dewasa”.
“Menghadapi kompleksitas kenakalan remaja, kita tidak bisa serta-merta menyalahkan para remaja. Mereka adalah cerminan dari lingkungan tempat mereka tumbuh dan berkembang. Diperlukan pendekatan yang menyeluruh dari berbagai pihak: keluarga, sekolah, masyarakat, hingga pemerintah,” tambahnya.
Ia menegaskan bahwa orang tua perlu membangun komunikasi yang terbuka dengan anak, memberikan kasih sayang yang cukup, serta membimbing mereka dengan penuh empati. Sekolah pun harus menjadi tempat yang aman dan mendidik, tidak hanya berfokus pada aspek akademis, tetapi juga pada pembentukan karakter. Sementara itu, masyarakat harus turut berperan aktif dalam menciptakan lingkungan yang positif, aman, dan mendukung tumbuh kembang remaja secara sehat.
“Kenakalan remaja bukanlah identitas yang melekat selamanya. Justru, itu adalah peluang untuk memberikan arahan dan pendampingan yang tepat. Di balik perilaku menyimpang, ada jiwa muda yang sedang mencari jati diri dan membutuhkan bimbingan. Jika kita mampu hadir dan peduli, mereka dapat tumbuh menjadi generasi yang tangguh, bertanggung jawab, dan berguna bagi bangsa,” pungkasnya. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments