
PWMU.CO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Reguler Kelompok 23 Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) mengeksplorasi kerajinan tradisional sulak atau kemoceng bulu ayam milik Ibu Reni, seorang pengrajin asal Dusun Tlatah, Desa Wotansari, Kecamatan Balongpanggang, Kabupaten GresiK pada Sabtu (19/7/2025).
Kerajinan ini telah ditekuni Ibu Reni sejak awal tahun 1980-an, tepat setelah ia menikah. Keahlian merangkai bulu ayam menjadi sulak dipelajarinya saat tinggal di Bali, yang hingga kini juga menjadi tujuan utama pemasaran hasil karyanya.
Bulu ayam jago sebagai bahan utama didatangkan langsung dari Bali, umumnya berasal dari para peternak atau pelaku tajen (adu ayam). Sementara itu, gagang sulak dibuat dari rotan yang dibeli di kawasan Benowo, Surabaya. Bulu-bulu tersebut kemudian dirangkai satu per satu dan diikat rapi menggunakan benang wol hingga menjadi kemoceng siap jual.
Dalam sehari, Ibu Reni mampu memproduksi sekitar 12 kemoceng berukuran besar atau 15 kemoceng kecil. Harga jualnya bervariasi tergantung pada ukuran dan kualitas bulu. Untuk kemoceng kecil, satu kodi dijual seharga Rp175.000, sedangkan kemoceng besar dapat mencapai Rp210.000 per kodi. Jika dijual satuan, harganya berkisar antara Rp15.000 hingga Rp25.000.
Dalam proses produksinya, Ibu Reni dibantu oleh kerabat dengan sistem upah per biji, yaitu Rp2.500 untuk kemoceng besar dan Rp1.500 untuk yang kecil.
Khusus untuk sulak berbulu putih, proses produksinya lebih rumit karena harus melalui pencucian, pewarnaan, dan pengeringan terlebih dahulu. Biasanya, sulak jenis ini dibuat berdasarkan pesanan khusus dengan harga yang lebih tinggi.
Produk-produk sulak buatan Ibu Reni dikirim dengan dua cara, yakni dibawa langsung oleh pembeli yang akan pulang ke Bali, atau dipaketkan jika jumlah pesanan cukup banyak.
Meski termasuk kerajinan bernilai jual tinggi, Ibu Reni tetap menghadapi tantangan, terutama saat musim pendaftaran sekolah yang menyebabkan penurunan pesanan. Namun, kondisi ini biasanya kembali stabil dua bulan setelahnya.
Dengan ketekunan dan kecintaan terhadap kerajinan tradisional, Ibu Reni terus melestarikan warisan budaya yang kini mulai langka. Melalui kunjungan ini, mahasiswa KKN UMG Kelompok 23 tidak hanya mempelajari proses pembuatan sulak, tetapi juga turut mendokumentasikan nilai-nilai kearifan lokal yang masih dijaga di Desa Wotansari. (*)
Penulis Millah Mauludiyah Hanif Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments