
PWMU.CO – Mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) mengunjungi rumah Bude Warni, seorang perajin keset di Desa Wotansari, Kecamatan Balongpanggang, Gresik. Dalam kunjungan tersebut, mereka melihat langsung proses pembuatan keset dari kain perca yang tersusun rapi di teras rumah sederhana milik Bude Warni.
Sejak awal tahun, Bude Warni menekuni kerajinan tangan berupa pembuatan keset dengan menggunakan alat tradisional bernama jagrak. Kegiatan ini tidak hanya menjadi sumber penghasilan tambahan, tetapi juga memanfaatkan limbah kain perca menjadi produk bernilai ekonomis.
“Awalnya lihat orang membuat, lalu coba-coba sendiri. Dulu kainnya sampai dibeli, saking penginnya bisa,” ujar Bude Warni, kelahiran tahun 1954, saat ditemui di rumahnya pada Selasa (16/7/2025).
Dengan semangat belajar yang tinggi, ia berhasil membuat keset beraneka warna meskipun baru mulai menekuni kerajinan ini. Satu keset biasanya dijual seharga Rp5.000 di wilayah Wotansari. Namun, ia tidak mengetahui secara pasti harga jualnya di tempat lain. Proses pembuatannya pun bergantung pada ketersediaan bahan dan waktu luang yang dimilikinya.
“Kalau dalam sehari bisa bikin, ya saya bikin. Tapi enggak tentu. Kadang mulai jam 10 pagi sampai sore. Kalau sudah selesai, talinya dilepas dari jagrak, besinya dicabut, lalu dipasang kain baru lagi,” jelasnya.
Jagrak menjadi alat utama dalam proses pembuatan keset. Harga tali per kilogramnya sekitar Rp400, sementara bahan kain berasal dari limbah penjahit, dengan warna yang disesuaikan berdasarkan stok yang tersedia.
“Pembeli nggak pernah minta warna khusus, pokoknya dipantes-pantesin aja. Soalnya warnanya juga nggak selalu ada,” imbuhnya sambil tersenyum.
Tak hanya menekuni kerajinan tangan, Bude Warni juga masih aktif bertani. Ia menanam kangkung, padi, dan rumput.
“Kangkungnya dari bibit sendiri, ditanam sendiri juga. Tapi kalau hujan terus, bisa kebanjiran. Tahun ini saja sudah empat kali banjir, kadang airnya sampai sebetis,” keluhnya.
Selain dirinya, beberapa warga lain juga menekuni usaha pembuatan keset. Produksinya bisa mencapai dua kodi (40 buah) per minggu untuk disetorkan ke pengepul. Namun, jumlah peminat tidak menentu.
“Kadang banyak yang beli, kadang sepi. Harganya juga bisa lebih murah kalau lagi sepi,” katanya.
Kesibukan membuat keset ini bukan semata-mata soal ekonomi. Menurutnya, kegiatan tersebut juga bermanfaat untuk mengisi waktu luang dan menghindarkan diri dari rasa bosan.
“Daripada nganggur, mending buat keset,” ujarnya.
Kini, meski usianya tak lagi muda, Bude Warni tetap semangat menjalani aktivitas sehari-hari. Ia tinggal bersama keluarga, dengan salah satu cucunya yang sedang menempuh kuliah semester enam di Mojokerto, sementara satu cucu lainnya telah menikah.
“Yang satu kerja di bidang kesehatan, yang satu lagi jadi guru,” ceritanya dengan bangga.
Di sela-sela kesibukannya membuat keset dan bertani, Bude Warni juga aktif mengikuti kegiatan pengajian di lingkungannya. Selama 50 tahun terakhir, ia telah menetap di Desa Wotansari. Dari keseharian yang sederhana, ia menunjukkan bahwa semangat belajar dan bekerja tidak mengenal usia.
Mahasiswa KKN UMG Desa Wotansari pun turut berbaur dan belajar bersama Bude Warni. Mereka antusias mengenal proses pembuatan keset menggunakan jagrak, sekaligus menyelami nilai-nilai ketekunan dan kreativitas yang dimiliki warga desa. Kebersamaan ini menjadi momen berharga dalam upaya membangun kedekatan dengan masyarakat serta memahami potensi lokal yang dimiliki Desa Wotansari. (*)
Penulis Millah Mauludiyah Hanif Editor Ni’matul Faizah






0 Tanggapan
Empty Comments