
PWMU.CO – “Ilmu bukan hanya untuk dipelajari, tetapi untuk membebaskan manusia dari segala bentuk ketertindasan”. Prinsip inilah yang menjadi napas perjuangan mahasiswa Psikologi Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Wahyuddin Fahrurrijal yang kini terpilih menjadi Koordinator Nasional Ikatan Lembaga Mahasiswa Psikologi Indonesia (ILMPI) periode 2025/2026 (29/4/2025).
Dalam Musyawarah Nasional ILMPI ke-XIV yang berlangsung di UIN Syarif Hidayatullah Jakarta (22-27/4/2025), Wahyu—sapaan akrabnya—terpilih secara aklamasi sebagai calon tunggal.
Tidak hanya membawa visi organisatoris, Wahyu membawa gagasan besar, yaitu menjadikan ILMPI sebagai ruang kolektif untuk membangun Psikologi yang membebaskan, menggerakkan, dan berkeadilan sosial.
Membawa Napas Baru untuk Gerakan Psikologi Indonesia
Wahyuddin Fahrurrijal bukan sosok yang lahir dari ruang hampa. Sejak awal masa studinya, Wahyu dikenal sebagai kader intelektual-organis di BEM Fakultas, BEM Universitas, serta aktif membina gerakan Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) di Komisariat Restorasi Psikologi UMM.
Di tengah situasi nasional yang penuh tantangan—mulai dari krisis kesehatan mental, kesenjangan sosial, hingga maraknya kekerasan struktural—Wahyu menawarkan sebuah pendekatan baru dalam memandang Psikologi, bukan sekadar ilmu tentang individu, tetapi alat perubahan untuk membebaskan manusia dari ketidakadilan.
“Psikologi harus keluar dari menara gading. Ia harus berpihak. Ia harus berani menantang ketidakadilan. Dan ia harus menjadi jalan pembebasan manusia,” tegas Wahyu dalam pidato perdananya.
Mengutip semangat Islam Berkemajuan yang diusung Muhammadiyah, Wahyu menekankan bahwa keilmuan Psikologi harus disinergikan dengan perjuangan sosial. Psikologi harus membentuk manusia merdeka yang bebas dari keterasingan, kekerasan, dan penindasan dalam bentuk apapun.

Psikologi Membebaskan, ILMPI Menggerakkan
Sebagai Koordinator Nasional, Wahyu membawa misi memperkuat ILMPI sebagai organisasi mahasiswa yang bukan hanya berbicara tentang akademik, tetapi menjadi bagian dari gerakan sosial.
Ia membayangkan ILMPI sebagai ruang kritik, ruang tumbuh, dan ruang bertindak bagi mahasiswa Psikologi di seluruh Indonesia.
Dengan mengusung prinsip “Psikologi Membebaskan, Psikologi Menggerakkan”, Wahyu menyiapkan arah gerak baru ILMPI yang berbasis pada tiga fondasi yakni, 1) kritis terhadap struktur ketidakadilan dalam isu sosial dan psikologis.
2) Berpihak pada kelompok rentan dengan mengembangkan keilmuan yang membumi. 3) Bergerak kolektif membangun solidaritas lintas kampus, lintas latar belakang.
Baginya, Psikologi hari ini tidak boleh menjadi alat untuk menyesuaikan manusia pada ketimpangan. Ia harus menjadi kekuatan untuk membongkar ketidakadilan, dan membangun masyarakat yang lebih manusiawi.
“Kita tidak sedang membangun organisasi sekadar untuk berkegiatan. Kita membangun organisasi sebagai medan perjuangan. ILMPI harus menjadi ruang ideologis mahasiswa Psikologi yang merdeka, kritis, dan memihak umat,” ujar Wahyu dengan penuh semangat.
Dari UMM untuk Indonesia: Psikologi untuk Kemanusiaan
Wahyuddin Fahrurrijal merupakan wujud konkret dari tradisi intelektual UMM yang berpijak pada nilai Islam Berkemajuan: menggabungkan keilmuan, keikhlasan, dan keberpihakan kepada umat manusia.
Terpilihnya Wahyu sebagai Koordinator Nasional ILMPI menjadi bukti bahwa kampus ini terus melahirkan pemimpin-pemimpin muda yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sadar akan tanggung jawab sosialnya.
Dalam pidato penutup Musyawarah Nasional, Wahyu kembali mengingatkan bahwa jalan ke depan bukanlah jalan yang nyaman.
“Kita memilih jalan ini karena kita percaya, di tengah gelapnya ketidakadilan, psikologi bisa menjadi lentera. Kita berjuang bukan untuk diri kita sendiri, tapi untuk umat, untuk bangsa, untuk kemanusiaan,” katanya.
Ke depan, Wahyu bertekad memperkuat konsolidasi antar-lembaga mahasiswa Psikologi di seluruh Indonesia, membangun budaya kritis di kalangan mahasiswa, dan mengarahkan gerak ILMPI untuk tetap menjadi bagian dari perjuangan besar membangun masyarakat adil, makmur, dan beradab.(*)
Penulis Bintang Sasmita Wicaksana Editor Zahrah Khairani Karim






0 Tanggapan
Empty Comments