Kepekaan membaca persoalan di sekitar menjadi titik awal lahirnya sebuah inovasi. Melalui mata kuliah Perancangan dan Pengembangan Produk (P3), mahasiswa Teknik Industri Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) menghadirkan Solar Powered Automatic Irrigation System, sebuah alat irigasi tetes otomatis berbasis energi surya yang lahir dari ruang kelas dan dirancang untuk mendukung pertanian skala kecil agar lebih efisien dan berkelanjutan.
Inovasi ini sekaligus menjadi wujud komitmen akademik UMM dalam mendukung pencapaian Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDGs).
Inovasi tersebut dikembangkan oleh Isti Rohmania, mahasiswa Teknik Industri angkatan 2023, bersama timnya. Berangkat dari pengamatan terhadap praktik pertanian di Indonesia, Isti menyoroti masih banyaknya petani yang mengandalkan penyiraman manual.
Metode ini tidak hanya menyita waktu dan tenaga, tetapi juga berpotensi menyebabkan pemborosan air. Dari persoalan sederhana tersebut, timnya merancang sistem irigasi tetes otomatis yang bekerja secara cerdas dan hemat energi.
Sistem irigasi ini memanfaatkan panel surya sebagai sumber listrik utama. Energi yang dihasilkan disimpan dalam baterai dan digunakan untuk mengoperasikan sistem berbasis Arduino.
Sensor kelembapan tanah menjadi komponen kunci yang menentukan kapan tanaman membutuhkan air, sehingga penyiraman hanya dilakukan saat kondisi tanah benar-benar memerlukannya.
“Melalui sensor kelembapan tanah, sistem ini bisa menyesuaikan kebutuhan air tanaman secara otomatis. Penyiraman tidak dilakukan terus-menerus, tetapi berdasarkan kondisi tanah,” jelas Isti 30 Januari lalu pada Tim Humas UMM.
Sebagai prototipe pembelajaran, sistem ini masih diterapkan dalam skala terbatas. Meski demikian, konsepnya dirancang fleksibel dan adaptif untuk berbagai jenis tanaman serta kondisi lahan.
Penggunaan energi surya menjadi nilai tambah karena mampu mengurangi ketergantungan pada listrik konvensional sekaligus menekan biaya operasional petani.
Dari sisi keberlanjutan, inovasi ini tidak hanya berfokus pada efisiensi air dan energi, tetapi juga membuka peluang pengembangan lebih lanjut.
Ke depan, sistem irigasi ini berpotensi dikombinasikan dengan penyaluran pupuk cair, nutrisi, maupun vitamin tanaman, sehingga perawatan tanaman dapat dilakukan secara lebih terintegrasi dan presisi.
Bagi Isti, proyek ini menjadi pengalaman belajar yang bermakna. Ia menilai mata kuliah P3 mendorong mahasiswa untuk berpikir sistematis, bekerja kolaboratif, serta peka terhadap kebutuhan masyarakat.
“Lewat proyek ini, kami belajar bahwa inovasi tidak harus rumit. Yang terpenting adalah berangkat dari masalah nyata dan menghadirkan solusi yang bisa diterapkan,” ujarnya.
Sementara itu, dosen pembimbing Amelia Khoidir, S.T., M.Sc., menilai pengembangan Solar Powered Automatic Drip Irrigation System merupakan wujud pembelajaran berbasis proyek yang mendorong mahasiswa mengintegrasikan teknologi IoT dalam sistem irigasi presisi.
Inovasi ini mencakup pengendalian kelembapan tanah hingga pengaturan pemberian air dan nutrisi secara otomatis.
Menurutnya, proyek tersebut tidak hanya melatih kemampuan pemecahan masalah, desain sistem, dan pengambilan keputusan berbasis data, tetapi juga memiliki potensi besar untuk dikembangkan menjadi smart irrigation system yang efisien, terjangkau, dan berkelanjutan bagi masyarakat.
“Inovasi seperti ini membuktikan bahwa mahasiswa mampu menghadirkan solusi teknologi yang relevan dan berdampak nyata bagi sektor pertanian,” tuturnya.
Capaian pada Industrial Engineering Expo 2026 UMM menjadi gambaran bagaimana pembelajaran berbasis proyek di Teknik Industri UMM mampu melahirkan inovasi yang aplikatif dan berdampak.
Tak berhenti sebagai tugas perkuliahan, Solar Powered Automatic Irrigation System menunjukkan potensi mahasiswa UMM dalam berkontribusi pada pengembangan teknologi tepat guna dan pertanian berkelanjutan.(*)





0 Tanggapan
Empty Comments