Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mahasiswa UMG Kenalkan 6 Emosi Dasar Lewat Permainan Ular Tangga di MI Manbaul Ulum Sawo

Iklan Landscape Smamda
Mahasiswa UMG Kenalkan 6 Emosi Dasar Lewat Permainan Ular Tangga di MI Manbaul Ulum Sawo
Mahasiswa UMG bersama siswa MI Manbaul Ulum Sawo. Foto: Ade Lina Yuli Ristanti/PWMU.CO
pwmu.co -

Tim Pengabdian kepada Masyarakat (PkM) Universitas Muhammadiyah Gresik (UMG) menghadirkan kegiatan edukatif yang kreatif dan menyenangkan bagi anak usia dini.

Bertempat di MI Manbaul Ulum Desa Sawo, Kecamatan Jetis, Kabupaten Mojokerto, Kamis (29/1/2026), mahasiswa UMG mengenalkan enam emosi dasar kepada siswa kelas 1 melalui media permainan ular tangga interaktif.

Enam emosi dasar yang diperkenalkan meliputi bahagia, sedih, jijik, marah, takut, dan terkejut. Kegiatan ini dirancang untuk membantu anak-anak mengenali serta mengekspresikan emosi secara sehat sejak dini, sekaligus melatih kemampuan komunikasi, empati, dan kerja sama dalam kelompok.

Ketua Tim PkM, Muhammad Nur Alfin Shobach, menjelaskan bahwa pengenalan emosi dasar merupakan bagian penting dari perkembangan sosial-emosional anak.

“Anak-anak perlu memahami perasaan mereka sendiri dan orang lain agar dapat berinteraksi dengan baik. Melalui permainan ini, kami berharap mereka belajar dengan cara yang menyenangkan dan mudah diingat,” ujarnya.

Menurutnya, pembelajaran yang dikemas dalam bentuk permainan akan lebih efektif bagi siswa sekolah dasar, terutama kelas awal, karena sesuai dengan karakteristik belajar mereka yang aktif dan penuh rasa ingin tahu.

Penyampaian Materi Secara Interaktif

Materi pengenalan emosi disampaikan secara interaktif oleh Cindy Aldora, mahasiswa Program Studi Psikologi UMG.

Dalam sesi tersebut, anak-anak diajak mengenali ciri-ciri setiap emosi melalui ekspresi wajah, bahasa tubuh, serta contoh situasi sehari-hari yang memicu munculnya emosi tertentu.

“Kami mengajak anak-anak untuk mengenali ekspresi wajah, bahasa tubuh, dan situasi yang memicu emosi tertentu. Hal ini diharapkan dapat meningkatkan kecerdasan emosional mereka,” jelas Cindy.

Anak-anak tampak antusias saat diminta menirukan ekspresi marah, sedih, atau terkejut. Suasana kelas pun dipenuhi gelak tawa ketika mereka mencoba menampilkan ekspresi secara bergantian.
Ice Breaking Bangun Semangat

Sebelum permainan dimulai, peserta dibagi menjadi lima kelompok kecil yang masing-masing dipandu oleh anggota tim PkM. Untuk membangun suasana yang hangat dan meningkatkan fokus belajar, Silvia Aida Saskia Hakim memandu sesi ice breaking yang penuh semangat.

Anak-anak diajak bernyanyi, bergerak, dan tertawa bersama. Kegiatan sederhana tersebut terbukti efektif mencairkan suasana sekaligus menumbuhkan rasa percaya diri siswa untuk berpartisipasi aktif.

Permainan ular tangga yang digunakan telah dimodifikasi dengan muatan edukasi emosi. Setiap kotak pada papan permainan terhubung dengan kartu berisi pertanyaan atau perintah sesuai kategori emosi.

Misalnya, ketika pion berhenti di kotak “bahagia”, pemain mengambil kartu kuning dan menjawab pertanyaan seperti, “Kapan terakhir kamu merasa sangat senang?” atau melakukan perintah, “Tersenyumlah dan ucapkan satu hal yang kamu syukuri hari ini.”

Jika berhenti di kotak “marah”, siswa diminta menceritakan pengalaman saat merasa kesal dan bagaimana cara mereka menenangkannya.

Sementara pada kotak “takut”, anak-anak diajak berbagi cerita tentang hal yang membuat mereka takut dan siapa yang biasanya membantu mereka merasa lebih aman.

Melalui mekanisme permainan tersebut, siswa tidak hanya bermain, tetapi juga belajar mengenali, menyebutkan, serta mengekspresikan perasaan secara tepat.

Antusias dan Berani Mengekspresikan Diri

Selama kegiatan berlangsung, siswa terlihat aktif dan bersemangat. Mereka saling mendukung dalam kelompok, berdiskusi sebelum menjawab pertanyaan, serta berani mengungkapkan pengalaman pribadi mereka.

Dengan adanya penjelasan tentang emosi dasar, anak-anak menjadi lebih mudah menunjukkan dan menyebutkan perasaan yang sedang mereka alami. Hal ini menjadi indikator bahwa materi yang disampaikan dapat dipahami dengan baik.

Dosen Pembimbing Lapangan (DPL) PkM UMG, Nataria Wahyuning Subayani, M.Pd., memberikan apresiasi atas kreativitas mahasiswa dalam menyusun kegiatan yang edukatif dan aplikatif.

Dia menilai, pendekatan pembelajaran berbasis permainan seperti ini sangat relevan untuk siswa sekolah dasar karena mampu mengintegrasikan unsur kognitif dan emosional secara seimbang.

Kegiatan ini diharapkan tidak hanya menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan, tetapi juga menjadi bekal penting bagi anak-anak dalam mengelola emosi mereka sehari-hari.

Dengan kemampuan mengenali dan mengekspresikan emosi secara sehat, siswa diharapkan tumbuh menjadi pribadi yang lebih percaya diri, empatik, serta mampu beradaptasi dengan lingkungan sosialnya.

Melalui program pengabdian seperti ini, UMG menunjukkan komitmennya dalam mendukung pendidikan karakter sejak usia dini, sekaligus menghadirkan kontribusi nyata bagi masyarakat. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu