Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mahasiswa UMLA Kenalkan Akar Budaya Nusantara di SBM Malaysia Lewat Tari Candik Ayu

Iklan Landscape Smamda
Mahasiswa UMLA Kenalkan Akar Budaya Nusantara di SBM Malaysia Lewat Tari Candik Ayu
Mahasiswa UMLA bersama penari SBM Kepong, Malaysia. (Istimewa/PWMU.CO)
pwmu.co -

Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Lamongan (UMLA) menggelar kegiatan pengenalan akar budaya nusantara melalui pelatihan Tari Candik Ayu di Sanggar Bimbingan Muhammadiyah (SBM) Kepong, Malaysia.

Tari Candik Ayu dipilih sebagai materi utama. Tarian ini memiliki asal-usul dalam tradisi Jawa, dengan kata “Candik” sering dikaitkan dengan senja yang indah, dan “Ayu” berarti molek atau cantik.

Tari ini menampilkan keceriaan, kesantunan, dan keelokan moral gadis-gadis remaja Nusantara. Memperkenalkan kekayaan seni Nusantara dikenalkan ke ranah Internasional, menunjukkan bahwa budaya Indonesia fleksibel dan relevan saat ini.

Seni pertunjukan ini mendorong siswa untuk berani tampil di depan umum dan bangga akan identitas nasional mereka.

Kegiatan tersebut dibimbing oleh dua mahasiswa UMLA, yakni Vivi Puspita Wijaya dan Vita Rahmasari.

Dalam pelaksanaannya, siswa tidak hanya mendapatkan transfer ilmu seni secara teknis, tetapi mereka juga merasakan kehadiran negara dan dukungan emosional, yang meningkatkan kepercayaan diri mereka sebagai warga negara Indonesia.

Dengan mempelajari Tari Candik Ayu, mereka tidak hanya memperoleh keterampilan seni, tetapi juga memperoleh nilai-nilai moral Nusantara, seperti kelembutan tutur kata dan kesantunan bersikap, yang menjadi bekal karakter penting untuk membangun generasi yang bangga akan asal-usulnya meskipun tinggal di luar negeri.

Kegiatan ini dimulai dengan pendekatan emosional dengan filosofi Tari Candik Ayu yang berasal dari Jawa Timur, Banyuwangi.

Selama proses ini, mahasiswa pembimbing secara bertahap belajar tentang keindahan nilai-nilai Nusantara yang terkandung dalam setiap gerakan.

Hal ini penting untuk memastikan bahwa peserta tidak hanya melakukan gerakan fisik tetapi juga memahami inti dari tarian.

Tari Candik Ayu dipilih dengan alasan. Tari ini melambangkan nilai-nilai seperti kesantunan, kecantikan, dan budi pekerti luhur, yang ingin ditanamkan kepada anak-anak Indonesia di luar negeri agar mereka dapat mempertahankan identitas bangsa mereka.

Untuk memberikan referensi visual kepada siswa sebelum memulai latihan, siswa menggunakan pertunjukan profesional.

Pelatihan berlanjut untuk menguasai teknik dasar atau pakem gerak setelah pemahaman teoretis menjadi cukup. Pada tahap ini, kelenturan tangan dan posisi tubuh adalah fokus utama.

Siswa diajarkan gerakan langkah kaki yang sinkron dengan arah pandangan mata (seledet), serta posisi mendhak (merendahkan lutut) yang menjadi ciri khas tari Jawa.

Untuk memperbaiki posisi tubuh mereka yang masih kaku, siswa menerima pendampingan individu. Siswa diajarkan untuk menyatukan gerakan mereka dengan iringan musik gamelan saat memasuki tahap inti.

Proses ini dilakukan per bagian. Untuk membuat menghafal urutan gerakan lebih mudah, siswa memecah struktur tari menjadi beberapa bagian. Fokus beralih ke pola lantai (blocking) setelah menghafal secara individual.

Dengan membentuk formasi seperti garis lurus, diagonal, dan lingkaran, siswa meningkatkan kedisiplinan mereka. Formasi ini berfungsi sebagai simbol kerja sama dan kolaborasi tim.

Pengelola SBM Kepong menyambut mahasiswa UMLA dengan senang hati. Pengelola SBM Kepong, Salimah sangat mengapresiasi inisiatif pelatihan tari ini.

Dia mengatakan bahwa kegiatan ini lebih dari sekadar aktivitas luar sekolah, itu adalah upaya untuk menyelamatkan identitas anak-anak SBM Kepong.

“Anak-anak kami di sini sering mengalami dilema identitas mereka terpapar budaya lokal Malaysia di sekolah, tetapi mereka orang Indonesia di rumah,” ungkapnya.

Salimah menyatakan bahwa mereka berisiko kehilangan koneksi emosional dengan tanah air leluhur mereka jika tidak ada pengenalan budaya seperti ini.

Selain itu, dia menyatakan bahwa aktivitas ini merupakan jenis pendekatan halus yang efektif. Dengan melakukan Tari Candik Ayu, mahasiswa UMLA menunjukkan bahwa generasi muda Indonesia kreatif, peduli, dan menghargai tradisi meskipun berada di tengah arus modernisasi global.

Dalam pelaksanaannya, proses pelatihan dilakukan pendekatan pembelajaran aktif dan pembelajaran yang menyenangkan digunakan.

Vivi dan Vita, sebagai pembimbing, menjelaskan bahwa metode ini dipilih karena rentang usia peserta yang sangat beragam di SBM Kepong.

Mereka harus memastikan bahwa anak-anak senang dan dapat memahami materi teknik yang rumit. Tahap pertama dimulai dengan Observasi, di mana siswa diminta untuk melihat video pertunjukan Tari Candik Ayu.

Siswa kemudian diajak meniru gerakan dasar secara perlahan tanpa musik di fase Mimikri, dengan melakukan koreksi posisi tubuh secara individual untuk memastikan setiap lekukan tangan dan posisi kaki sesuai pakemnya.

Dengan liukan jemari dan hentakan kaki dalam Tari Candik Ayu, pesan yang indah disampaikan bahwa Indonesia ada di dalam diri kita sendiri.

Tujuan utama kegiatan ini adalah untuk menjadikan seni sebagai alat untuk menyatukan bangsa di perantauan dan mencegah generasi muda Indonesia di Malaysia mengalami “hilang budaya”.(*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu