Puluhan mahasiswa Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) hadir dengan antusias dalam kuliah perdana yang mendorong calon guru agar menjadi guru penggerak bagi siswa-siswi.
Agenda yang dilangsungkan pada 10 November ini bertajuk ‘Menyambut Perjalanan menjadi Guru SD yang Menggerakkan Siswa’. Turut hadir dua pemateri, yakni Dr. Kuncahyono, M.Pd. dan Dr. Duhwi Indartiningsih, M.Pd.
Dalam materinya berjudul Growth Mindset: Burnout vs Atomic Habits, Kuncahyono membuka paparan melalui kutipan ‘A Good Beginning is a Half Done’. Maksudnya adalah ketika kita memulai sesuatu dengan baik itu artinya kita sudah menyelesaikan setengah perjalanan.
Menurutnya, growth mindset merupakan keyakinan bahwa kemampuan dan kecerdasan dapat berkembang melalui usaha, latihan, dan proses belajar.
Konsep yang diperkenalkan oleh Carol Dweck ini ditekankan sebagai fondasi penting bagi mahasiswa dalam menghadapi perjalanan akademik.
Ia juga mengajak mahasiswa membedakan antara growth mindset dan fixed mindset. Dalam hal ini mahasiswa diajak memahami bahwa individu dengan fixed mindset cenderung lebih mudah mengalami burnout karena melihat kegagalan sebagai bukti kekurangan diri, bukan sebagai peluang belajar.
Data menunjukkan, sekitar 80 persen individu dengan fixed mindset mengalami tingkat kelelahan akademik lebih tinggi, terutama karena tekanan untuk selalu tampil sempurna dan enggan meminta bantuan.
“Sedangkan burnout dalam dunia akademik adalah gejala, penyebab, serta dampaknya terhadap proses belajar mahasiswa. Oleh sebab itu mahasiswa perlu mengenali batas diri, mengelola stres, dan membangun pola pikir positif agar dapat mempertahankan kesehatan mental dan motivasi belajar,” katanya.
Kuncahyono menutup materinya dengan penjelasan konsep Atomic Habits James Clear. Mahasiswa diperkenalkan prinsip perubahan kecil yang dilakukan secara konsisten sebagai langkah efektif menciptakan transformasi besar dalam kehidupan.
Mahasiswa sejak awal harus menghentikan kebiasaan buruk, membangun kebiasaan baru yang produktif, serta menjaga keberlanjutan melalui disiplin dan komitmen. Nah, motivator terbaik Atomic Habits adalah diri sendiri.
Di sisi lain, Duhwi menyampaikan materi terkait guru inspiratif. Sebelum pembahasan materi peserta terlebih dulu ice breaking agar semangat mengikuti kuliah perdana.
Ada empat model kompetensi guru, yaitu kompetensi pedagogik, kepribadian, sosial, dan profesional. Kompetensi pedagogik adalah kemampuan guru dalam memahami karakteristik peserta didik, merancang dan melaksanakan pembelajaran, serta melakukan evaluasi secara tepat.
Kompetensi kepribadian ditekankan sebagai fondasi moral dan karakter yang mencerminkan keteladanan dan integritas seorang pendidik.
Berikutnya, kompetensi profesional adalah kemampuan penguasaan kurikulum dan materi pelajaran secara luas dan mendalam, termasuk pemahaman terhadap karakteristik peserta didik di berbagai jenjang.
Kompetensi ini mengarah pada ciri-ciri guru Inspiratif yang meliputi pembelajar aktif, kreatif, disiplin, dan memiliki totalitas dalam menjalankan tugas.
Sedangkan kompetensi sosial berkaitan dengan kemampuan guru berkomunikasi dan berinteraksi secara efektif dengan berbagai pihak.
“Mahasiswa harus terus berproses, memperkaya pengalaman, dan meraih kesuksesan sebagai guru yang baik dan dicintai. Be good teacher, Be a beloved teacher. Guru yang baik adalah guru yang dicintai,” katanya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments