Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mahasiswa UMS Bangun Bisnis Madu Klanceng, Omzet Tembus Rp 60 Juta

Iklan Landscape Smamda
Mahasiswa UMS Bangun Bisnis Madu Klanceng, Omzet Tembus Rp 60 Juta
Ilustrasi: Humas UMS
pwmu.co -

“Yang gede ini ratu lebahnya,” kata Hibat membuka pembicaraan. Ia tengah membuka boks kayu yang ia gunakan sebagai sarang lebah. “Kalau yang ini madunya,” lanjutnya sambil menunjuk gundukan madu di dinding wadah itu.

Hibatulloh Al-Mubarok, 21 tahun, hari itu menyambangi kandang lebah klanceng miliknya. Kandang tersebut ia bangun di lahan milik Pondok Hajjah Nuriyah Shabran Universitas Muhammadiyah Surakarta (UMS), di Desa Makamhaji, Kartasura, Sukoharjo, Jawa tengah.

Lahan seluas hampir satu hektar itu memang digunakan untuk kandang hewan ternak milik Pondok Shabran. “Kebetulan Pondok mendukung dan mengizinkan kami,” katanya saat dijumpai pada awal Februari lalu.

Setumpuk kotak kayu berwarna cokelat tertata rapi di dalam kandang seluas 12 meter itu. Terdapat lubang kecil yang berfungsi sebagai jalan masuk lebah klanceng untuk berburu nektar.

Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah UMS itu mendirikan Klanceng Edufarm setahun lalu. Fokusnya membudidayakan lebah klanceng, memproduksi madu dengan merk Bee Berkah, dan edukasi beternak lebah.

Lebah klanceng atau kelulut dalam genus Trigona. Lebah ini tersebar wilayah tropis Asia, terutama di sekitar hutan hujan tropis. Lebah klanceng pekerja memiliki kepala besar, rahang tajam, dan tubuh berwarna hitam.

Sementara itu, ratu lebah klanceng memiliki ukuran fisik tiga sampai empat kali lebih besar dari lebah pekerja.

“Lebahnya ini lebih kecil dari lebah madu pada umumnya dan tidak memiliki sengatan,” tutur Hibat.

Madu yang dihasilkan pun, kata Hibat, memiliki rasa yang khas dibanding madu jenis lainnya. Tekstur madu klanceng lebih encer dengan warna yang lebih pekat. Rasanya pun cenderung masam, manis, dan segar.

Seperti madu pada umumnya, madu klanceng mengandung antioksidan, flavonoid, vitamin E, vitamin C, fenolat, asam amino, zink, zat besi, air, dan gula.

Hibat juga mengklaim madu klanceng baik untuk penderita diabetes. Pengakuan itu ia dapatkan dari testimoni para pembeli madu klanceng Bee Berkah.

“Ada yang kena diabetes, tapi dengan mengkonsumsi madu klanceng ini kok badan lebih enak, lebih enteng. Ada banyak sekali yang komentar seperti itu,” papar Hibat.

Madu klanceng Bee Berkah tersedia dalam sejumlah varian ukuran, mulai dari kemasan 369 mililiter hingga 1 liter. Harga produknya dibanderol mulai Rp100 ribu hingga Rp220 ribu.

Hibat memasarkan madu klanceng Bee Berkah melalui platform marketplace atau lokapasar. Ia pun memberikan program gratis ongkir untuk menarik minat calon pembeli. Hasilnya, Hibat telah mengirimkan madunya ke hampir seluruh Indonesia.

Permintaan pasar pun perlahan meningkat hingga mencapai 20 kilogram madu perbulan. Angka ini melebihi kapasitas produksi peternakan lebah miliknya yang hanya mampu memproduksi 2-4 kilogram madu.

Hibat kemudian ikut memberdayakan petani lokal yang tersebar di Kabupaten Klaten, Kabupaten Sukoharjo, dan Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Madu dari petani lokal itu kemudian ia boyong ke kamar tidurnya di Pondok Shabran UMS. Di sanalah, Hibat dan kawan-kawannya mengemas madu ke dalam botol-botol khusus dan siap untuk dipasarkan.

Usaha madu Klanceng Edufarm pun berhasil meraup omzet senilai Rp60 juta sepanjang Juli-Desember 2025. Hibat optimis dapat meraup omzet yang lebih besar tahun ini, terutama menjelang datangnya bulan Ramadan.

Bagi Hibat, tantangan utama berniaga madu adalah membangun kepercayaan publik. “Karena untuk jualan madu itu kita bukan sekedar jualan. Ini produk saya, tetapi kita membangun kepercayaan. Kita membangun trust itu yang berat,” tegasnya.

***

Lahir di Lampung Selatan, Lampung, 14 Oktober 2004, Hibatulloh Al-Mubarok menghabiskan masa sekolahnya di Pondok Pesantren Muhammadiyah Ahmad Dahlan, Candipuro, Lampung.

Pengalaman mengelola bisnisnya tumbuh semasa remaja. Ia pernah membantu budidaya lebah madu milik keluarganya. Dari usaha sampingan itulah, Hibat memiliki pengalaman mengelola peternakan lebah madu.

Sewaktu hijrah ke Kota Bengawan untuk melanjutkan studi sarjananya, Hibat tak lantas meninggalkan keinginannya untuk berbisnis.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Mahasiswa UMS Bangun Bisnis Madu Klanceng, Omzet Tembus Rp 60 Juta
Produk madu klanceng bermerek Bee Berkah hasil produksi Klanceng Edufarm. Foto: Luqman Hakim/Humas UMS/

”Namanya di pondok ini kan kita agak boring. Biar enggak bosan, kita nyoba-nyoba lah usaha biar enggak minta uang terus sama orang tua,” katanya.

Jual beli motor di marketplace Facebook adalah usaha yang ia geluti sewaktu awal kuliah. Hibat kemudian menghentikan usaha jual beli itu lantaran sempat merugi belasan juta.

Beruntung, sebagian uang hasil bisnis motor itu sempat ia sisihkan. Uang itu ia gunakan untuk membangun usaha madu klanceng.

Modal awal madu klanceng saat itu tak lebih dari Rp500 ribu. Hibat mulai membeli bibit ratu lebah klanceng dari petani lokal pada 2024. Madu produksinya saat itu pun hanya berupa botol polosan.

“Belum ada labelnya waktu itu,” kenang Hibat.

Kesempatan untuk mengembangkan usahanya datang pada 2025 saat UMS menggelar Program Inovasi Kewirausahaan.

Hibat menjajal peruntungannya dengan mendaftarkan madu klanceng miliknya pada lomba itu. Beruntung, usahanya berhasil mendapat pendanaan senilai Rp 2 juta.

Suntikan modal itu ia gunakan untuk memperbarui kemasan, menambah sarang lebah, dan meningkatkan produksi madu.

“Awalnya tiga kotak, kemudian bertambah jadi 20 kotak,” ungkap dia. Hibat kemudian membangun jenama baru untuk usahanya: Klanceng Edufarm.

Tak mau berhenti di tingkat kampus, Hibat kembali menjajal perlombaan di tingkat nasional lewat Program Pembinaan Mahasiswa Wirausaha atau P2MW 2025.

Untuk maju ke tahapan ini, Hibat merekrut teman-teman pondoknya, yakni Wildan Iskandar, Riski Aldiansyah, dan Oyan Sugianto. Tim ini juga mendapat bimbingan dari Wakil Rektor III UMS Dr. Mutohharun Jinan, M.Ag.

Dewi Fortuna rupanya tak meninggalkan Hibat begitu saja. Klanceng Edufarm berhasil meraih pendanaan P2MW senilai Rp 13 juta.

Pendanaan itu lantas ia gunakan untuk mengembangkan strategi pemasaran untuk menjangkau target pasar yang lebih luas.

***

Kini, madu klanceng Bee Berkah dapat ditemui di sejumlah toko di Sukoharjo, Lampung, hingga Riau. “Dua daerah lagi yang sedang proses adalah Aceh dan Bandung,” katanya.

Di bawah bendera Klanceng Edufarm, Hibat mulai melebarkan sayap bisnisnya ke bidang edukasi. Ia memanfaatkan platform Instagram untuk membuat konten edukasi seputar manfaat madu.

Hibat juga memproduksi buku panduan budidaya lebah klanceng dan menyediakan bimbingan budidaya lebah. Buku tersebut diperuntukkan bagi konsumen yang ingin mengembangkan budidaya lebah klanceng secara mandiri.

“Kami mengangkat nama ‘edufarm’. Kami ingin meningkatkan edukasi yang kami arahkan melalui platform Instagram,” jawab Hibat.

Hibat juga aktif melakukan edukasi di sejumlah sekolah maupun panti asuhan. Misinya jelas: memperkenalkan usaha madu klanceng ke berbagai kalangan dan menumbuhkan jiwa wirausaha di kalangan pemuda.

“Kami melihat adanya peluang besar dalam usaha ini, karena madu klanceng memiliki keunikan khasiat dan nilai jual yang tinggi, namun belum banyak diketahui masyarakat. Apalagi pesaingnya belum terlalu banyak, sehingga masih sangat potensial,” tandas Hibat. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu