Mahasiswa Universitas Muhammadiyah Sidoarjo (Umsida) kembali menorehkan inovasi di bidang pendidikan Islam. Melalui Program Kreativitas Mahasiswa (PKM), mereka mengembangkan model pengendalian praktik ghibah secara syar’i dengan pendekatan ilmiah berbasis metode Six Sigma dan analisis Strength, Weakness, Opportunity, dan Threat (SWOT).
Penelitian berjudul “Pengendalian Praktik Ghibah Syar’i dengan Metode Six Sigma dan Analisis SWOT untuk Meningkatkan Budaya Etika Islami di Lingkungan Pendidikan” ini digarap oleh tim mahasiswa Program Studi Pendidikan Agama Islam (PAI) Umsida yakni Novita Anggraeni, Fahmiyah Tsaqofah Islamiy, Nur Fatimatus Zahro, dan Nofiatul Syafitri.
Mereka dibimbing langsung oleh dosen sekaligus pakar etika Islam, Dr. Eni Fariyatul Fahyuni, M.Pd.I.
“Kami ingin membuktikan bahwa pendekatan ilmiah bisa menjadi sarana dakwah dan perbaikan moral di dunia pendidikan,” ujar ketua tim peneliti, Novita saat ditemui di Umsida pada Kamis (16/10/2025).
Penelitian yang dilakukan mulai Sabtu (5/7/202) hingga Selasa (30/9/2025) ini berangkat dari keprihatinan atas maraknya praktik ghibah di lingkungan sekolah dan kampus. Bagi mereka, ghibah bukan sekadar persoalan moral individu, tetapi juga gangguan terhadap budaya etika Islami yang seharusnya dijunjung tinggi di lembaga pendidikan.
Alih-alih hanya menyeru secara normatif untuk menghindari ghibah, tim PKM ini memilih pendekatan yang lebih sistematis. Mereka mengintegrasikan metode manajemen mutu Six Sigma yang biasa dipakai di industri manufaktur dengan prinsip-prinsip syariat Islam.
Melalui tahapan Define, Measure, Analyze, Improve, dan Control (DMAIC), mereka melakukan survei, wawancara, dan observasi terhadap 235 pendidik dan tenaga kependidikan dari berbagai lembaga.
Hasil awalnya cukup mengejutkan: tingkat penyimpangan perilaku ghibah mencapai rata-rata 190.000 Defects Per Million Opportunities (DPMO) dengan tingkat sigma 2,4, menandakan proses pengendalian etika belum berjalan optimal.
Dari analisis Pareto, 82 persen praktik ghibah ternyata bersumber dari lima faktor utama: keterlibatan sebagai pendengar, keterlibatan langsung sebagai pelaku, lemahnya komitmen menghindari ghibah, rendahnya kesadaran terhadap dampak ghibah, serta kurangnya pemahaman tentang larangan ghibah.
“Pendekatan ini membuat kami lebih mudah memetakan sumber masalah dan mencari solusi berbasis data, bukan sekadar asumsi,” terang Fahmiyah.
Strategi Islami untuk Etika Sosial
Selain analisis statistik, tim juga menggunakan pendekatan SWOT untuk merumuskan strategi pengendalian. Hasilnya, mereka menyusun empat langkah utama:
- Strategi SO (Strength–Opportunity): Memperkuat budaya komunikasi positif dengan nilai-nilai Islam.
- Strategi WO (Weakness–Opportunity): Menyelenggarakan pelatihan komunikasi Islami berbasis hasil riset.
- Strategi ST (Strength–Threat): Meneguhkan peran guru dan tenaga pendidik sebagai teladan etika sosial.
- Strategi WT (Weakness–Threat): Membangun sistem penghargaan dan sanksi berbasis nilai moral Islam.
Setelah metode tersebut diterapkan di lapangan selama tiga bulan, hasilnya cukup menggembirakan. Angka praktik ghibah turun 41 persen, sementara kesadaran komunikasi positif meningkat 63 persen di kalangan guru dan staf. Selain itu, level sigma pun naik ke 3,1, menandakan peningkatan signifikan dalam penerapan nilai-nilai etika Islami.
“Integrasi nilai-nilai syariat dengan metode Six Sigma dan SWOT merupakan langkah kreatif yang menunjukkan kemampuan mahasiswa dalam menggabungkan ilmu manajemen modern dengan prinsip Islam,” ujar Eni Fariyatul Fahyuni.
Menurutnya, ini bukan hanya penelitian akademik, tetapi juga dakwah berbasis riset yang aplikatif.
Dakwah Berbasis Ilmu dan Data
Penelitian ini menjadi bukti bahwa dakwah tidak harus selalu disampaikan di atas mimbar, tetapi bisa diwujudkan melalui inovasi ilmiah yang solutif. Tim ini berharap hasil risetnya tidak berhenti di meja lomba PKM atau Pekan Ilmiah Mahasiswa Nasional (PIMNAS), tetapi benar-benar diimplementasikan di sekolah-sekolah dan kampus Islam.
“InsyaAllah kami akan terus mengembangkan metode ini agar bisa menjadi pedoman pembinaan karakter Islami di lembaga pendidikan Muhammadiyah,” tutur Novita menutup perbincangan.
Dengan karya ini, mahasiswa Umsida menegaskan bahwa semangat dakwah Islam berkemajuan bisa bersanding dengan kecanggihan metode ilmiah modern.
Ghibah pun bukan sekadar dosa lisan, tetapi juga tantangan sosial yang dapat dikendalikan dengan ilmu, data, dan keikhlasan untuk menegakkan akhlak mulia di dunia pendidikan. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments