Inovasi membanggakan kembali lahir dari Universitas Muhammadiyah Lamongan (Umla). Rohmatul Badiyah, mahasiswi Program Studi S1 Fisika, sukses menciptakan alat pendeteksi gangguan bipolar berbasis analisis frekuensi suara percakapan.
Karya ini dibimbing oleh Uswatun Chasanah, M.Si selaku pembimbing utama dan Asmaul Lutfi Marufah, M.Si sebagai pembimbing kedua.
Alat temuannya, yang dinamai “Bipohear”, resmi didemonstrasikan di hadapan awak media cetak dan televisi di Laboratorium Fisika Umla, Selasa (7/10/2025).
Mahasiswi asal DS. Karanglangit Dsn. Blangit, Kec. Lamongan Kab. Lamongan ini menjelaskan bahwa ide tersebut berawal dari Program Kreativitas Mahasiswa (PKM) yang lolos pendanaan dari Diktiristek tahun 2024, lalu dikembangkan lebih lanjut hingga menjadi topik skripsinya.
“Saya ingin menciptakan alat yang bisa membantu masyarakat dan tenaga medis mendeteksi gangguan bipolar sejak dini, agar pasien dapat segera mendapatkan penanganan yang tepat,” tutur Rohmatul Badiyah.
Secara teknis, Bipohear bekerja dengan memanfaatkan sensor MAX9814 yang terintegrasi dengan mikrokontroler Arduino Nano dan modul Internet of Things (IoT). Sistem ini mampu merekam, menganalisis, dan menampilkan anomali frekuensi suara percakapan pasien yang menjadi indikator perubahan suasana hati ekstrem pada penderita bipolar.
Rohmatul menjelaskan, suara manusia menyimpan banyak informasi penting. Pada pasien bipolar, pergeseran emosi dapat terdeteksi melalui perubahan frekuensi suara—fase mania ditandai dengan suara tinggi dan cepat, sementara fase depresi ditandai nada rendah dan monoton.
“Dari sisi fisika, suara adalah gelombang longitudinal. Getaran partikelnya searah dengan rambatan gelombang. Frekuensi suara yang dihasilkan dari berbagai emosi dapat diukur secara kuantitatif, lalu dibandingkan dengan data referensi ilmiah untuk menentukan adanya indikasi bipolar,” jelasnya.
Karya ilmiah ini juga telah dipublikasikan di Jurnal Nasional Gravity dengan judul “Design and Development of a Bipolar Disorder Detection Device Based on Anomalies in the Frequency of Conversation Sound Waves Using the Max9814 Sensor.”
Atas prestasi tersebut, UMLA menetapkan Bipohear sebagai salah satu karya terbaik tahun 2025 dan memberikan penghargaan khusus kepada Rohmatul Badiyah pada Wisuda ke-7 Umla, Sabtu (11/10/2025), bersama 843 wisudawan lainnya.
Pihak universitas mengapresiasi capaian tersebut sebagai bukti bahwa riset mahasiswa mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat. Ke depan, Umla berencana mengembangkan alat ini agar dapat digunakan di klinik maupun lingkungan keluarga untuk membantu pemantauan pasien bipolar secara mandiri.
Melalui inovasi ini, Umla menegaskan komitmennya untuk terus melahirkan karya riset yang aplikatif dan berdaya guna, sejalan dengan semangat dakwah ilmu pengetahuan yang bermanfaat bagi umat dan kemanusiaan. (*)





Salah ketik kak itu mahasiswa berasal dari Ds karang Langit Lamongan bukan dari Laren mohon di teliti lagi 🙏🏻