Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah sekaligus Mendikdasmen, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed, mengingatkan pentingnya persatuan umat Islam dan bahaya provokasi yang dapat memecah belah ukhuwah.
Dia menegaskan bahwa umat Islam harus “berpegang teguh pada tali Allah” sebagaimana pesan dalam Surah Ali Imran ayat 103.
“Allah memerintahkan kita untuk berpegang teguh pada tali Allah dan jangan bercerai-berai. Waasimuu bihablillahi jami’an wala tafarraqu. Ini pesan sangat jelas agar kita tidak mudah diadu domba,” ujar Mu’ti dalam ceramahnya yang dilansir di laman Youtube Media Center Mesjid Gedhe Kauman.
Menurutnya, ayat tersebut turun di Madinah pada masa Rasulullah SAW berhasil mempersatukan kaum Muhajirin dan Anshar, termasuk dua suku besar di Madinah, Aus dan Khazraj, yang sebelumnya saling bermusuhan.
Persatuan mereka, lanjut Mu’ti, justru membuat kaum Yahudi tidak senang karena kehilangan pengaruh dan kekuasaannya.
“Orang Yahudi di Madinah itu tidak rela melihat umat Islam rukun. Mereka terbiasa menguasai dengan cara memecah-belah. Maka ketika umat Islam bersatu, kekuasaan mereka goyah,” jelasnya.
Karena itulah, kata Mu’ti, Allah menurunkan peringatan agar kaum Muslimin tidak terpecah, baik karena perbedaan suku, golongan, maupun tafsir agama. Ia mengingatkan bahwa ikhtilaf (perbedaan pendapat) adalah hal yang wajar, tetapi tafaruq (perpecahan) adalah larangan tegas dalam Al-Qur’an.
“Perbedaan pendapat itu wajar, tapi perpecahan itu dosa. Karena itu, umat Islam perlu memahami bahwa perbedaan fiqh atau mazhab tidak boleh menjauhkan kita dari ukhuwah,” tegasnya.
Dalam ceramahnya, Prof. Mu’ti juga menyinggung makna hablullah atau tali Allah. Para ulama menafsirkan istilah itu sebagai agama Allah (dinullah) yang menjadi ikatan kuat antarumat Islam.
Dia mengaitkannya dengan konsep hablum minallah (hubungan dengan Allah) dan hablum minannas (hubungan dengan sesama manusia) yang harus berjalan seimbang.
“Sebagian orang menganggap hablum minallah dan hablum minannas itu terpisah. Padahal tidak. Kebaikan kita kepada sesama manusia itu justru bentuk pengamalan hablum minallah,” ungkapnya.
Mu’ti mencontohkan, berbuat baik kepada tetangga, menjaga lingkungan, hingga tertib berlalu lintas adalah bagian dari pengamalan ajaran Islam.
“Lampu lalu lintas itu menurut saya bagian dari pengamalan ajaran Islam. Supaya orang itu tertib dan tidak membahayakan orang lain. Nabi bersabda, menghilangkan duri dari jalan itu sedekah. Jadi patuh aturan itu bagian dari iman,” tuturnya.
Lebih jauh, Prof. Mu’ti mengingatkan agar umat Islam tidak merasa sendiri dalam menghadapi masalah hidup, karena Allah selalu dekat dan mengetahui isi hati manusia.
“Allah itu lebih dekat dari urat leher kita. Aqrabu min hablil warid. Jangan pernah merasa sendiri, karena Allah tahu isi hati dan setiap bisikan kita,” pesannya.
Ia juga mengingatkan agar umat Islam tidak berbuat dosa dengan dalih tak ada yang tahu, sebab Allah adalah saksi atas setiap perbuatan manusia, baik yang tampak maupun tersembunyi.
“CCTV bisa mati, tapi dua malaikat pencatat, Raqib dan Atid, tidak pernah berhenti mencatat. Jadi jangan pernah merasa tidak diawasi,” kata Mu’ti disambut tawa jamaah.
Mu’ti engingatkan untuk memperkuat keimanan, menjaga ukhuwah, dan mempererat persaudaraan, baik dalam kehidupan pribadi, sosial, maupun berbangsa.
“Tuhan kita satu, Rasul kita satu, kiblat kita satu. Maka jangan biarkan perbedaan kecil menjauhkan kita dari tali Allah. Karena dengan persatuan itulah kita kuat,” pungkasnya. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments