Menggoreskan tinta dalam sebuah tanda tangan sejatinya bukanlah pekerjaan yang sulit. Satu tarikan garis, satu lekukan nama. Namun di balik kesederhanaannya, tersimpan tanggung jawab yang amat besar, bukan hanya di hadapan manusia, tetapi juga di hadapan Allah Swt.
Inilah pesan yang disampaikan Muchamad Arifin kepada media pwmu.co saat menandatangani amanah sebagai Ketua Takmir Masjid At-Taqwa Pogot Surabaya, Ahad (21/12/2025). Sebuah momen yang tampak sederhana, namun sarat makna spiritual dan tanggung jawab moral.
“Tinta ini bukan sekadar hitam di atas kertas,” menjadi pesan yang menggetarkan nurani. Ia adalah saksi. Saksi bahwa sebuah amanah telah diterima, dan sebuah janji telah diikrarkan untuk menjaga kepercayaan umat dengan sepenuh kesungguhan.
Terlebih, menjadi takmir Masjid At-Taqwa Pogot Surabaya bukanlah perkara yang mudah. Masjid yang berdiri di tepi jalan utama ini tak pernah sepi dari jamaah. Setiap waktu shalat, setiap kegiatan keagamaan, selalu ada denyut kehidupan umat yang bernaung di dalamnya. Ramainya jamaah adalah berkah, namun sekaligus amanah besar yang menuntut kesiapan lahir dan batin.
Masjid dengan aktivitas yang padat membutuhkan manajemen yang serius dan profesional. Bukan sekadar mengatur jadwal imam dan muazin, tetapi juga mengelola kebersihan, kenyamanan jamaah, program dakwah, keuangan, hingga pelayanan sosial. Semua itu menuntut ketelitian, keterbukaan, kerja tim, dan keikhlasan yang terus dijaga.
Dalam satu goresan tanda tangan, terkandung ikrar sunyi: untuk bekerja dengan tertib, melayani dengan rendah hati, dan memimpin dengan keteladanan. Amanah takmir bukan tentang kedudukan, tetapi tentang kesiapan untuk lebih banyak hadir, lebih banyak mendengar, dan lebih banyak berkorban.
Muchamad Arifin menegaskan bahwa setiap amanah kelak akan dimintai pertanggungjawaban. Jika manusia bisa lupa, maka Allah SWT tidak pernah lengah. Karena itu, tanda tangan bukanlah akhir dari sebuah proses, melainkan awal dari pengabdian panjang, pengabdian yang menuntut kejujuran, profesionalisme, dan ketakwaan.
Narasi ini mengingatkan kita semua: sebelum tangan menggoreskan tinta, hati harus benar-benar siap. Siap mengelola amanah dengan sungguh-sungguh, siap menjaga kepercayaan jamaah, dan siap mempertanggungjawabkannya kelak di hadapan Allah SWT. Sebab amanah sejati bukan tentang siapa yang dipercaya, melainkan bagaimana kepercayaan itu dijaga hingga akhir. (*)


0 Tanggapan
Empty Comments