Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Makna Kurban dari Kisah Qabil dan Habil hingga Nabi Ibrahim Dibahas dalam Khutbah Idul Adha PCM Gandusari

Iklan Landscape Smamda
Makna Kurban dari Kisah Qabil dan Habil hingga Nabi Ibrahim Dibahas dalam Khutbah Idul Adha PCM Gandusari
pwmu.co -
Haji Heri Efendi saat menyampaikan khutbah (Kamas Tontowi/PWMU.CO)

PWMU.CO – Setelah melakukan analisa kondisi lapangan pada Kamis (5/6/2025) sore, para pemuda Muhammadiyah bersama Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Gandusari Trenggalek, Anang Wirawan, menyimpulkan bahwa pelaksanaan Shalat Idul Adha yang semula direncanakan di lapangan Desa Gandusari tidak memungkinkan untuk dilaksanakan. Keputusan ini diambil karena hujan deras yang mengguyur wilayah tersebut sepanjang malam, sehingga kondisi lapangan tidak layak digunakan.

Sebagai alternatif, PCM Gandusari memutuskan untuk menggelar Shalat Idul Adha di halaman Kantor Balai Desa Gandusari, Jumat (6/6/2025).

Pada Jumat pagi, cuaca di Gandusari dan sekitarnya sangat cerah. Sejak pukul enam pagi, ribuan jamaah Muhammadiyah Gandusari mulai berdatangan dan memenuhi halaman Kantor Balai Desa Gandusari. Mereka mengenakan pakaian terbaik, dengan semangat dan sukacita untuk menunaikan Shalat Idul Adha secara berjamaah.

Fajar Santoso tampak sigap mengatur lalu lintas di sekitar lokasi Shalat Idul Adha, membantu para jamaah menyeberangi jalan raya dengan aman. Sambil tetap fokus, ia sesekali bercengkerama ramah dengan para jamaah yang melintas, menciptakan suasana hangat tanpa mengurangi kewaspadaannya. Tindakan ini dilakukan agar arus lalu lintas tetap lancar dan para jamaah merasa nyaman menyeberang, mengingat lokasi Kantor Balai Desa Gandusari berada persis di pinggir jalan raya.

Fajar memang telah terbiasa menjalankan peran ini, terutama saat ada agenda besar Muhammadiyah di sekitar wilayah Kecamatan Gandusari.

Sementara itu, para pimpinan Muhammadiyah menyambut para jama’ah satu per satu dengan penuh kehangatan dan kebahagiaan. Suasana semakin khusyuk ketika salah seorang pengurus mulai mengumandangkan takbir dan bergantian dengan jamaah yang hadir dalam Shalat Idul Adha.

Di antara barisan shaf, kotak-kotak amal tampak berseliweran, mengingatkan jama’ah untuk menunaikan sedekah melalui Persyarikatan Muhammadiyah. Kehadiran kotak amal ini seakan menjadi pengingat akan sabda Rasulullah dalam hadis shahih, bahwa sedekah dapat menjadi penolak bala.

Ketika waktu menunjukkan pukul 06.30 WIB, Bambang Nur Muis memberikan pengumuman kepada para jamaah bahwa Shalat Idul Adha akan segera dimulai.

Idul Adha yang Sarat Makna Pengorbanan

Haji Heri Efendi kemudian menempati tempat sebagai imam, dan sebelum memulai Shalat Idul Adha, beliau mengingatkan kepada jamaah bahwa pada rakaat pertama disunnahkan bertakbir sebanyak tujuh kali, dan pada rakaat kedua sebanyak lima kali. Penjelasan ini merujuk pada hadis Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Aisyah RA. Ia bersabda:

Iklan Landscape UM SURABAYA

“Sesungguhnya Rasulullah SAW saat bertakbir pada shalat Idul Fitri dan Idul Adha sebanyak tujuh takbir dan pada rakaat kedua bertakbir sebanyak lima takbir.” (HR Abu Dawud)

Setelah Shalat Idul Adha selesai, Haji Heri Efendi tampil sebagai khatib. Dalam khutbahnya, beliau mengawali dengan penjelasan bahwa Idul Adha merupakan hari raya besar umat Islam yang sarat dengan makna pengorbanan. Ia mengisahkan tentang keteladanan Nabi Ibrahim AS yang dengan penuh keikhlasan menerima perintah Allah untuk menyembelih putra tercintanya, Nabi Ismail AS, sebagai bentuk ketaatan.

Sebelum peristiwa besar tersebut, Haji Heri Efendi juga mengingatkan jamaah tentang kisah kurban pertama dalam sejarah manusia, yaitu Qabil dan Habil, dua putra Nabi Adam AS. Qabil memberikan kurban dari hasil yang buruk, sementara Habil mempersembahkan kurban terbaik yang dimilikinya, yaitu seekor kambing terbaik.

“Allah SWT menolak kurban yang dipersembahkan oleh Qabil, sementara kurban milik Habil yakni seekor kambing terbaik, diterima dan diangkat ke langit,” tuturnya.

Ia juga menyampaikan, beberapa ahli tafsir menyebutkan bahwa kambing kurban milik Habil itulah yang kemudian dijadikan Allah sebagai pengganti Nabi Ismail AS dalam peristiwa pengorbanan. (*)

Penulis Kamas Tontowi Editor Ni’matul Faizah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu