Setiap manusia memiliki dua misi utama, yakni sebagai khalifah di bumi dan sebagai hamba yang beribadah. Kedua peran ini harus diwujudkan melalui kehidupan yang bermanfaat, sukses, dan bahagia.
Hal tersebut disampaikan oleh Ustaz Adi Hidayat (UAH) saat menjelaskan bagaimana Islam memandang hakikat hidup sebagai amanah dari Allah.
Dia menekankan bahwa setiap manusia dituntut mampu menyeimbangkan tanggung jawab duniawi dan spiritual dalam kehidupannya.
Menurut UAH, tiga hal tersebut menjadi kunci utama dalam meraih kemudahan hidup, keselamatan, serta kesuksesan, baik di dunia, alam kubur, hingga kehidupan akhirat.
“Dengan pujian, syukur, dan takwa, kita mendapatkan jaminan keselamatan dan kedamaian dalam seluruh fase kehidupan,” ujarnya seperti dilansir di laman Youtube Adi Hidayat Official.
UAH menjelaskan, manusia diciptakan dengan dua misi besar. Pertama, sebagai khalifah di muka bumi yang bertugas menghadirkan manfaat dan kebaikan. Hal ini merujuk pada firman Allah dalam Surah Al-Baqarah ayat 30.
Kedua, manusia diciptakan untuk beribadah kepada Allah, sebagaimana dijelaskan dalam Surah Az-Zariyat ayat 56.
Dari dua misi tersebut, seluruh aktivitas kehidupan sejatinya harus berada dalam bingkai ibadah. Tidak ada aktivitas yang lepas dari nilai penghambaan kepada Allah.
“Apapun profesinya, apapun aktivitasnya, semuanya harus bernilai ibadah dan menghadirkan manfaat,” tegas wakil ketua Majelis Tabligh Pimpinan Pusat Muhammadiyah itu.
Tiga Indikator Kehidupan
Lebih lanjut, UAH menguraikan bahwa peran khalifah diwujudkan melalui tiga capaian utama, yakni manfaat, kesuksesan, dan kebahagiaan.
Pertama, setiap aktivitas harus memberikan manfaat. Seorang pemimpin harus menjadi pemimpin yang bermanfaat, guru mengajar hal yang bermanfaat, hingga ucapan dan pendengaran pun harus bernilai kebaikan.
Kedua, manusia diberi perangkat oleh Allah untuk meraih kesuksesan. Tidak ada manusia yang sejatinya lemah atau tidak mampu, selama ia mau menjalankan amanah dengan optimal.
“Tidak ada manusia yang bodoh dalam menjalankan tugas hidupnya, kecuali dia yang tidak mau berusaha menyempurnakannya,” jelasnya.
Ketiga, kebahagiaan menjadi penyeimbang dari kesuksesan. Ia mengingatkan agar tidak ada manusia yang sukses secara materi, namun kehilangan kebahagiaan dalam hidupnya.
UAH menegaskan, identitas utama manusia sebagai makhluk Allah adalah ibadah. Semua aktivitas yang diniatkan sebagai ibadah menjadi bukti keimanan seseorang.
“Ibadah itu seperti identitas diri kita di hadapan Allah. Jika kita mengaku beriman, maka buktinya adalah ibadah,” ungkapnya.
Dia juga mencontohkan bahwa aktivitas sederhana seperti bekerja, mengajar, hingga berbicara harus diniatkan sebagai ibadah agar bernilai di sisi Allah.
Makna Umur dan Ajal
Salah satu poin penting dalam ceramah tersebut adalah pemaknaan umur. Ia menjelaskan bahwa umur bukan sekadar hitungan tahun, melainkan indikator sejauh mana seseorang telah menghadirkan manfaat, kesuksesan, dan kebahagiaan dalam hidupnya.
Setiap manusia memiliki batas waktu yang disebut ajal. Tidak ada yang abadi, termasuk para nabi dan orang-orang mulia.
“Pertanyaannya bukan berapa umur kita, tapi apa yang sudah kita lakukan selama umur itu,” tegasnya.
Dia mengajak jamaah untuk menjadikan setiap detik kehidupan sebagai investasi kebaikan, karena seluruh amal akan dipertanggungjawabkan di hadapan Allah kelak.
UAH juga mengingatkan pentingnya evaluasi diri sebagaimana seseorang mengevaluasi pekerjaan di dunia. Ia mengibaratkan kehidupan sebagai laporan yang kelak akan dibaca kembali di hadapan Allah.
“Iqra kitabak, baca laporan hidupmu. Apakah sudah sesuai dengan misi yang Allah tetapkan?” ujarnya.
Karena itu, setiap individu diminta untuk terus memperbaiki diri agar hari ini lebih baik dari hari kemarin. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments