Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Malam Likuran di Masjid Al Falah: Teduh yang Menghidupkan Ramadan

Iklan Landscape Smamda
Malam Likuran di Masjid Al Falah: Teduh yang Menghidupkan Ramadan
Suasana i'tikaf di Masjid Al Falah Surabaya. Foto: Agus Wahyudi/PWMU.CO

Udara dinihari di kawasan Masjid Al Falah Surabaya, Jalan Raya Darmo, berasa sejuk pada Jumat (13/3/2016). Waktu menunjukkan lewat tengah malam, tetapi halaman masjid justru semakin ramai. Dari berbagai arah, jamaah berdatangan dengan langkah tenang, sebagian membawa sajadah, sebagian lagi hanya menggenggam mushaf kecil.

Malam itu adalah malam likuran, salah satu malam yang bagi banyak Muslim memiliki makna istimewa di bulan Ramadan.

Bagi jamaah di Surabaya dan berbagai daerah di Jawa Timur, Masjid Al Falah sudah lama menjadi tujuan utama untuk merasakan suasana qiyamul lail yang khusyuk.

Saya berdiri sejenak di pelataran masjid, mengamati arus manusia yang terus mengalir. Mereka datang dari kota-kota di Jawa Timur. Seolah ada magnet spiritual yang menarik ribuan orang menuju satu titik yang sama.

Tahun itu, menjadi momen istimewa bagi Masjid Al Falah. Renovasi yang dilakukan beberapa waktu sebelumnya akhirnya rampung. Wajah masjid tampak lebih segar dan elegan.

Fasad bangunan terlihat cantik dengan desain yang lebih modern namun tetap mempertahankan karakter masjid sebagai ruang ibadah yang teduh. Cahaya lampu memantul lembut pada dinding luar, menciptakan suasana hangat bagi setiap orang yang datang.

Perubahan paling terasa ada pada kapasitas ruang. Lantai dua di sayap kiri dan kanan kini sudah dapat digunakan secara penuh. Ruang tambahan ini sangat membantu menampung jamaah yang biasanya meluber hingga ke selasar masjid.

Di bagian lain, fasilitas juga tampak jauh lebih tertata. Toilet terlihat bersih dan nyaman. Bahkan tersedia fasilitas khusus bagi lansia dan kaum difabel. Hal kecil seperti ini membuat jamaah merasa lebih diperhatikan.

Masjid terasa semakin inklusif. Ramah bagi siapa saja yang datang untuk beribadah.

Malam Likuran di Masjid Al Falah: Teduh yang Menghidupkan Ramadan
Jamaah melaksanakan qiyamul lain. Foto: Agus Wahyudi/PWMU.CO

Menunggu Qiyamul Lail

Sejak selesai salat tarawih, banyak jamaah memilih tetap bertahan di dalam masjid. Mereka tidak pulang. Sebagian duduk bersandar di tiang-tiang masjid, sebagian lagi membaca Al-Qur’an dengan suara lirih.

Di sudut lain, beberapa orang tampak menundukkan kepala dalam zikir panjang. Suasana di dalam masjid terasa sangat hening. Tidak ada keramaian yang berlebihan. Bahkan percakapan pun terdengar pelan.

Beberapa jamaah memilih berbaring sejenak untuk memejamkan mata, menunggu waktu qiyamul lail. Di antara mereka tampak juga anak-anak yang tertidur di pangkuan orang tuanya.

Yang menarik, suasana masjid sangat ramah anak. Anak-anak yang tertidur dibiarkan beristirahat tanpa terganggu. Tidak ada teguran keras atau larangan. Semua seolah memahami bahwa Ramadan adalah ruang belajar bersama bagi seluruh keluarga.

Sekitar pukul 01.30 WIB, suasana mulai berubah. Petugas masjid memberi isyarat bahwa salat qiyamul lail segera dimulai. Jamaah yang sebelumnya duduk atau bersandar perlahan bangkit.

Dalam hitungan menit, ribuan orang bergerak serentak merapatkan barisan. Shaf-shaf terbentuk dengan cepat dan rapi.

Petugas yang mengatur barisan tampak sigap. Mayoritas adalah anggota Remaja Masjid Al Falah yang bergerak cekatan mengarahkan jamaah. Dengan suara yang tenang mereka mengingatkan agar shaf dirapatkan dan diluruskan.

Bagi jamaah yang tidak mengikuti qiyamul lail, dipersilakan duduk di bagian belakang masjid. Pengaturan ini membuat suasana tetap tertib meskipun jumlah jamaah sangat banyak.

Ketika imam mulai membaca ayat-ayat Al-Qur’an, keheningan seolah menyelimuti seluruh ruang.

Iklan RSI Siti Aisyah Madiun

Di saat-saat seperti itu, Masjid Al Falah terasa seperti samudra manusia yang sedang tenggelam dalam doa.

Malam Likuran di Masjid Al Falah: Teduh yang Menghidupkan Ramadan
Anak-anak ikut bersama orang tuanya di Masjid Al Falah. Foto: Agus Wahyudi/PWMU.CO

Di dalam masjid juga terpasang dua layar LED besar. Layar ini tidak hanya menampilkan jadwal kegiatan masjid, tetapi juga berbagai aktivitas sosial yang dilakukan oleh Yayasan Masjid Al Falah.

Beberapa video menampilkan kegiatan bantuan bagi korban banjir di Sumatera dan Aceh. Ada pula dokumentasi kegiatan dakwah yang berlangsung sepanjang Ramadan. Mulia dari kuliah subuh hingga ceramah sebelum tarawih.

Di layar tersebut juga terpampang jadwal para mubaligh yang mengisi kajian Ramadan. Beberapa di antaranya adalah tokoh-tokoh dari lingkungan Muhammadiyah, seperti KH. Abdul Basith yang menjabat Ketua Majelis Tabligh PWM Jawa Timur, serta Tjatur Prijambodo (doses Universitas Muhammadiyah Surabaya).

Melihat jadwal itu, saya merasa masjid ini bukan hanya tempat salat. Ia juga menjadi pusat pendidikan umat—tempat ilmu dan amal bertemu.

Sahur yang Menghangatkan Kebersamaan

Sementara itu di selasar masjid, aktivitas lain juga berlangsung. Beberapa relawan sibuk menata paket makanan untuk sahur. Masjid menyediakan sahur gratis bagi jamaah.

Yang menarik, penyediaan makanan ini melibatkan beberapa pelaku UKM di sekitar masjid. Menu sederhana seperti sayur dan lauk pauk disiapkan dalam porsi yang cukup untuk ribuan orang. Aroma makanan perlahan menyebar di udara dinihari.

Setelah qiyamul lail selesai, tepat sekitar pukul 03.00 WIB, jamaah perlahan bergerak menuju area sahur. Tidak ada dorong-dorongan.

Semua berjalan tertib, seolah sudah memahami ritme kebersamaan yang terbangun selama bertahun-tahun.

Di meja-meja panjang itu, orang-orang yang sebelumnya tidak saling mengenal duduk berdampingan.

Ada yang datang dari kota berbeda. Ada yang baru pertama kali ke Masjid Al Falah. Ada pula yang sudah puluhan tahun menjadikan tempat ini sebagai tujuan malam likuran.

Tetapi pada saat sahur itu, semua terasa sama. Semua adalah jamaah yang sedang merayakan Ramadan dengan cara yang sederhana namun penuh makna.

Malam likuran di Masjid Al Falah bukan sekadar agenda tahunan. Aktivitas itu  sebagai sebuah pengalaman spiritual yang menyatukan ribuan orang dalam keheningan yang sama.

Di tengah kota Surabaya yang tak pernah benar-benar tidur, masjid ini menghadirkan ruang untuk berhenti sejenak. Berhenti dari hiruk-pikuk kehidupan. Berhenti untuk menundukkan hati.

Dan di dalam keheningan itulah, Ramadan terasa benar-benar hidup. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu
Logo Depan Satriadev
Logo Belakang Satriadev
⚡ 1 Dekade ⚡