Pernyataan “malu tidak puasa bukti iman” berakar dari konsep bahwa rasa malu (al-haya’) adalah cabang keimanan yang mendorong seseorang untuk taat kepada Allah dan enggan melakukan perbuatan maksiat atau meninggalkan kewajiban.
Dalam konteks Ramadan, rasa malu berperan sebagai kontrol diri agar tidak meninggalkan puasa tanpa uzur syar’i.
Berikut adalah penjabaran mengapa malu tidak puasa dianggap sebagai bukti iman:
1. Refleksi Iman dan Ketakwaan: Puasa adalah wujud ketaatan tertinggi karena merupakan ibadah rahasia antara hamba dan Allah. Seseorang yang beriman akan merasa malu kepada Allah jika melanggar perintah-Nya (tidak puasa), karena ia sadar Allah senantiasa mengawasinya.
2. Benteng dari Perbuatan Maksiat: Sifat malu membentengi seseorang dari perilaku rendah atau tidak sopan. Malu meninggalkan puasa adalah tanda bahwa keimanan seseorang masih berfungsi untuk menahan hawa nafsu.
3. Malu kepada Sesama dan Diri Sendiri: Selain malu kepada Allah, rasa malu kepada sesama manusia dan kepada diri sendiri saat meninggalkan kewajiban menunjukkan bahwa hati kecilnya masih menghargai nilai-nilai keislaman.
4. Hadis tentang Rasa Malu: Rasulullah SAW bersabda, “Malu adalah sebagian dari iman” (HR. Muslim). Orang yang tidak memiliki rasa malu—termasuk tidak malu meninggalkan puasa—dianggap kehilangan sebagian besar imannya.
5. Fungsi Kontrol Sosial: Rasa malu, termasuk malu tidak berpuasa di depan umum, adalah salah satu bentuk menjaga syiar Ramadan dan menghormati bulan suci.
Sebaliknya, hilangnya rasa malu untuk terang-terangan tidak berpuasa (tanpa alasan sah) di depan umum merupakan indikasi melemahnya iman seseorang.
“Malu sebagian dari iman” (Al-haya’u minal iman) adalah hadis riwayat Bukhari dan Muslim yang menegaskan bahwa rasa malu merupakan salah satu cabang keimanan yang utama, memotivasi perbuatan baik, dan mencegah maksiat. Rasa malu (hayaa) mencakup malu kepada Allah (takut berbuat dosa) dan malu kepada sesama (menjaga akhlak), yang jika hilang, menandakan lemahnya iman seseorang.
اَلإِيْمَانُ بِضْعٌ وَسَبْعُوْنَ أَوْ بِضْعٌ وَسِتُّوْنَ شُعْبَةً، فَأَفْضَلُهَا قَوْلُ لاَ إِلهَ إِلاَّ اللهُ، وَأَدْنَاهَا إِمَاطَةُ اْلأَذَى عَنِ الطَّرِيْقِ، وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ اْلإِيْمَانُ.
“Iman itu memiliki lebih dari tujuh puluh atau enam puluh cabang. Cabang yang paling tinggi adalah perkataan ‘Lâ ilâha illallâh,’ dan yang paling rendah adalah menyingkirkan duri (gangguan) dari jalan. Dan malu adalah salah satu cabang Iman).” (HR. Bukhâri dari Shahabat Abû Hurairah Radhiyallahu anhu).
Malu adalah akhlak (perangai) yang mendorong seseorang untuk meninggalkan perbuatan-perbuatan yang buruk dan tercela, sehingga mampu menghalangi seseorang dari melakukan dosa dan maksiat serta mencegah sikap melalaikan hak orang lain.
Di antara bentuk malu yang pertama adalah malunya seorang hamba kepada Tuhannya. Yang kedua adalah malunya seorang hamba kepada sesama.
Adapun malunya seorang hamba kepada Allah, telah dijelaskan oleh Rasulullah saw. di dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi secara marfu’ bahwa beliau pernah bersabda;
استحيوا من الله حق الحياء » . قالوا: إنا نستحيي يا رسول الله. قال: « ليس ذلكم. ولكن من استحيا من الله حق الحياء فليحفظ الرأس وما وعى، وليحفظ البطن وما حوى، وليذكر الموت والبلى. ومن أراد الآخرة ترك زينة الدنيا، فمن فعل ذلك فقد استحيا من الله حق الحياء »
“Malulah kalian kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya” Para sahabat berkata; “Sungguh kami malu (kepada-Nya) wahai Rasulullah” Beliau bersabda; “Bukan itu, orang yang malu kepada Allah dengan sebenarnya hendaknya menjaga kepala dan yang berada di sekitar kepala; menjaga perut dan apa saja yang masuk ke perut; menjaga kemaluan, dua tangan, dan dua kaki. Dan hendaklah ia mengingat mati dan kehancuran. Barangsiapa yang menginginkan akhirat, niscaya ia meninggalkan perhiasan hidup di dunia dan lebih mementingkan akhirat dari pada dunia. Barangsiapa yang melakukan hal tersebut, maka sungguh ia telah malu kepada Allah dengan sebenarnya.”
Dalam hadis di atas menjelaskan bahwa di antara tanda malu kepada Allah yaitu dengan menjaga anggota badan dari maksiat kepada-Nya, dan juga dengan banyak mengingat mati dan tidak panjang angan-angan terhadap dunia, tidak tenggelam dan memperturutkan syahwat sehingga melalaikan akhirat.
Sedangkan malunya Allah kepada seorang hamba adalah malu bila hambanya berdoa dan memohon kepada-Nya untuk tidak mengabulkannya, dan malu untuk mengadzab hambanya apabia hamba tersebut berbuat maksiat kepadanya.
Orang yang masih memiliki rasa malu kepada sesama pastinya ia akan menjauhkan diri dari akhlak dan perilaku yang tercela, menjauhkan diri dari berkata kotor, tidak bangga dengan perbuatan maksiat dan sebagainya, malu bila menampakkan aibnya kepada orang lain dan menghindarkan diri dari akhlak yang tercela. Benarlah sabda Nabi Shalallahu ‘Alaihi Wassallam yang mengatakan;
إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَاصْنَعْ مَا شِئْتَ
“Bila engkau tidak punya rasa malu, berbuatlah sesukamu”. (HR.Tirmidzi)
Dan malu kepada Allah adalah dengan menjauhkan diri dari perkara-perkara yang dilarang oleh Allah baik ketika ada orang maupun dikala sendiri.
Malu kepada Allah seperti ini adalah malu yang didapat melalui proses ma’rifatullah (mengenal Allah), mengenal keagungan-Nya, merasakan kedekatan-Nya dengan hamba-Nya, merasa diawasi oleh-Nya dan kesadaran bahwa Allah selalu mengetahui mata-mata yang berkhianat dan apa yang tersimpan di dalam hati manusia.
Malu seperti ini merupakan derajat tertinggi dari suatu iman, bahkan malu adalah derajat hiasan yang paling tinggi. Ibnu Abbas berkata;
الَحيَاءُ وَالإِيْمَانُ فِي قَرْنٍ، فَإِذَا نَزَعَ الْحَيَاءُ تَبِعَه اْلآخر
“Iman dan malu adalah satu kesatuan. Jika malu telah lepas maka akan diikuti iman.”
Hadis dan atsar di atas menjelaskan bahwa orang yang telah hilang sifat malunya maka tidak ada lagi yang menghalanginya untuk berbuat tercela, tidak akan sungkan lagi melakukan hal yang haram, tidak takut terhadap dosa, tidak malu berkata kotor.
Oleh karena itu ketika sifat malu semakin terkikis di zaman sekarang ini maka semakin tumbuh subur pula berbagai kemungkaran, aurat dengan bangga diperlihatkan, terang-terangan dalam berbuat keji dan memandang baik perkara-perkara yang buruk dan tercela.
Al-Zamakhshari berkata bahwa malu adalah perubahan di hati dan perasaan seseorang ketika ia takut dicela atau takut ketahuan aibnnya.
Al-Raghib berkata bahwa malu itu artinya ketidaksukaan jiwa kita dari perbuatan yang sifatnya jelek. Ketika kita tidak mau melakukan sesuatu yang sifatnya buruk, itu berarti kita punya rasa malu.
Dalam Islam, rasa malu itu mempunyai keutamaan yang banyak. Di antaranya adalah rasa malu itu merupakan salah satu perangai keimanan. Dalam hadits Nabi mengatakan:
وَالْحَيَاءُ شُعْبَةٌ مِنَ الْإِيمَانِ
“Rasa malu cabang dari keimanan.”
Hal ini menunjukkan bahwa malu bersifat wajib. Sebab seseorang apabila kehilangan rasa malu, menyebabkan hilang salah satu cabang keimanan. Apabila cabang imannya hilang, berarti mengakibatkan imannya tidak sempurna.
Maka sesuatu yang menghilangkan kesempurnaan iman itu biasanya hukumnya wajib. Dalam hadits yang dikeluarkan oleh Ibnu Majah dari hadits Anas, Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ لِكُلِّ دِينٍ خُلُقًا، وَخُلُقُ الْإِسْلَامِ الْحَيَاءُ
“Setiap agama mempunyai ciri khas akhlak dan ciri khas akhlak Islam itu rasa malu.” (HR. Ibnu Majah)
Jadi rasa malu adalah akhlak Islam. Artinya setiap orang yang mengaku dirinya Muslim, harus terlihat ciri khasnya bahwa dia pemalu. Malu untuk melakukan hal-hal yang buruk, malu di saat ia meninggalkan kebaikan. Allah mensifati diri-Nya sebagai pemalu.
Di antara sifat Allah adalah Al-Hayyiyu (Yang Maha Pemalu). Disebutkan dalam hadits yang dikeluarkan oleh Tirmidzi dan Baihaqi, dari Salman Al-Farizi bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ اللَّهَ حَيِيٌّ كَرِيمٌ يَسْتَحْيِي إِذَا رَفَعَ الرَّجُلُ إِلَيْهِ يَدَيْهِ أَنْ يَرُدَّهُمَا صِفْرًا خَائِبَتَيْنِ
“Sesungguhnya Allah Maha Hidup dan Maha Mulia, Dia merasa malu apabila seseorang mengangkat kedua tangannya kepadaNya dan kembali dalam keadaan kosong tidak membawa hasil.” (HR. Tirmidzi & Baihaqi)
Ibnul Qayyim juga menjelaskan bahws rasa malu Allah kepada hambaNya, ini jenis yang lain yang tidak bisa dipahami dan digambarkan oleh akal kita. Karena malu Allah menunjukkan kepada kedermawanan dan kebaikan.
Allah malu kepada hamba-hambaNya artinya Allah itu dermawan kepada hamba-hamba-Nya, Allah tidak mau pelit kepada hamba-hamba-Nya, Allah malu ketika hamba-hamba-Nya minta kepada-Nya ternyata Allah tidak memberinya.
Karena Allah Maha kaya, maka Allah malu untuk membuka aib hamba-hambaNya tanpa sebab. Allah juga malu dari hamba-hambaNya yang takut kepadaNya, ternyata Allah berikan adzab.
Lalu apa saja keutamaan dari memiliki rasa malu:
Pertama, bahwa malu itu sifat para Nabi, terutama Nabi Muhammad Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam. Disebutkan dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim dari Abu Sa’id Al-Khudri ia berkata:
كَانَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَشَدَّ حَيَاءً مِنْ الْعَذْرَاءِ فِي خِدْرِهَا
“Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam lebih pemalu daripada seorang gadis pingitan yang dipingit di kamarnya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Kalau Nabi melihat sesuatu yang beliau tidak suka, biasanya kami bisa melihat dari wajah beliau.
Kedua, Rasa malu itu pembuka segala kebaikan. Sebagaimana dalam hadits yang kita sebutkan tadi, bahwa Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الحَيَاءُ لاَ يَأْتِي إِلَّا بِخَيْرٍ
“Rasa malu itu tidak mendatangkan kecuali kebaikan.”
Dalam hadis yang lain Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
الْحَيَاءُ خَيْرٌ كُلُّهُ
“Malu itu adalah baik semuanya.” (HR. Muslim)
Sekarang ada yang bertanya, Rasa malu itu baik semuanya, bagaimana kalau ada orang malu untuk menuntut ilmu ?
Berarti ada rasa malu yang tidak baik? Maka para ulama mengatakan bahwa yang seperti ini sebetulnya bukan rasa malu, tapi menunjukkan kelemahan dia.
Sebab kalau dia punya rasa malu, seharusnya dia malu kalau dirinya tidak bisa, dia harus malu kalau dirinya tidak bisa menuntut ilmu padahal mereka bisa, kalau seseorang benar malu seharusnya dia menuntut ilmu.
Ketiga, Rasa malu itu menutup segala macam pintu keburukan. Berkata Fudhail bin Iyadh bahwa tanda kesengsaraan adalah hati yang keras; mata yang tak pernah menangis karena takut kepada Allah; sedikit rasa malu; sangat rakus terhadap dunia; terlalu banyak angan-angan.
Berkata Ibnu Hibban dalam kitab Raudhatul Uqala wa Nuzhatul Fudhala, kewajiban orang yang berakal senantiasa punya sifat rasa malu. Karena rasa malu itu adalah akarnya akal. Bahkan rasa malu itu benih-benih kebaikan dan meninggalkan rasa malu itu hakekatnya adalah akar kebodohan dan benih-benih keburukan. Makanya Nabi Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda:
إِنَّ مِمَّا أَدْرَكَ النَّاسُ مِنْ كَلَامِ النُّبُوَّةِ إِذَا لَمْ تَسْتَحْيِ فَافْعَلْ مَا شِئْتَ
“Sesungguhnya diantara yang didapatkan manusia dari perkataan (yang disepakati) para Nabi adalah; “Jika kamu tidak malu, berbuatlah sesukamu.” (HR. Bukhari)
Maksudnya kata para ulama, orang kalau sudah hilang rasa malunya, dia tidak malu lagi berbuat maksiat. Wanita kalau sudah kehilangan rasa malunya, tidak malu dia mempertontonkan auratnya. Lelaki yang sudah kehilangan rasa malunya, dia tidak malu untuk berbuat atau berkata kotor.
Kata Ibnul Qayyim, bahwa kata al-haya’ (rasa malu) berasal dari kata al-hayah (hidup), siapa yang tidak punya haya’, maka berarti dia seperti mayat di dunia. Dan di akhirat dia akan sengsara. Karena ada hubungan yang sangat erat antara perbuatan dosa dan sedikitnya rasa malu. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments