Ketua Bidang Tabligh dan Kajian Keislaman PC Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Lamongan periode 2022–2023, Roy Imam Syah, memaparkan materi bertema Manajemen Dakwah Kampus dalam kegiatan Pelatihan Muballigh Mahasiswa Muhammadiyah (PM3). Kegiatan ini dilaksanakan pada Sabtu (26/12/2025) di SMA Muhammadiyah 1 Babat, Kabupaten Lamongan.
Materi tersebut disampaikan pada hari kedua PM3, tepatnya pada sesi terakhir. Dalam pemaparannya, Roy menegaskan bahwa dakwah tidak cukup hanya bermodal semangat, tetapi membutuhkan manajemen dan strategi yang matang agar pesan Islam dapat tersampaikan secara efektif dan berkelanjutan.
“Dakwah itu menuntut kesabaran. Menyampaikan ilmu tidak boleh dengan cara yang kasar, apalagi memaksa. Karena dakwah sejatinya adalah proses mengajak, bukan menghakimi,” tegasnya di hadapan peserta.
Roy Imam Syah kemudian menjelaskan empat fase dakwah dan kaderisasi yang harus dipahami oleh kader IMM agar gerakan dakwah kampus berjalan lebih terorganisir dan sistematis.
Pertama, fase Tabligh dan Ta’lim.
Fase ini merupakan tahap awal pengenalan dan penyebaran gagasan (fikrah) dakwah kepada masyarakat luas. Tujuannya memberikan edukasi tentang nilai-nilai ajaran Islam dengan pendekatan yang bijak (hikmah) dan nasihat yang baik sebagaimana perintah Allah SWT.
Kedua, fase Takwin.
Pada tahap ini, individu yang telah menerima pemahaman keislaman mulai dibentuk karakternya. Dakwah tidak berhenti pada aspek pengetahuan, tetapi diarahkan pada pembentukan pribadi muslim yang berkomitmen, konsisten beribadah, dan berakhlak Islami.
Ketiga, fase Tandzim.
Setelah karakter terbentuk, individu diarahkan masuk ke dalam proses pengorganisasian. Mereka dikelola dalam struktur atau organisasi agar potensi yang dimiliki dapat dimaksimalkan demi mencapai visi dakwah yang lebih luas.
Keempat, fase Tanfidz.
Fase ini merupakan tahap implementasi atau pelaksanaan dakwah secara nyata di lapangan. Menurut Roy, dampak dakwah akan lebih optimal apabila seluruh proses perencanaan dan pengorganisasian dilakukan secara runtut dan berkesinambungan.
Di akhir sesi, Roy membuka ruang diskusi dan tukar pikiran. Para peserta PM3 yang berasal dari berbagai daerah, seperti Surabaya, Gresik, Bojonegoro, dan Lamongan, tampak antusias menyampaikan persoalan dakwah di komisariat masing-masing. Salah satu problem yang mencuat adalah masih banyaknya mahasiswa yang melalaikan ibadah salat, khususnya salat Subuh.
Sebagai langkah konkret menjawab tantangan dakwah di era digital, sebelum menutup materinya, Roy Imam Syah memberikan tugas kepada seluruh peserta untuk membuat dan mengunggah konten dakwah di media sosial dengan tema “Gerakan Salat Subuh.” (*)






0 Tanggapan
Empty Comments