Pesan tentang pentingnya mengelola waktu dan menjaga loyalitas terhadap persyarikatan mengemuka dalam pengajian rutin yang digelar Pimpinan Cabang Aisyiyah (PCA) Taman Kota Madiun di Masjid Al Wasathiyah Universitas Muhammadiyah Madiun (Ummad), Jumat (13/2/2026).
Pengajian bulanan tersebut diikuti seluruh pengurus PCA Taman, guru dan tenaga kependidikan, serta Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) Aisyiyah Taman. Kegiatan ini tidak sekadar menjadi agenda rutin, tetapi juga ruang refleksi bersama untuk memperkuat komitmen keislaman dan keorganisasian.
Ketua PCA Taman Rachmawati Eka Putranto, dalam sambutannya mengajak seluruh anggota agar aktif dalam setiap kegiatan organisasi. Menurutnya, partisipasi aktif merupakan bentuk loyalitas nyata terhadap persyarikatan.
“Keaktifan dalam organisasi adalah wujud komitmen kita. Ini bagian dari tanggung jawab moral sebagai kader Aisyiyah,” ujarnya.
Hadir sebagai penceramah, Wakil Rektor II Ummad Dr. Suwardi, M.Pd.I, menyampaikan tausiyah bertema manajemen waktu bagi seorang Muslim.
Ia menegaskan bahwa waktu adalah amanah yang harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar manusia tidak termasuk golongan yang merugi.
Mengutip pesan Al-Qur’an, ia menyebutkan bahwa semua manusia berada dalam kerugian, kecuali empat golongan: mereka yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.
“Sebagai Muslim, kita harus benar-benar mampu memanajemen waktu agar hidup kita bernilai dan tidak termasuk orang-orang yang merugi,” ujarnya.
Menurutnya, manajemen waktu bukan hanya persoalan teknis mengatur jadwal, tetapi juga menyangkut prioritas hidup, kedisiplinan, dan konsistensi dalam menjalankan amal kebajikan.
Selain membahas manajemen waktu, Suwardi yang juga anggota Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kota Madiun menyampaikan pelajaran dari kisah para penghuni neraka sebagai bentuk peringatan dan bahan muhasabah diri.
“Penyesalan para penghuni neraka menjadi pelajaran penting bagi umat Islam agar tidak menunda amal, tidak mengabaikan kewajiban, dan tidak menyia-nyiakan kesempatan berbuat baik,” katanya.
Materi tersebut mendapat respons antusias dari peserta. Sejumlah peserta mengajukan pertanyaan, mulai dari siapa saja yang termasuk golongan merugi hingga permohonan apa yang diajukan penduduk neraka.
“Peserta ada yang bertanya tentang siapa orang-orang yang merugi dan juga apa saja permohonan penduduk neraka,” terang Suwardi.
Diskusi juga berkembang pada persoalan internal persyarikatan, termasuk dinamika di tingkat daerah dan aktivitas PCA Taman. Menanggapi pertanyaan tentang kiprah organisasi, Suwardi memberikan apresiasi.
“Kalau dinilai satu sampai sepuluh, nilainya sembilan,” ujarnya, yang disambut semangat para peserta.
Pengajian ini diharapkan menjadi penguat ruh gerakan Aisyiyah, tidak hanya dalam aspek spiritual, tetapi juga dalam militansi organisasi dan konsistensi menjalankan amanah dakwah. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments