Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Manhaj Tarjih dan Etika AI: Mendesaknya Fikih Digital Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Manhaj Tarjih dan Etika AI: Mendesaknya Fikih Digital Muhammadiyah
Bayu Krisna Murti. (Istimewa/PWMU.CO)
Oleh : Bayu Krisna Murti Bayu Krisna Murti, Mahasiswa S2 Informatika UAD
pwmu.co -

Sejak awal pendiriannya, Muhammadiyah telah mengikatkan diri pada “Islam Berkemajuan” sebuah visi yang menolak kejumudan dan merangkul modernitas tanpa menanggalkan jubah keislaman.

Prinsip tajdid (pembaruan) mengajarkan kita untuk tidak tafrith (abai) terhadap perubahan zaman. Namun, hari ini, prinsip tersebut menghadapi ujian terberatnya: revolusi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI) generatif.

Kehadiran ChatGPT, Midjourney, hingga teknologi deepfake bukan lagi sekadar alat bantu, melainkan entitas yang mampu mengaburkan batas antara kebenaran dan rekayasa. Di tengah gelombang disrupsi ini, muncul pertanyaan mendasar bagi warga persyarikatan: Di mana posisi kita? Apakah kita akan menolak teknologi ini sebagai bid’ah modernitas, menerimanya secara sekuler tanpa filter, atau justru mampu menawarkan kompas etika baru?

Jawabannya terletak pada kekayaan intelektual kita sendiri: Manhaj Tarjih.

Bukan Sekadar Alat, Tapi Subjek Etika

Pandangan bahwa “teknologi itu netral” sudah tidak lagi relevan dalam konteks AI generatif. Algoritma membawa bias penciptanya. Sebuah kajian komprehensif dari Universitas Ahmad Dahlan (UAD) baru-baru ini menyoroti relevansi Manhaj Tarjih sebagai kerangka etika AI.

Temuan ini menegaskan bahwa tradisi ijtihad kolektif Muhammadiyah sesungguhnya memiliki “otot” yang cukup kuat untuk merespons tantangan teknik informatika mutakhir.

Mengapa Manhaj Tarjih relevan? Karena karakteristiknya yang integratif. Ia tidak terjebak pada tekstualitas kaku yang gagap teknologi, namun juga tidak hanyut dalam rasionalitas liberal yang tanpa nilai. Ia memadukan dalil naqli, nalar ilmiah, dan orientasi maqashid syariah.

Lima Ancaman, Satu Solusi

Kita harus membuka mata terhadap lima ancaman etis AI yang secara langsung menabrak prinsip Islam. Pertama, bias algoritma yang melanggengkan ketidakadilan sosial—bertentangan dengan prinsip ‘adālah (QS An-Nisa: 135). Kedua, tsunami misinformasi dan deepfake yang mengancam budaya tabayyun (QS Al-Hujurat: 6).

Ketiga, pelanggaran privasi data yang merobek hifzh al-‘irdh (kehormatan diri). Keempat, pencurian hak kekayaan intelektual yang mencederai hifzh al-māl (perlindungan harta). Dan kelima, kaburnya akuntabilitas mesin yang menihilkan konsep mas’ūliyyah (pertanggungjawaban).

Di sinilah Manhaj Tarjih berperan sebagai filter. Berbeda dengan etika sekuler global yang hanya bicara soal fairness dan transparency, Manhaj Tarjih menyuntikkan dimensi transendental. Tanggung jawab penggunaan AI bukan hanya kepada hukum negara atau komunitas pengguna, tetapi vertikal kepada Allah SWT.

Empat Pilar Etika Muhammadiyah

Berdasarkan sintesis nilai Manhaj Tarjih, setidaknya ada empat pilar etika yang harus menjadi pegangan warga Muhammadiyah dalam berinteraksi dengan AI:

Tabayyun Kritis: Verifikasi output AI adalah wajib, bukan opsional. Membagikan konten AI tanpa saring adalah kelalaian syar’i.

Amanah Transparan: Kejujuran dalam penggunaan AI. Jika sebuah karya dibantu AI, sampaikan.

Tawazun (Keseimbangan): Tidak antipati, tapi juga tidak mendewakan teknologi.

Mas’ūliyyah Penuh: Menyadari bahwa secanggih apapun AI, manusia tetaplah khalifah yang memikul beban dosa dan pahala atas output yang dihasilkan.

Mendesak: Dari Wacana ke Fatwa

Argumentasi di atas membawa kita pada satu kesimpulan mendesak: Muhammadiyah, melalui Majelis Tarjih dan Tajdid, perlu segera merumuskan fatwa atau Pedoman Keagamaan resmi terkait AI Generatif. Jutaan kader muda Muhammadiyah sudah hidup dengan teknologi ini. Membiarkan mereka tanpa panduan fikih yang jelas sama dengan membiarkan umat berjalan dalam kegelapan digital.

Lembaga pendidikan Muhammadiyah juga harus segera mengintegrasikan literasi etika AI berbasis nilai Islam ke dalam kurikulum. Kita tidak ingin mencetak generasi yang cerdas secara artifisial, namun tumpul secara spiritual.

Islam Berkemajuan bukan sekadar jargon. Di era di mana mesin bisa “berpikir”, tugas kitalah untuk memastikan bahwa kemanusiaan dan keimanan tetap menjadi pemegangnya. Manhaj Tarjih adalah kompas kita; saatnya kita menggunakannya untuk menavigasi samudra digital ini agar teknologi menjadi rahmat, bukan laknat. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu