Akhlak Nabi di Lingkungan Keluarga
Dalam sesi berikutnya, Ustaz Samheri mencontohkan akhlak Nabi Muhammad terhadap keluarga, anak-anak, dan pembantunya. Nabi tidak pernah bersikap kasar, bahkan dalam situasi sederhana sehari-hari.
Ia menuturkan sebuah kisah saat Nabi pulang larut malam dan mengetuk pintu rumahnya. Istrinya tidak menjawab salam karena ketiduran. Nabi tidak marah, melainkan berkata, “Mungkin istriku terlalu lelah menungguku.” Kisah ini menggambarkan kelembutan Rasulullah dalam menyikapi keluarga.
Dialog dengan jamaah pun sempat mencairkan suasana. Seorang jamaah bernama Pak Tarmum bertanya soal kebiasaan sebagian pasangan Muslim yang saling memanggil ‘papa-mama’ sebagaimana budaya Barat.
Ustaz Samheri menjawab ringan bahwa hal itu tidak masalah selama tidak menyerupai ritual keagamaan non-Muslim. Yang lebih penting adalah menjaga komunikasi yang lembut dalam rumah tangga.
Bekal Akhlak untuk Kehidupan Sosial
Untuk menegaskan pentingnya perkataan yang baik, Ustaz Samheri membacakan Q.S. Al-Ahzab [33]: 70–71, yang menekankan agar orang beriman bertakwa kepada Allah dan berkata dengan benar. Dengan menjaga lisan, Allah akan memperbaiki amal, mengampuni dosa, dan memberi kemenangan besar.
“Kalau akhlak kita bagus, insyaAllah dosa diampuni dan hidup jadi lebih tenang. Bahagia itu bukan soal kaya, tapi soal hati yang lapang dan hubungan sosial yang baik dengan tetangga,” jelasnya.
Ustaz Samheri juga mengingatkan agar umat Islam tidak terjebak pada sikap saling mencaci dalam menyikapi perbedaan amaliah, misalnya terkait maulid Nabi. “Tidak usah merasa paling benar. Yang penting kita jalankan amal yang sesuai ajaran Islam, jauhi larangan, dan tiru akhlak Nabi,” pesannya.
Beliau pun mencontohkan praktik Nabi yang pernah menggendong cucunya ketika salat di masjid. Hal ini menjadi teladan bagaimana Islam mengajarkan kasih sayang dan membangun masjid yang ramah anak. Ia menyinggung Masjid Al-Falah Sragen sebagai contoh masjid dengan manajemen profesional, ramah anak, dan peduli sosial, yang berhasil menghimpun dana miliaran rupiah melalui infak dan usaha jamaah.
“Masjid itu bukan sekadar tempat salat, tetapi pusat peradaban Islam,” tegasnya.
Kajian ditutup dengan doa penuh harapan agar jamaah menjadi umat Nabi Muhammad yang berakhlak mulia, mendapat husnul khatimah, dijauhkan dari ria dan kesesatan, serta dikumpulkan bersama Rasulullah di surga kelak.
Atmosfer kebersamaan terasa hangat, ditandai dengan tawa ringan jamaah saat Ustaz menyelipkan humor, dan refleksi mendalam ketika menyampaikan ayat-ayat Al-Qur’an.






0 Tanggapan
Empty Comments