Salah satu pesan penting dalam ajaran Islam adalah larangan bagi manusia berbuat kerusakan. Al-Qur’an me-mention sampai sekitar 50 kali terhadap varian kata dari kerusakan. Betapa manusia berpotensi menjadi aktor kerusakan di bumi sampai-sampai awal penciptaan mereka pun pernah mendapatkan pertentangan.
Protes keras akan penciptaan manusia sebagai khalifah di suarakan lantang oleh malaikat di QS. Al-Baqarah ayat 30, mereka berkata: “Apakah Engkau akan menjadikan di sana makhluk yang akan membuat kerusakan dan menumpahkan darah?”. Bayangkan, sebelum manusia di lantik sebagai khalifah saja malaikat sudah skeptis sejak awal. Manusia sejak semula sudah menjadi tersangka sebagai perusak dan penumpah darah.
Manusia melakukan aksi perusakan di hampir semua lini kehidupan. QS. Rum : 41 menyebut manusia sebagai perusak alam di daratan maupun di lautan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut disebabkan oleh perbuatan tangan manusia”. Data global menunjukkan terdapat 11 juta ton plastik masuk di laut setiap tahun. 50% terumbu karang rusak.
Di Indonesia, penggundulan hutan masif berdampak pada hilangnya 9 juta hektar lahan sejak tahun 2000. Sekitar 50 juta meter kubik kayu ilegal diselundupkan keluar negeri setiap tahun. Lebih dari 60% sungai besar di Indonesia tercemar berat. 99% penduduk dunia menghirup udara yang tercemar. CO2 dari industri, transportasi, dan energi memicu pemanasan global.
Di ayat lain disebutkan bahwa manusia menggunakan kekuasaan untuk merusak bumi, merusak sumber pangan sebagai fondasi ekonomi, serta kerusakan sosial dengan merusak keberlangsungan generasi umat manusia.
“Apabila ia berpaling (atau mendapat kekuasaan), ia berusaha membuat kerusakan di bumi serta merusak tanaman dan keturunan. Dan Allah tidak menyukai kerusakan.” (QS. Al Baqarah : 205).
Ekonomi kapitalistik menyebabkan kesenjangan kekayaan, 1% orang terkaya menguasai lebih dari 50% kekayaan global. World Bank membagikan data 700 juta orang hidup dalam kemiskinan ekstrem. Praktik korupsi setiap tahun membawa kerugian triliunan dolar. Kerusakan sosial terjadi masif akibat konflik dan perang.
Praktik genosida di Palestina memakan korban lebih dari 100.000 orang. Kriminalitas juga meningkat tajam dengan varian lebih banyak seperti perdagangan manusia, penjualan narkoba, dan kejahatan dunia maya. Dalam aspek keturunan terdapat banyak varian kerusakan. Infertilitas meningkat, penyakit menular seksual semakin meluas, juga kerusakan genetik akibat polusi dan rekayasa makanan dan minuman.
Perusakan ekonomi sudah pernah terjadi di zaman Nabi Syuaib. QS. Al-A‘raf: 85 mengabadikan kisah suku Madyan sebagai pelaku curang dalam ekonomi.
“Sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka, dan janganlah kamu membuat kerusakan di bumi setelah Allah memperbaikinya.”
Perilaku curang atau tathfif terjadi dalam bentuk manipulasi harga, menipu konsumen, money game, dan dalam sekala besar bisa berupa manipulasi pasar dan ekonomi dalam tatanan global.
Pelaku kerusakan di Al-Qur’an dinisbahkan kepada orang munafik dan orang kafir. Merekalah aktor dari semua kerusakan di bumi. QS Al-Baqarah 10-11 menjelaskan perilaku biang kerok perusakan. Disebutkan bahwa hati mereka penuh penyakit jika di ingatkan untuk tidak berbuat kerusakan, mereka malah membuat klaim sebaliknya bahwa mereka membuat kebaikan. “Dalam hati mereka ada penyakit, lalu Allah menambah penyakitnya, dan mereka mendapat azab yang pedih karena mereka selalu berdusta.
“Apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi,’ mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami hanyalah orang-orang yang melakukan perbaikan.”
Kebalikan dari orang munafik dan musyrik adalah mukmin. Orang beriman senantiasa menjaga perilakunya tetap baik karena merasa dalam pengawasan Allah semata. Semua tindak tanduknya selalu berbuah baik. Sehingga Rasulullah merasa kagum dengan orang beriman.
“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapat kesenangan ia bersyukur, dan jika tertimpa kesulitan ia bersabar.” (HR. Muslim no. 2999).
Seorang mukmin menjalankan peran dan fungsi sebagai hamba (abdun) dan khalifah Allah di bumi. Di tangan orang beriman dunia aman. Dunia lebih baik dan berkah di tangan orang beriman. Sebaliknya, tatanan dunia rusak dan berantakan ditangan orang yang menyekutukan Allah sebagai Tuhan semesta alam. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments