Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Manuskrip Bureng, Sejarah Surabaya yang Tersimpan di Qatar

Iklan Landscape Smamda
Manuskrip Bureng, Sejarah Surabaya yang Tersimpan di Qatar
Cuplikan Manuskrip Bureng. Foto: Istimewa
Oleh : Nanang Purwono Jurnalis Senior dan Pegiat Sejarah
pwmu.co -

Di antara ribuan koleksi berharga yang tersimpan rapi di Qatar National Library, ada satu manuskrip kuno yang diam-diam membawa nama besar Surabaya ke panggung sejarah dunia.

Manuskrip itu dikenal sebagai Manuskrip Bureng, sebuah naskah yang menceritakan tentang Negari Besar Surapringga atau Balad Kabir Surapringga, sebutan lama untuk Surabaya.

Keberadaan manuskrip ini seakan menjadi pengingat, bahwa Surabaya bukan sekadar kota pelabuhan, melainkan sebuah pusat peradaban yang sudah memiliki sistem pemerintahan, alun-alun, masjid besar, hingga keraton sejak abad ke-19.

Asal-usul manuskrip ini menarik. Ia ditulis di sebuah pesantren tua bernama Pondok Pesantren Bureng, yang berdiri di kawasan Wonokromo, Surabaya. Lokasinya kini tercatat di Jalan Karangrejo VI Masjid II No. 2-4.

Pesantren Bureng dikenal sezaman dengan Pondok Ndresmo, dua pesantren yang menjadi pusat ilmu agama di Surabaya masa itu.

Naskah ini menggunakan aksara Pegon, campuran aksara Arab dengan bahasa Jawa, yang kerap dipakai para ulama Nusantara.

Di dalamnya, tergambar jelas Surapringga sebagai kota besar dengan tata kota khas kerajaan Jawa. Bahkan, kawasan yang dulu disebut Surapringga itu, di kemudian hari berubah fungsi menjadi pusat pemerintahan kolonial—lokasi yang kini dikenal sebagai Tugu Pahlawan.

Jejak Tinta Tahun 1852

Salah satu bagian paling menarik dari manuskrip adalah catatan waktu penulisannya. Sang penyalin menuliskan:

“Selesai menulis kitab al-Qur’an al-Karim ini pada hari Senin, bulan Rabi’ul Akhir tanggal 15… Adapun menulis ada di kampung Bureng. Selesai pada hari Senin, bulan Rabiul Awal tanggal 8, tahun Hijrah Nabi 1274…”

Jika dihitung, tahun 1274 Hijriah itu setara dengan 1852 Masehi. Artinya, naskah ini berusia lebih dari satu setengah abad.

Menariknya, masa itu juga bertepatan dengan pendirian Masjid Surapringga (Raudlatul Musyawarah) di Kemayoran, Krembangan, sekitar tahun 1848–1853.

Sejarah kecil ini seakan menyambungkan benang merah antara naskah, arsitektur keagamaan, dan kehidupan sosial masyarakat Surabaya kala itu.

Manuskrip Bureng, Sejarah Surabaya yang Tersimpan di Qatar
Bangunan masjid utama dengan bentuk segi delapan. Foto: Kitlv.nl

Dalam salah satu bagian, manuskrip menyebut nama Cirebon. Ini bukan kebetulan. Pada abad ke-18 hingga 19, Surabaya dan Cirebon memang saling terhubung melalui jalur perdagangan maritim dan dakwah Islam.

Cirebon, yang saat itu menjadi pusat penyebaran Islam di Jawa Barat, memiliki hubungan erat dengan Surabaya yang dikenal sebagai pelabuhan utama di Jawa Timur.

Hubungan keduanya tidak hanya soal perdagangan rempah dan komoditas, tetapi juga pertukaran ulama, gagasan, serta tradisi keislaman.

Iklan Landscape UM SURABAYA

Bukti hubungan ini juga bisa dijumpai di Surabaya. Di kompleks pemakaman para bupati Surabaya di Boto Putih, terdapat makam seorang Sultan Banten, keturunan langsung dari Sultan Cirebon.

Makamnya bercungkup gaya kolonial, berdampingan dengan makam Pangeran Lanang Dangiran atau Ki Ageng Brondong, tokoh penting Surabaya abad ke-17.

Kisah Sultan Banten di Surabaya

Makam Sultan Banten di Boto Putih menyimpan cerita getir. Ia adalah Sultan Maulana Muhammad Shafiuddin, Sultan Banten terakhir yang diturunkan oleh Belanda pada tahun 1832.

Sultan yang masih keturunan Sunan Gunung Jati ini dibuang ke Surabaya bersama keluarganya.

Dalam pengasingannya, Sultan Shafiuddin hidup dalam kesulitan. Semua harta bendanya, termasuk mahkota dan permainan congklak berlapis emas-zamrud, dirampas oleh Belanda.

Lebih tragis lagi, ia tetap diwajibkan membayar pajak atas kebun kelapanya di Banten, meski tak lagi berkuasa.

Sultan wafat pada 1899 dan dimakamkan di Boto Putih, Surabaya. Kehadirannya di Surabaya sekaligus menjadi bukti nyata eratnya hubungan Surapringga dengan Cirebon dan Banten—baik dalam perdagangan, agama, maupun politik.

Manuskrip Bureng, Sejarah Surabaya yang Tersimpan di Qatar
Cungkup makam Sultan Cirebon di surabaya. Foto: Istimewa

Menyambung Jejak, Menyelami Sejarah

Kini, secara faktual, hubungan Surabaya dan Cirebon bisa dilacak melalui pemakaman Boto Putih, tempat tokoh-tokoh dari dua wilayah itu bersemayam.

Sementara secara literatif, hubungan itu terangkum indah dalam Manuskrip Bureng—naskah kuno yang kini justru tersimpan jauh di Qatar.

Pertanyaannya, siapa yang akan menelusuri lebih jauh jejak Surabaya dalam koleksi internasional itu? Apakah para peneliti, sejarawan, atau generasi muda yang ingin memahami akar sejarah kotanya?

Sejarah Surabaya ternyata tidak hanya tertulis di buku pelajaran sekolah atau prasasti kolonial. Ia juga tersimpan di lembar-lembar manuskrip kuno, yang dengan sabar menunggu untuk dibaca kembali. Dan satu di antaranya, kini berada di Qatar, sebagai saksi bisu kejayaan Surapringga. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu