Masjid sejak dahulu berperan sebagai pusat ibadah, pendidikan, dan kegiatan sosial masyarakat Muslim. Di era modern saat ini, perkembangan teknologi digital telah mengubah hampir seluruh aspek kehidupan, termasuk cara umat berinteraksi, belajar, dan berkomunikasi.
Di tengah perubahan ini, masjid dituntut untuk melakukan transformasi agar tetap relevan dan mampu menjawab kebutuhan umat, terutama generasi muda yang hidup dalam dunia digital yang dinamis.
Namun demikian, meskipun ada kemajuan yang signifikan di beberapa masjid, masih terdapat banyak masjid di Indonesia yang belum sepenuhnya mengadopsi teknologi digital dalam pengelolaan maupun layanan mereka.
Fenomena ini menimbulkan kesenjangan antara masjid yang maju dan adaptif dibandingkan dengan masjid yang masih bergantung pada pola tradisional.
Statistik: Potensi Besar dan Tantangan Digitalisasi Masjid
Indonesia merupakan negara dengan populasi Muslim terbesar di dunia. Per September 2025, data resmi dari Kementerian Agama RI melalui Sistem Informasi Masjid (SIMAS) menunjukkan ada sekitar 315.175 masjid terdaftar di seluruh Indonesia. Angka ini menunjukkan besarnya potensi masjid untuk berkontribusi dalam pelayanan umat secara luas, termasuk melalui kanal digital.
Namun, meskipun jumlahnya besar, bukan berarti semua masjid telah memanfaatkan teknologi secara optimal. Banyak masjid masih bergantung pada pencatatan manual, publikasi acara secara konvensional, ataupun administrasi yang tertulis tangan — kondisi yang cenderung membatasi efektivitas, transparansi, dan keterlibatan jamaah. Digitalisasi ditawarkan sebagai solusi untuk meningkatkan efisiensi internal sekaligus memperluas jangkauan layanan masjid.
Contoh Implementasi Digital di Masjid: Belajar dari Praktik Nyata
Sejumlah masjid telah mengambil langkah konkret dalam digitalisasi untuk menjawab tantangan zaman:
Satu, Masjid Agung Kudus (Jawa Tengah)
Di Masjid Agung Kudus, implementasi digital da’wah melalui platform seperti YouTube, Instagram, Facebook, dan WhatsApp telah dilakukan untuk menyiarkan kajian dan kegiatan secara online.
Langkah ini mampu menarik partisipasi jamaah yang lebih luas, termasuk generasi milenial dan Z yang lebih aktif di media sosial. Selain itu, masjid ini juga memanfaatkan aplikasi untuk donasi online yang memudahkan jamaah berkontribusi dari mana saja.
Dua, Konten Tiktok Masjid Ar-Royyan Muhammadiyah (Buduran Sidoarjo)*
Masjid yang dikenal dengan sebutan Masjid Ramah Musafir belum genap 1 tahun berdiri ini, mengemas konten konten sosial medianya semenarik mungkin, sehingga lebih cepat dikenal oleh khalayak umum.
Konten yang sebagian besar berisi layanan kegiatan sosial ini berhasil mencuri perhatian para pengguna tiktok, sehingga akun tiktok yang dimiliki masjid ini sekrang mencapai 17,1 ribu pengikut. Hal ini berpengaruh pada jumlah jamaah yang dating serta donator yang masuk secara digital dengan setuhan konten yang disebarkan.
Tiga, Sistem Informasi Masjid Berbasis Online
Beberapa masjid di wilayah Sumatra Utara dan Tapanuli Selatan telah mengembangkan sistem informasi berbasis online untuk menyebarkan informasi kegiatan dan syiar Islam secara lebih luas. Website dan aplikasi masjid seperti ini berfungsi sebagai pusat data jamaah, pengumuman kegiatan, hingga formulir pendaftaran kajian yang dapat diakses publik secara real-time.
Empat, Digital Prayer Displays dan Informasi Real-Time
Di beberapa masjid modern luar negeri, sistem penampil waktu shalat otomatis telah dipasang menggantikan jadwal tercetak manual. Sistem ini terintegrasi dengan perhitungan waktu shalat global sehingga jamaah mendapatkan informasi yang akurat setiap waktu.
Implementasi-implementasi ini memperlihatkan bahwa teknologi bukan sekadar pelengkap, tetapi telah menjadi alat strategis untuk memperluas fungsi masjid di era digital.
Peran Krusial Generasi Muda dalam Pengelolaan Masjid Digital
Keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan masjid bukan sekadar langkah administratif, tetapi merupakan strategi penting agar masjid dapat bertahan dan berkembang di tengah transformasi sosial dan teknologi. Berikut poin-poin utama yang mendukung pentingnya peran mereka:
Satu, Regenerasi Organisasi dan Kepengurusan yang Berkelanjutan
Generasi muda membawa energi baru, ide segar, serta kesiapan untuk menggunakan teknologi dalam pengelolaan organisasi. Tanpa regenerasi yang baik, masjid berpotensi mengalami stagnasi dalam perencanaan program dan pengelolaan sumber daya. Keterlibatan generasi muda memastikan terjadinya kesinambungan pengetahuan dan pengalaman pengelolaan masjid ke depan.
Dua, Kreativitas dan Inovasi Program Keagamaan
Pemuda memiliki keterampilan kreatif dan pemahaman teknologi yang dapat memperkaya konten dakwah dan kegiatan masjid. Misalnya, pembuatan konten dakwah interaktif, podcast keagamaan, video pendek kajian, serta platform belajar daring yang relevan dengan kehidupan generasi mereka sendiri. Kegiatan semacam ini mampu menarik jamaah yang lebih luas dan meningkatkan partisipasi digital aktif.
Tiga, Efisiensi dan Akuntabilitas melalui Teknologi Digital
Pemuda cenderung lebih akrab dengan penggunaan aplikasi manajemen masjid, sistem administrasi digital, serta alat komunikasi modern. Hal ini membantu meningkatkan efisiensi operasional masjid, transparansi laporan keuangan, serta pelaporan kegiatan secara digital. Jamaah lebih mudah mengakses informasi dan laporan secara waktu nyata, memperkuat akuntabilitas pengurus terhadap komunitas.
Empat, Meningkatkan Keterlibatan Jamaah Generasi Milenial dan Z
Keterlibatan pemuda di pengelolaan masjid memberi contoh (role modeling) sekaligus menciptakan ruang partisipatif bagi komunitas sebayanya.
Hal ini membuka peluang terjalinnya hubungan emosional dengan masjid, yang pada gilirannya meningkatkan komitmen ibadah, kegiatan pendidikan, serta kegiatan sosial di luar konteks ibadah rutin.
Tantangan dan Strategi Kolaboratif
Meski banyak manfaat yang dapat diperoleh dari digitalisasi dan keterlibatan generasi muda, terdapat tantangan nyata yang perlu diatasi:
- Kesenjangan kemampuan teknologi antar generasi pengurus masjid, khususnya antara generasi senior dan muda.
- Resistensi terhadap perubahan dari sebagian jamaah atau pengurus yang lebih nyaman dengan pendekatan tradisional.
- Kebutuhan pelatihan dan pembinaan untuk meningkatkan literasi digital di kalangan pengurus masjid.
Untuk itu dibutuhkan kolaborasi antargenerasi yang saling melengkapi: nilai-nilai spiritual yang kuat dari generasi senior dan keahlian digital dari generasi muda. Pemekaran peran dalam perangkat kepengurusan masjid melalui pembentukan divisi digital, panitia media sosial, atau tim kreatif akan memperkuat kemampuan masjid dalam menjawab tantangan zaman.
Sinergi Tradisi dan Digital untuk Masjid Masa Depan
Masjid masa kini harus berfungsi tidak hanya sebagai tempat ibadah, tetapi juga sebagai pusat syiar Islam yang inklusif, inovatif, danrelevan secara sosial. Digitalisasi membuka ruang baru untuk memperluas pelayanan, meningkatkan transparansi, dan memperkuat peran masjid dalam kehidupan masyarakat. Namun untuk mewujudkan hal tersebut, keterlibatan generasi muda dalam pengelolaan masjid adalah kunci strategis yang tak terelakkan.
Transformasi ini tidak menghapus nilai tradisional, tetapi memadukannya dengan kecanggihan teknologi agar masjid benar-benar menjadi rumah spiritual yang hidup, adaptif, dan berdampak luas — menjawab tantangan zaman serta menumbuhkan generasi Muslim yang unggul secara spiritual, intelektual, dan sosial. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments