Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Masjid Muara Angke dan Toko Merah: Dua Pintu, Satu Jejak Harmoni Sejarah

Iklan Landscape Smamda
Masjid Muara Angke dan Toko Merah: Dua Pintu, Satu Jejak Harmoni Sejarah
Masjid Jami Angke Al-Anwar, salah satu masjid kuno yang sampai saat ini masih kokoh berdiri. Foto: Tripadvisor
Oleh : Nanang Purwono Jurnalis Senior dan Pegiat Sejarah
pwmu.co -

Setiap kali kaki menjejak Jakarta, ada satu kebiasaan yang hampir selalu terulang: menyempatkan diri mampir ke Kota Tua.

Bukan sekadar nostalgia atau berburu foto bangunan lama, tetapi ada semacam panggilan batin untuk menyapa jejak-jejak sejarah yang diam, namun bercerita panjang.

Dari sekian banyak bangunan tua di kawasan ini, perhatian saya kerap tertambat pada satu detail yang tampak sederhana, tetapi menyimpan makna mendalam: pintu.

Pintu-pintu tua itu—kokoh, besar, dan berornamen—seolah menjadi saksi bisu perjumpaan budaya, keyakinan, dan peradaban.

Dua di antaranya berdiri di lokasi yang berbeda, namun memiliki bahasa arsitektur yang terasa serupa: Masjid Jami Angke Al-Anwar di Muara Angke dan Gedung Toko Merah di kawasan Kali Besar.

Masjid Jami Angke Al-Anwar berdiri tenang di Kelurahan Angke, Kecamatan Tambora, Jakarta Barat. Masjid ini dibangun pada tahun 1761 M, pada masa ketika VOC masih berkuasa di Batavia.

Di tengah hiruk-pikuk permukiman padat, masjid ini seolah menjadi penanda waktu—mengingatkan bahwa kawasan ini sejak lama adalah ruang perjumpaan berbagai etnis dan budaya.

Masjid Muara Angke dan Toko Merah: Dua Pintu, Satu Jejak Harmoni Sejarah
Masjid Angke, antara tahun 1900-1940. Foto: Wikipedia

Sekilas, bangunan masjid ini tidak menampilkan kemegahan ala Timur Tengah. Namun justru di situlah keistimewaannya.

Struktur bangunannya berbentuk bujur sangkar dengan atap limasan bersusun dua, ciri khas arsitektur Jawa. Ujung-ujung atapnya yang sedikit melengkung ke atas mengingatkan pada gaya punggel rumah Bali.

Yang paling menarik perhatian adalah kusen pintu masjid. Kusen ini memiliki kemiripan mencolok dengan kusen pintu Gedung Toko Merah.

Sebuah kemiripan yang tidak kebetulan. Kusen Masjid Angke menampilkan perpaduan gaya Eropa, Tionghoa, Jawa, dan Bali.

Di sana terdapat ukiran-ukiran Jawa, lengkap dengan Soko Guru sebagai penyangga utama bangunan—sebuah elemen penting dalam arsitektur tradisional Nusantara.

Daun pintu ganda, lubang angin di atas pintu, hingga anak tangga di bagian depan menampilkan sentuhan arsitektur Belanda.

Sementara jendela-jendela kayu dengan teralis bulat torak yang dibubut dan tiang-tiang utama semakin menguatkan nuansa Jawa.

Masjid ini bukan sekadar tempat ibadah. Ia adalah perlambang harmonisasi, bukti bahwa sejak ratusan tahun lalu, masyarakat Batavia hidup dalam keberagaman yang saling bersentuhan—tanpa harus saling meniadakan.

Masjid Muara Angke dan Toko Merah: Dua Pintu, Satu Jejak Harmoni Sejarah
Bangunan Toko Merah, Kali Besar, Jakarta Barat. Foto: Faqiha Muharroroh Itsnaini/
Kompas.com

Toko Merah: Fasade Megah di Tepi Kali Besar

Tidak jauh dari halte TransJakarta di Kali Besar, berdiri sebuah gedung yang hampir selalu mencuri perhatian setiap kali saya melintas: Gedung Toko Merah.

Entah mengapa, langkah kaki seperti selalu tertarik untuk mendekat, menatap fasadenya, lalu berlama-lama di depan pintu megahnya.

Gedung ini dibangun pada tahun 1730 oleh Gubernur Jenderal Gustaaf Willem van Imhoff. Arsitekturnya menampilkan gaya Eropa klasik, dipadu dengan sentuhan Tionghoa, dan dilengkapi tangga bergaya Baroque—menjadikannya salah satu bangunan paling unik di Jakarta.

Pintu Toko Merah adalah magnet utama. Kusen pintunya melebar ke samping kiri dan kanan, memberi kesan kokoh dan megah.

Dua daun pintu besar berdampingan, diapit jendela-jendela tinggi berukuran besar—ciri khas bangunan era VOC.

Warna merah yang mendominasi bukan sekadar estetika, tetapi juga simbol keberuntungan dalam budaya Tionghoa, mencerminkan sejarah kepemilikan dan fungsi gedung ini yang pernah digunakan oleh tokoh-tokoh Tionghoa.

Ketika terakhir kali mampir pada Juli 2023, sebelum transit sehari menuju Amsterdam, gedung ini belum terbuka untuk umum.

Pandangan saya hanya bisa menikmati fasadenya dari luar. Baru kemudian saya mengetahui bahwa sejak 1 November 2023, gedung ini resmi dibuka untuk publik sebagai kafe bernama Rode Winkel.

Pengalaman mengunjungi Belanda pada Juli–Agustus 2023 memberi perspektif baru. Di Amsterdam dan Rotterdam, saya menjumpai bangunan-bangunan tua dengan gaya kusen pintu yang serupa dengan Toko Merah.

Saat itu, terasa jelas bahwa arsitektur VOC di Nusantara bukan sekadar adaptasi, melainkan bagian dari jejaring estetika dan kekuasaan global pada masanya.

Masjid Muara Angke dan Toko Merah: Dua Pintu, Satu Jejak Harmoni Sejarah
oko Merah sebagai kantor Bank voor Indië. Foto: Wikipedia

Tak heran, karena Gedung Toko Merah memang dibangun dalam konteks kolonial, ketika VOC—kongsi dagang yang berdiri sejak 1602—memiliki hak istimewa layaknya negara: membentuk tentara, berperang, dan memonopoli perdagangan rempah-rempah.

Setelah VOC bangkrut pada 1799, kekuasaan beralih ke pemerintah Hindia Belanda (1800–1945), tetapi jejak fisiknya tetap tertanam di Batavia.

Masjid Muara Angke dan Gedung Toko Merah adalah dua bangunan dengan fungsi dan latar belakang berbeda.

Yang satu rumah ibadah umat Islam, yang lain bangunan sipil peninggalan kolonial. Namun keduanya dipersatukan oleh bahasa arsitektur yang serupa, terutama pada kusen pintu—sebuah detail yang sering luput dari perhatian.

Di sanalah sejarah berbicara dengan cara yang halus. Bahwa Batavia—kini Jakarta—dibangun dari perjumpaan, negosiasi, dan kompromi antarbudaya. Bahwa harmoni tidak selalu lahir dari keseragaman, tetapi dari kesediaan untuk saling mengakomodasi.

Dua pintu itu, yang berdiri di tempat berbeda, seolah mengingatkan kita: sejarah tidak selalu berteriak lewat monumen besar. Kadang, ia berbisik lewat sebuah kusen pintu tua yang masih setia berdiri, menunggu kita berhenti sejenak dan membaca maknanya. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu