Masjid harus dikelola secara profesional layaknya sekolah, rumah sakit, atau amal usaha Muhammadiyah lainnya. Karena itu, masjid tidak boleh lagi diperlakukan seperti “anak tiri” dalam gerakan Muhammadiyah.
Pesan tegas itu disampaikan Wakil Sekretaris I Majelis Tabligh Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah dalam Pengajian Ahad Pagi yang digelar Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Sidoarjo di Masjid An-Nur Kompleks Perguruan Muhammadiyah Sidoarjo, Ahad (30/11/2025).
“Pengelolaan masjid selama ini belum diseriusi oleh Persyarikatan, padahal potensinya luar biasa besar bagi dakwah Muhammadiyah,” ujarnya dalam pengajian mengangkat tema “Masjid sebagai Gerakan Ilmu, Dakwah, dan Kesejahteraan Umat.”.
Mengawali ceramahnya, Waluyo membacakan QS. At-Taubah ayat 18 sebagai landasan pentingnya memakmurkan masjid.
Dia mengungkapkan, PP Muhammadiyah pada tahun 2024 telah menerbitkan Pedoman Peraturan Tata Kelola Masjid Muhammadiyah, sebagai upaya memperkuat manajemen dan peran masjid dalam amal usaha Persyarikatan.
Waluyo menguraikan bahwa sejak 2024, PP Muhammadiyah telah menetapkan tiga dokumen penting dalam pengelolaan masjid:
1. Pedoman Masjid dan Musala PP Muhammadiyah Nomor 2/2024
2. Ketentuan Majelis Tabligh PP Muhammadiyah
3. Pedoman LPCRPM (Lembaga Pengembangan Cabang, Ranting, dan Pembinaan Masjid)
Ketiganya, menurutnya, menjadi fondasi untuk memastikan masjid dikelola secara terarah, profesional, dan berkelanjutan.
Profesionalisme itu diperlukan agar masjid mampu berkembang menjadi pusat gerakan ilmu, pusat dakwah pencerahan, dan pusat kesejahteraan umat,” jabar Waluyo.
Dia menambahkan, Majelis Tabligh memiliki tanggung jawab pada aspek manajemen aktivitas masjid, sementara LPCR berperan penting dalam pembinaan cabang dan ranting berbasis masjid.
“Jangan sampai dua lembaga ini berebutan mengelola masjid. Bacalah kembali pedoman Pimpinan Pusat,” pesannya.
Harmonisasi antarlembaga dalam struktur Muhammadiyah, lanjutnya, menjadi kunci kesuksesan program pemakmuran masjid.
Pengajian Ahad Pagi ini dihadiri oleh seluruh Pimpinan PCM, PRM, dan Ortom se-Kabupaten Sidoarjo. Suasana berlangsung khidmat, dan jamaah menunjukkan antusiasme tinggi atas materi yang menekankan transformasi masjid menjadi pusat peradaban umat dalam semangat tajdid Muhammadiyah.
Acara ditutup dengan doa bersama dan ajakan memperkuat kolaborasi seluruh unsur Muhammadiyah untuk memajukan masjid sebagai pilar utama dakwah dan pemberdayaan umat. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments