Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Mata Nusantara: Ketika DNA IPM Bertemu di Tanah Perantauan

Iklan Landscape Smamda
Mata Nusantara: Ketika DNA IPM Bertemu di Tanah Perantauan
pwmu.co -
Komunitas literasi mata nusantara. (Istimewa/PWMU.CO)
Komunitas literasi mata nusantara. (Istimewa/PWMU.CO)

PWMU.CO – Komunitas “Mata Nusantara”, atau yang dikenal dengan sebutan “Mantra”, resmi menggelar pertemuan perdananya di Kampung Mahasiswa, Dau, Kabupaten Malang, Ahad (19/6/2025). Komunitas ini hadir sebagai ruang baru bagi kader-kader Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) dari berbagai penjuru Indonesia yang kini tengah menempuh pendidikan di Malang.

Tak hanya diisi oleh struktural aktif IPM, Mantra turut merangkul alumni-alumni IPM yang meskipun tak lagi berada dalam struktural organisasi, tetap menyimpan semangat dan nilai perjuangan pelajar dalam dirinya. DNA IPM yang melekat menjadi alasan utama komunitas ini lahir—menjadi wadah untuk tetap terhubung, bertumbuh, dan berkontribusi dalam gerakan pelajar dari ruang dan peran yang baru.

“Ini bukan sekadar silaturahmi antar kader IPM. Ini tentang bagaimana kita terus hidup dalam semangat literasi, advokasi, dan dakwah pelajar, sekalipun beberapa dari kita sudah tak lagi berada dalam struktur resmi,” ujar Marchelino Bagaskara, Koordinator Mantra, dalam sambutannya.

Komunitas Literasi

Sebagai komunitas yang menjadikan literasi sebagai fokus utama, Mantra juga menyentuh ranah isu strategis, sosial, dan lingkungan dalam setiap geraknya. Visi ini terangkum dalam semangat yang diusung Mantra: “Bersama membuka mata, bersama menumbuhkan makna”—yakni membangun kesadaran kolektif atas realitas pelajar, sekaligus melahirkan kontribusi bermakna melalui keberagaman perspektif dan pengalaman kader.

Pertemuan perdana ini dikemas dalam forum diskusi bertajuk “Ruang Mantra”, dengan tema reflektif “Dari Sekolah ke Barak: Ke Mana Muara Pendidikan Karakter Pelajar?”. Forum ini menghadirkan sejumlah pembicara, antara lain:

– Muhammad Salis Yuniardi MPsi PhD – Wakil Rektor IV Universitas Muhammadiyah Malang

– Yudhistira Ananta – Ketua PW IPM Jawa Timur Bidang Organisasi

– Marchelino Bagaskara – Koordinator Mantra

– Muhammad Azlansyah – Moderator diskusi

Diskusi berlangsung hangat dan penuh refleksi. Salah satu isu minor yang turut disinggung adalah kebijakan kontroversial dari Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, yang mengirim siswa bermasalah ke barak militer. Isu ini membuka diskusi kritis mengenai arah pembinaan karakter pelajar, antara pendekatan militeristik dan pendekatan berbasis empati, pendidikan, serta pemahaman sosial.

Dalam forum ini, muncul berbagai gagasan awal: mulai dari pembentukan forum baca dan diskusi rutin, kolaborasi proyek sosial dan lingkungan, hingga inisiatif advokasi pendidikan berbasis pengalaman kader dari berbagai daerah.

Dengan semangat pelajar, kekayaan pengalaman, dan nuansa kekeluargaan, Mantra hadir bukan hanya sebagai ruang nostalgia, tetapi sebagai bentuk kontinuitas perjuangan—mewadahi semangat yang tak padam, dan menumbuhkan makna baru untuk masa depan umat dan bangsa. (*)

Penulis Muhammad Damar Ravisya Editor Amanat Solikah

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu