Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Matematika di Era Digital, Dari Momok Jadi Solusi

Iklan Landscape Smamda
Matematika di Era Digital, Dari Momok Jadi Solusi
Ni’ma Ashri Nur Syafa’at. Foto: Dok/Pri
Oleh : Ni’ma Ashri Nur Syafa’at Mahasiswa Universitas Negeri Surabaya Semester 1 Program Studi Matematika
pwmu.co -

Matematika masih sering dianggap sebagai momok oleh sebagian masyarakat Indonesia. Banyak yang menilai pelajaran ini sulit dan menakutkan. Kesulitan tersebut umumnya disebabkan oleh dua faktor utama, yaitu faktor internal dan eksternal.

Faktor internal berkaitan dengan kurangnya motivasi dan minat terhadap matematika. Hal ini sering muncul akibat anggapan bahwa matematika rumit, metode pembelajarannya monoton, dan dianggap kurang relevan dengan kehidupan nyata.

Akibatnya, banyak orang mudah merasa bosan dan enggan mempelajarinya. Persepsi ini biasanya sudah terbentuk sejak bangku sekolah dasar dan berlanjut hingga jenjang lebih tinggi. Dampaknya, kemampuan berpikir logis dan sistematis menjadi lemah.

Data survei PISA (Programme for International Student Assessment) yang dirilis OECD menunjukkan bahwa kemampuan matematika siswa Indonesia masih rendah.

Pada laporan terakhir, Indonesia menempati peringkat 69 dari 81 negara. Rendahnya capaian ini tentu tidak terlepas dari minimnya minat terhadap matematika.

Faktor eksternal berkaitan dengan kurangnya adaptasi terhadap perubahan teknologi di era digital. Masih banyak masyarakat yang tidak terbiasa menggunakan perangkat lunak, aplikasi, maupun platform e-learning.

Hal ini bisa disebabkan oleh keterbatasan pemahaman, keterampilan digital, maupun akses terhadap perangkat dan internet.

Akibatnya, sebagian masyarakat menjadi gagap teknologi dan kesulitan bersaing dalam kehidupan sehari-hari.

Dalam konteks pembelajaran matematika, lemahnya adaptasi teknologi juga berdampak pada terbatasnya akses terhadap sumber belajar digital, sehingga proses belajar-mengajar menjadi terhambat.

Upaya Mengatasi Kendala

Ada dua langkah penting yang bisa dilakukan untuk mengatasi hambatan internal maupun eksternal tersebut.

Pertama, meningkatkan minat terhadap matematika. Minat adalah modal awal yang membuat seseorang cenderung aktif dan bersemangat dalam suatu bidang.

Minat yang tinggi juga mendorong seseorang belajar dengan kesadaran, kedisiplinan, dan rasa senang. Upaya yang dapat dilakukan antara lain menciptakan pembelajaran yang aktif, kreatif, dan inovatif.

Selain minat, motivasi juga berperan besar. Motivasi adalah dorongan untuk mencapai tujuan tertentu. Cara meningkatkan motivasi bisa dengan menetapkan tujuan yang jelas, fokus pada proses, menciptakan lingkungan positif, dan memberi penghargaan pada diri sendiri.

Kedua, mengembangkan keterampilan digital. Hal ini bisa dilakukan dengan mengikuti pelatihan atau kursus, memanfaatkan media sosial untuk mencari informasi, meningkatkan pemahaman penggunaan perangkat digital, hingga bergabung dengan komunitas yang relevan dengan bidang matematika.

Keterampilan ini sangat penting agar masyarakat tidak tertinggal dalam perkembangan zaman.

Peran Teknologi dalam Pembelajaran

Iklan Landscape UM SURABAYA

Teknologi memiliki peran besar dalam meningkatkan kualitas pendidikan di era digital. Teknologi memungkinkan akses yang lebih luas terhadap sumber belajar, memfasilitasi pembelajaran jarak jauh, kolaborasi online, hingga personalisasi pembelajaran.

Dampak positif teknologi antara lain mendorong kreativitas, inovasi, dan pemikiran kritis. Teknologi juga membuka peluang untuk mengeksplorasi minat dan bakat serta meningkatkan kemampuan kognitif.

Namun, dampak negatifnya tidak bisa diabaikan, seperti menurunnya interaksi sosial dan munculnya perilaku negatif yang kurang dipertimbangkan. Oleh karena itu, keseimbangan antara penggunaan teknologi dan penguatan karakter non-digital harus tetap dijaga.

Era digital telah mengubah cara kita bekerja, belajar, berkomunikasi, dan berinteraksi dengan dunia. Karena itu, peran teknologi dalam bidang matematika semakin vital, misalnya untuk menganalisis data besar yang kompleks atau mendukung perkembangan ilmu data dan kecerdasan buatan.

Bagi saya, matematika bukan sekadar angka dan rumus, melainkan alat untuk memecahkan masalah dan membuat keputusan yang tepat.

Sebagai mahasiswa baru Program Studi Matematika Universitas Negeri Surabaya, saya memiliki tekad untuk mengembangkan kemampuan matematika serta mengaplikasikannya dalam kehidupan sehari-hari.

Sejak kecil, saya menyukai pelajaran matematika dan terbiasa dengan perhitungan. Justru karena banyak orang menganggap matematika sulit, saya semakin tertarik untuk mendalaminya.

Selain itu, saya bercita-cita menjadi dosen di bidang matematika agar bisa berkontribusi lebih luas di dunia akademik.

Target saya selama kuliah adalah meraih prestasi akademik, aktif mengikuti kegiatan, menjadi asisten dosen atau praktikum, bergabung dalam penelitian, serta menghasilkan karya.

Saya ingin fokus pada bidang matematika komputasi, sains data, dan pengembangan artificial intelligence.

Dalam beberapa tahun ke depan, kontribusi yang ingin saya berikan antara lain:

1. Menciptakan lingkungan belajar yang positif agar minat mahasiswa pada matematika semakin meningkat.

2. Memberikan pelatihan dasar teknologi kepada masyarakat agar tidak tertinggal perkembangan zaman.

3. Mengembangkan aplikasi atau perangkat lunak pembelajaran matematika yang menarik, mudah digunakan, dan gratis. Aplikasi ini dapat berisi latihan soal, solusi, visualisasi grafik, dan simbol-simbol matematika untuk membantu masyarakat memahami matematika secara lebih mudah.

Dengan langkah-langkah tersebut, saya berharap matematika tidak lagi dianggap momok, melainkan sahabat yang membantu kita menghadapi tantangan di era digital. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu