Di ruang-ruang kelas universitas, saya terbiasa bergelut dengan angka, variabel, dan logika yang presisi.
Sebagai mahasiswi semester dua jurusan Matematika di Universitas Negeri Surabaya (Unesa), saya diajarkan bahwa setiap persoalan pasti memiliki solusi jika kita menggunakan formula yang tepat.
Namun, baru-baru ini, sebuah angka muncul ke permukaan publik dan meruntuhkan segala logika matematis yang saya pelajari: angka “satu”.
Satu nyawa anak sekolah dasar di Ngada, Nusa Tenggara Timur (NTT), yang memilih mengakhiri hidupnya hanya karena beban mental tak mampu membeli buku sekolah.
Bagi saya, ini bukan sekadar berita duka yang lewat di lini masa. Ini adalah sebuah “anomali” yang menyakitkan dalam perhitungan kemerdekaan bangsa kita.
Bagaimana mungkin di negara yang telah merdeka hampir delapan dekade, harga sebuah buku lebih mahal daripada harga sebuah nyawa?
Tragedi Ngada adalah tamparan keras yang menyadarkan kita bahwa ada variabel yang salah dalam sistem distribusi kesejahteraan dan pendidikan kita.
Paradoks di Negeri Merdeka
Sebagai mahasiswi yang belajar di Surabaya, kota pahlawan yang menjadi simbol perjuangan, tragedi ini terasa sangat ironis.
Kita sering membanggakan pertumbuhan ekonomi, pembangunan infrastruktur, hingga transformasi digital.
Namun, di sudut lain nusantara, seorang anak SD harus menanggung beban eksistensial yang bahkan orang dewasa pun sulit memikulnya.
Dalam perspektif matematika, kita sering bicara tentang “rata-rata”. Namun, rata-rata sering kali menipu.
Jika satu orang makan dua piring nasi dan satu orang kelaparan, secara statistik rata-ratanya adalah mereka makan satu piring.
Tragedi Ngada membuktikan bahwa angka-angka makro yang dibanggakan pemerintah belum menyentuh “akar rumput” yang paling bawah.
Pendidikan yang katanya gratis, nyatanya masih menyisakan biaya-biaya siluman berupa buku, seragam, dan tekanan sosial yang mencekik mereka yang papa.
Suara Nasyiatul Aisyiyah: Pendidikan adalah Hak, Bukan Beban
Selain sebagai mahasiswi, peran saya sebagai Ketua Nasyiatul Aisyiyah (NA) Cabang Sukomanunggal memberi sudut pandang lain.
Dalam naungan Nasyiatul Aisyiyah, kami memegang teguh semboyan “Al-Birru Man Ittaqa” (Kebajikan itu adalah bagi mereka yang bertakwa).
Salah satu pilar perjuangan kami adalah advokasi terhadap perempuan dan anak. Tragedi di Ngada adalah kegagalan kolektif dalam menjaga amanah tersebut.
Di Nasyiatul Aisyiyah, kami diajarkan bahwa kemiskinan tidak boleh menjadi penghalang bagi akses ilmu pengetahuan.
Kita diingatkan kembali pada semangat Kyai Ahmad Dahlan dan Nyai Walidah yang mendirikan sekolah untuk kaum pribumi yang saat itu tertindas.
Melihat siswa di Ngada putus asa hingga menyerah pada hidup karena sebuah buku, rasanya kita sedang mengalami kemunduran peradaban. Ini adalah tanda bahwa “keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia” masih menjadi variabel yang belum terpecahkan dalam persamaan bernegara kita.
Kalkulasi Kepedulian: Solusi di Luar Angka
Sebagai mahasiswi FMIPA, saya melihat pendidikan sering kali diperlakukan secara mekanistis. Kurikulum diganti, platform digital dibangun, namun aspek psikologis dan latar belakang ekonomi siswa sering diabaikan.
Kita lupa bahwa pendidikan adalah proses memanusiakan manusia, bukan sekadar mencetak angka-angka di atas kertas ijazah.
Tragedi ini menuntut aksi nyata, bukan sekadar simpati di media sosial. Di Sukomanunggal, melalui gerakan Nasyiatul Aisyiyah, kami berusaha membumikan kepedulian.
Namun, gerakan komunitas saja tidak cukup. Perlu ada intervensi kebijakan yang radikal. Pemerintah harus memastikan bahwa label “sekolah gratis” benar-benar berarti nol rupiah bagi mereka yang tidak mampu.
Tidak boleh ada lagi anak yang merasa rendah diri atau terasing hanya karena tidak memiliki buku yang sama dengan temannya.
Buku seharusnya menjadi sayap bagi anak-anak untuk terbang menggapai mimpi, bukan menjadi batu pemberat yang menenggelamkan mereka ke dalam keputusasaan.
Tamparan Bagi Bangsa
Tragedi Ngada adalah pengingat bahwa kemerdekaan Indonesia belum selesai. Selama masih ada anak yang takut masuk sekolah karena biaya, kita sebenarnya masih terjajah oleh kemiskinan dan ketidakpedulian.
Sebagai mahasiswi matematika, saya merenung: apa gunanya menghitung limit fungsi jika kita tidak bisa menghitung batas toleransi kita terhadap ketidakadilan?
Apa gunanya mencari nilai x yang hilang dalam persamaan, jika kita kehilangan empati kepada sesama?
Kita perlu melakukan “audit moral” terhadap sistem pendidikan kita. Apakah guru-guru kita sudah cukup peka terhadap kondisi mental siswa yang kurang mampu?
Apakah lingkungan sekolah sudah menjadi ruang aman (safe space) atau malah menjadi arena kompetisi materialistik yang kejam?
Merajut Kembali Harapan
Saya, sebagai representasi mahasiswa Surabaya dan kader Nasyiatul Aisyiyah, merasa memiliki utang moral atas kejadian ini.
Kita tidak boleh membiarkan tragedi Ngada terulang kembali. Komunitas, akademisi, dan pemerintah harus bersinergi untuk menciptakan jaring pengaman sosial yang lebih kuat di sektor pendidikan.
Mari kita jadikan peristiwa menyedihkan ini sebagai titik balik untuk lebih peka terhadap lingkungan sekitar.
Jangan biarkan anak-anak kita bertarung sendirian melawan kemiskinan di bawah atap sekolah yang seharusnya melindungi mereka. Pendidikan harus menjadi hak yang memerdekakan, bukan beban yang mematikan.
Pada akhirnya, matematika terbaik bukanlah yang bisa menyelesaikan kalkulus paling rumit, melainkan matematika yang mampu membagi kebahagiaan dan mengurangkan penderitaan orang lain.
Kemerdekaan Indonesia hanya akan benar-benar berarti ketika setiap anak, baik di Surabaya maupun di Ngada, bisa memegang buku dengan senyum bangga, tanpa bayang-bayang ketakutan akan harga yang harus dibayar. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments