Udara pagi di Kampus Universitas Muhammadiyah Banjarmasin (UMB) terasa sejuk, seolah menjadi teman bagi para peserta Rakernas LPCRPM yang baru saja memulai rangkaian kegiatan hari kedua.
Seperti tradisi yang telah berjalan selama pelaksanaan LPCRPM, usai Subuh atau selepas Maghrib, jamaah selalu disuguhi kajian singkat yang menghangatkan hati dan meneguhkan langkah.
Pagi itu, Kamis (13/11/2025), giliran Ustadz Mawardi Pewangi, dai asal Makassar, yang berdiri di hadapan peserta untuk menyampaikan kultum. Suaranya tenang namun bertenaga. Senyumnya ramah, sesekali diselingi tawaduk khas para pendakwah dari Timur Nusantara.
Mawardi memulai kultumnya dengan mengutip pesan-pesan almarhum Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah. Menurut Mawardi, salah satu karakter dasar warga Muhammadiyah adalah tidak meminta-minta jabatan.
“Jangan pernah menginginkan jabatan tertentu,” tegasnya.
“Tapi jika amanah datang, jalankanlah dengan sebaik dan semaksimal mungkin. Itulah adab bermuhammadiyah.”
Pesan ini, katanya, bukan hanya petuah moral. Tapi fondasi spiritual yang telah diwariskan Kiai Dahlan untuk mengarahkan gerak dakwah umat.
“Aku Titipkan Muhammadiyah”
Dari balik podium sederhana itu, Mawardi mengingatkan kembali wasiat Kiai Dahlan yang begitu populer: “Aku titipkan Muhammadiyah.”
Kalimat pendek itu, menurutnya, tidak sekadar pesan, tetapi amanah peradaban.
“Maka jagalah Muhammadiyah. Jangan menduakan Muhammadiyah,” ujarnya tegas.
Di hadapan para peserta rakernas yang sebagian merupakan para perintis cabang dan ranting, pesan ini terasa menggugah. Ada getaran kesadaran bahwa apa yang mereka lakukan hari ini adalah bagian dari menjaga titipan sejarah.
Keteladanan Kiai Dahlan: Menolak Istirahat
Dalam kultum yang singkat namun padat itu, Mawardi juga menceritakan keteladanan Kiai Dahlan ketika sedang sakit. Meski tubuhnya ringkih, Kiai Dahlan tetap memaksa diri untuk berdakwah.
“Walau sakit, beliau menolak istirahat. Baginya, dakwah lebih penting daripada rehatnya,” kata Mawardi.
Cerita itu tidak hanya menyentuh, tetapi juga menghidupkan bayangan tentang perjuangan di masa awal Muhammadiyah. Sebuah masa ketika tekad lebih kuat daripada raga.
Mawardi bahkan menambahkan bahwa semangat seperti itu juga ia temukan pada banyak tokoh Muhammadiyah masa kini. Ada yang masih memaksa hadir dalam rapat meski harus berjalan tertatih. Ada yang tetap mengajar meski suhu tubuhnya meningkat. Ada yang memimpin kegiatan meski baru keluar dari rumah sakit.
“Mati Dalam Keadaan Bermuhammadiyah”
Salah satu bagian kultum Mawardi yang membuat peserta hening adalah ketika ia bicara tentang kematian.
“Sepertinya mereka yakin bahwa mati dalam keadaan bermuhammadiyah adalah mati dalam keadaan yang baik,” ujarnya lirih namun mantap.
“Maka mari kita berdoa agar dimatikan dalam keadaan bermuhammadiyah.”
Kalimat itu menggantung di udara, menghadirkan renungan yang dalam: apakah kita telah bersungguh-sungguh dalam amanah ini?
Ilmu, Iman, dan Amal Saleh
Menjelang akhir kultum, Mawardi kembali meneguhkan alasan mengapa bermuhammadiyah itu mulia.
“Karena dalam Muhammadiyah ada ilmu, ada iman, dan ada amal saleh,” katanya.
Ia menyebut tiga hal itu sebagai satu kesatuan yang tidak boleh dipisahkan:
- Ilmu tanpa iman tidak bermanfaat.
- Iman tanpa ilmu tidak kokoh.
- Ilmu dan iman tanpa amal saleh tidak punya nilai.
“Dan ketiganya itulah Muhammadiyah,” tutup Mawardi.
Kultum pagi itu mungkin singkat, tetapi jejaknya melekat lama di hati para peserta. Mengalir pelan, tapi meneguhkan kembali bahwa menjadi bagian dari Muhammadiyah bukan hanya organisasi, tetapi sebuah jalan hidup. (*)





0 Tanggapan
Empty Comments