Dalam itu, Masjid Al Munirah MBS Porong tidak hanya diterangi lampu-lampu masjid, tetapi juga semangat dan harapan para santri muda. Mereka duduk berderet rapi, menyimpan satu pertanyaan besar di benak masing-masing: setelah keluar dari pondok, ke mana langkah hidup harus diarahkan?
Selasa (10/2/2026), santriwati akhir KMI dari Pondok Modern Darussalam Gontor Putri 3 hadir mengikuti silaturahmi dan pembekalan bertema Menimba Inspirasi, Menata Masa Depan, dan Siap Berkhidmat untuk Umat. Pertemuan ini bukan sekadar agenda kunjungan, melainkan momentum peralihan—dari dunia pendidikan pesantren menuju medan pengabdian di tengah masyarakat.
Bersama IKPM Gontor Sidoarjo, Muhammadiyah Boarding School Porong kembali menjadi ruang temu para calon alumni pesantren untuk menata arah hidup. Selama ini, MBS Porong kerap menjadi rujukan pembekalan calon alumni berbagai pesantren—tempat belajar bukan hanya tentang teori, tetapi tentang kenyataan hidup dan makna pengabdian.
Hadir sebagai narasumber utama Prof. Dr. Dzoul Milal, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Sidoarjo sekaligus Pembina IKPM Gontor Cabang Sidoarjo dan Guru Besar UIN Sunan Ampel. Turut membersamai beliau Dr. Eko Asmanto, M.A., M.Fil., Ketua PC IKPM Gontor Sidoarjo, serta Kepala Pengasuhan Santri MBS Porong, Rozaq Akbar, sebagai tuan rumah kegiatan.
Berbeda dari pembekalan yang sarat slogan, malam itu justru dipenuhi kisah-kisah nyata. Tentang bagaimana ilmu diuji saat bersentuhan dengan masyarakat. Tentang bagaimana idealisme berhadapan langsung dengan realitas. Dan tentang bagaimana santri harus tetap berdiri sebagai cahaya perubahan, bukan sekadar penonton zaman.
Sikap Hidup di Tengah Masyarakat
Rozaq Akbar menyampaikan pesan yang jarang diungkap secara terbuka.
“Saya sengaja menyampaikan bagian yang pahit saja,” tuturnya.
Ia mengingatkan tentang sudut pandang sebagian masyarakat yang kerap melihat santri dengan kacamata shock culture, serta beratnya amanah yang dipikul seorang santri di mata umat.
“Saya sering bertemu para kiai pesantren di berbagai daerah. Mereka selalu mengingatkan: santri membawa nama pondok, bahkan membawa nama Islam itu sendiri,” tuturnya.
Di hadapan para santriwati yang sebentar lagi akan “turun ke umat”, Prof. Dzoul Milal tidak menekankan prestasi, melainkan jati diri. Bahwa santri bukan sekadar status kelulusan, tetapi identitas sepanjang hayat. Akhlak, cara berpakaian, cara bergaul, hingga sikap hidup di tengah masyarakat adalah cermin marwah pesantren.
Pesan itu diperkuat oleh para alumni: santri harus mampu berdiri di semua golongan—lentur bergaul di mana pun, namun tetap kokoh memegang prinsip Islam yang moderat dan menyejukkan. Pengabdian bukan tentang mencari tempat paling nyaman, melainkan hadir di titik di mana umat paling membutuhkan.
Para santriwati juga diajak menata kualitas diri. Hubungan dengan Allah menjadi fondasi utama. Shalat, Al Quran, dan disiplin waktu yang selama ini ditempa di pondok tidak boleh padam setelah kelulusan. Ilmu dan hafalan bukan untuk dibanggakan, tetapi untuk direndahkan hati dan diperluas manfaatnya.
Malam itu pula mimpi-mimpi ditanamkan. Dr. Eko Asmanto berbagi kisah perjuangan studi hingga ke luar negeri, menegaskan bahwa santri tidak boleh berhenti belajar. Dunia terbentang luas, dan pesantren bukanlah batas, melainkan bekal untuk melangkah lebih jauh.
Nilai kolaborasi menjadi penekanan penting. Santri tidak ditakdirkan berjalan sendirian. Seperti Nabi Musa dan Nabi Harun, perjuangan akan lebih kuat jika dilakukan bersama. Organisasi, komunitas, dan jaringan alumni menjadi ladang dakwah yang harus dihidupkan dengan semangat kebersamaan.
Kelulusan Bukan Akhir Perjalanan
Acara ditutup dengan doa dan penyerahan cendera mata. Namun yang dibawa pulang para santriwati bukan sekadar kenangan, melainkan kesadaran baru: bahwa kelulusan bukan akhir perjalanan, melainkan awal dari tanggung jawab yang lebih besar.
Melalui kegiatan ini, Muhammadiyah Boarding School Porong kembali menegaskan perannya sebagai ruang persiapan sebelum santri benar-benar terjun ke masyarakat. Sebuah tempat untuk menata mindset keumatan, kepemimpinan, dan keberanian hidup mandiri. Bukan hanya membekali ilmu, tetapi membekali cara hidup.
Dari pondok menuju umat. Dari ilmu menuju amal. Dari mimbar menuju masyarakat. Karena santri tidak cukup hanya lulus, ia harus siap mengabdi. Tidak cukup hanya pintar, ia harus siap memimpin dengan akhlak. Dan tidak cukup membawa nama almamater, tetapi membawa cahaya bagi lingkungannya.
Kegiatan ini menjadi bagian dari rangkaian Rihlah Tarbawiyah Iqtishodiyah—studi tentang ekonomi dan pendidikan sebagai bekal wajib calon alumni Gontor. Sebuah ikhtiar agar santri tumbuh tangguh, berwawasan luas, dan terampil hidup di tengah masyarakat.
Dan malam itu, di Masjid Al Munirah, satu generasi sedang dipersiapkan: bukan sekadar untuk meraih sukses, tetapi untuk memberi makna bagi umat. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments