
PWMU.CO — MDMC Jember (Lembaga Resiliensi Bencana Muhammadiyah Kabupaten Jember) terus aktif memberikan edukasi seputar kemanusiaan dan kebencanaan kepada masyarakat. Salah satu upaya terbaru mereka adalah mengadakan dialog interaktif Kentongan di RRI Jember pada Rabu (16/7/2025) pukul 16.30–17.00 WIB.
Tema yang diangkat dalam acara ini adalah MDMC Jember Gencarkan Satuan Pendidikan Aman Bencana (SPAB), dengan tujuan menyebarluaskan pemahaman tentang pentingnya persiapan menghadapi bencana di lingkungan sekolah.
Dalam dialog tersebut, narasumber dari MDMC Jember, Khoirul Fahri Arrijal, S.Ked., menjelaskan bahwa kolaborasi sangat penting untuk memperkuat kesiapsiagaan menghadapi bencana.
“MDMC Jember melalui Program SPAB hadir sebagai bagian dari usaha bersama untuk memperkuat kemampuan warga sekolah dalam menghadapi bencana. Dengan pendekatan edukatif, partisipatif, dan menyeluruh—mulai dari pelatihan, simulasi evakuasi, hingga pembuatan sistem tanggap darurat—kami berupaya menanamkan kebiasaan sadar dan sigap bencana di lingkungan pendidikan,” ungkapnya.
Partisipasi MDMC Jember dalam dialog publik di RRI ini merupakan bagian dari strategi mereka untuk menyebarkan informasi dan edukasi kebencanaan secara luas dan berkelanjutan.
Dengan memanfaatkan media massa seperti radio, MDMC Jember ingin memastikan bahwa informasi penting ini tidak hanya diketahui oleh internal sekolah atau komunitas Muhammadiyah saja, tetapi juga dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Hal ini sesuai dengan prinsip Muhammadiyah untuk membangun masyarakat yang sadar akan risiko bencana.
Sebagai bagian dari edukasi, dialog ini juga mengenalkan materi yang akan disampaikan dalam pelatihan SPAB, seperti:
- Fikih Kebencanaan: Pedoman keagamaan dari Muhammadiyah tentang sikap dan tindakan saat bencana.
- Manajemen Kebencanaan dan OMOR: Penjelasan tentang peran MDMC sebagai koordinator utama dalam penanggulangan bencana di lingkungan Muhammadiyah.
- Aspek hukum dan kebijakan pemerintah terkait SPAB: Agar seluruh warga sekolah memahami peraturan dan peran masing-masing dalam menjalankan program ini.
Selain itu, SPAB juga berfokus pada aspek teknis dan praktis. Peserta akan belajar menganalisis risiko bencana sebagai dasar untuk membuat peta risiko dan merencanakan kegiatan mitigasi di sekolah.
Mereka juga akan dilatih untuk membuat peta risiko, jalur evakuasi, dan titik kumpul, serta membentuk Tim Siaga Bencana Sekolah (TSBS) yang resmi melalui SK kepala sekolah. Agar respons lebih terorganisasi, sekolah juga akan dibimbing dalam menyusun Standar Operasional Prosedur (SOP) penanganan bencana yang jelas.
Tak kalah penting, ada edukasi tentang tas siaga bencana yang harus disiapkan setiap individu, berisi perlengkapan dasar untuk bertahan saat darurat. Peserta juga diajak mempraktikkan pembuatan skenario dan simulasi SPAB secara realistis, guna meningkatkan kemampuan dan kesiapsiagaan seluruh warga sekolah saat menghadapi situasi bencana.
Ke depannya, MDMC Jember menargetkan untuk memperkuat program SPAB di sekolah-sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Jember. Dengan upaya ini, MDMC Jember berharap kesadaran dan kesiapsiagaan seluruh warga sekolah (guru, karyawan, siswa, wali murid, dan masyarakat sekitar) akan semakin meningkat.
Penulis Putri Khulud Widya Ningrum Editor Zahra Putri Pratiwig


0 Tanggapan
Empty Comments