Langit cerah dan kicau burung menjadi pembuka suasana penuh keceriaan di SD Mugres Kampus B, Kamis (15/1/2026). Para siswa tampak antusias menyambut peringatan Isra’ Mi’raj Nabi Muhammad SAW 27 Rajab 1447 H, sebuah momen penting yang mengenang perjalanan luar biasa Rasulullah dari Masjid Al-Aqsa menuju Sidratul Muntaha.
Acara dibuka dengan apel pagi, pembacaan ikrar dan Janji Pelajar Muhammadiyah oleh Ketua IPM Kids terpilih, Muhammad Kanzurho Faiqatuzzihni. Selanjutnya, Kepala SD Mugres Kampus B, Yusuf Wibisono, M.Pd., memberikan sambutan. Ia menyampaikan bahwa para siswa sudah baik dalam menjalankan shalat wajib, namun perlu meningkatkan konsistensi dalam melaksanakan shalat sunnah.
“Harapan saya, semoga anak-anak bisa lebih tertib melaksanakan kewajiban shalat. Tidak hanya lima waktu saja, tetapi juga menambah dengan sunnahnya, dan dilakukan tepat waktu,” pesannya.
Kisah Isra’ Mi’raj: Keteladanan di Tengah Kesedihan
Tausiah disampaikan oleh Syarif Hidayatulloh, S.H., M.H., yang menceritakan perjalanan agung Nabi Muhammad SAW saat bertemu Allah SWT. Ia mengawali dengan membandingkan kisah Isra’ Mi’raj dengan cerita superhero.
“Banyak kisah fenomenal di dunia ini, tetapi tidak ada manusia yang menaiki makhluk bernama Buroq dari bumi menuju langit. Cerita ini mengalahkan superman, spiderman, atau iron man,” ungkapnya.
Syarif menjelaskan bahwa peristiwa besar ini terjadi pada tahun kesepuluh kenabian, tahun yang dikenal sebagai ‘Aam al-Huzn atau tahun kesedihan. Pada masa itu, Rasulullah kehilangan dua sosok terdekat dan pendukung utama dakwahnya: paman beliau Abu Thalib dan istri tercinta, Siti Khadijah.
Cobaan belum berhenti di situ. Rasulullah kemudian pergi ke Tha’if, lokasi yang ia harapkan dapat menerima risalah Islam. Namun bukan sambutan, yang datang justru hinaan dan lemparan batu hingga melukai tubuh beliau. Zaid bin Haritsah, yang mendampingi beliau, turut terluka saat melindungi Nabi.
Melihat ujian berat itu, Allah mengutus Malaikat Jibril bersama malaikat penjaga bukit Tha’if untuk menawarkan pembalasan terhadap penduduknya. Namun Rasulullah menolak. Ia tetap berharap suatu saat mereka akan menerima ajaran Islam.
Awal Peristiwa Isra’ Mi’raj
Dalam kondisi lemah dan penuh luka, Rasulullah memanjatkan doa yang menggetarkan ‘Arsy Allah SWT—doa yang menjadi pengantar peristiwa Isra’ Mi’raj. Dari doa itu, Allah memuliakan Rasulullah dengan undangan untuk bertemu langsung dengan-Nya.
Nabi Muhammad SAW dibawa menunggangi Buroq dari Masjidil Haram menuju Masjidil Aqsa, kemudian dinaikkan hingga Sidratul Muntaha. Dalam perjalanan itu, beliau diperlihatkan surga, neraka, dan bertemu beberapa nabi sebelumnya. Puncaknya, Nabi menerima perintah shalat, hadiah terbesar bagi umat Islam.
Hikmah Perjuangan Rasulullah
Melalui kisah itu, Syarif menekankan nilai optimisme dan keteguhan Nabi dalam menghadapi ujian.
“Adik-adik, jika kita menginginkan prestasi, maka kemuliaan itu pasti didahului dengan ujian. Semakin besar ujian, semakin besar pula hadiah yang Allah berikan,” jelasnya.
Ia menambahkan bahwa Allah menjamin kemudahan bagi setiap kesulitan, sebagaimana dalam QS Al-Insyirah ayat 5–6. Karena itu, siswa diminta untuk tidak mudah putus asa.
“Terdapat hikmah lain: jangan sandarkan masalah kepada manusia. Nabi sudah mencontohkan, bersandar kepada manusia kadang mengecewakan. Sandarkanlah semuanya kepada Allah,” tegasnya.
Melalui peringatan Isra’ Mi’raj ini, siswa-siswi SD Mugres Kampus B diharapkan semakin mengenal perjuangan Rasulullah, meneladani sikap sabar, optimis, dan pantang menyerah dalam menghadapi kesulitan. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments