Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Memahami Mustahil ‘Adatan dan Mustahil ‘Aqlan

Iklan Landscape Smamda
Memahami Mustahil ‘Adatan dan Mustahil ‘Aqlan
pwmu.co -

Oleh Ery Santika Adirasa, SST, MAg – Mubaligh Muhammadiyah

PWMU.CO – Dalam disiplin ilmu logika dan filsafat Islam, konsep kemustahilan sering kali dikategorikan menjadi: mustahil ‘adatan dan mustahil ‘aqlan. Keduanya merupakan bagian dari kajian epistemologi Islam yang membahas kemungkinan dan kemustahilan sesuatu berdasarkan hukum-hukum tertentu.

Pemahaman yang jelas terhadap kedua konsep ini sangat penting. Karena menyangkut berbagai aspek kehidupan, termasuk dalam memahami dalil-dalil syar’i, menjawab syubhat (kerancuan pemikiran), serta membangun argumentasi yang rasional dalam kajian keislaman dan ilmu pengetahuan.

Pengertian Mustahil ‘Adatan

Mustahil ‘adatan adalah sesuatu yang secara teoretis dapat terjadi dalam akal, tetapi tidak mungkin terjadi dalam kebiasaan atau hukum alam yang berlaku. Kemustahilan ini berdasarkan pada pengalaman empiris manusia serta aturan yang berlaku dalam sunnatullah, yaitu hukum sebab-akibat yang Allah tetapkan di dunia.

Sebagai contoh, seseorang yang berjalan kaki dari Jakarta ke Mekkah dalam satu hari termasuk kategori mustahil ‘adatan. Secara nalar, perjalanan semacam itu bukanlah hal yang tidak mungkin sama sekali, karena manusia bisa berjalan dan berpindah tempat. Namun, berdasarkan pengalaman dan hukum alam, perjalanan sejauh itu dalam waktu sehari tidak mungkin tanpa adanya sarana seperti pesawat terbang atau kendaraan berkecepatan tinggi.

Namun, penting untuk dicatat bahwa mustahil ‘adatan bisa saja terjadi apabila ada intervensi dari Allah berupa mukjizat atau kehendak khusus yang melampaui batas hukum kebiasaan. Seorang nabi, misalnya, dapat melakukan sesuatu yang mustahil secara adat melalui mukjizat. Seperti tongkat Nabi Musa yang berubah menjadi ular atau Nabi Ibrahim yang tidak terbakar saat dilempar ke dalam api. Peristiwa ini bukan berarti hukum alam dihapus, tetapi menunjukkan bahwa Allah memiliki kuasa mutlak untuk mengubah hukum tersebut ketika dikehendaki-Nya.

Dalam konteks ini, mukjizat para nabi bukanlah bentuk pelanggaran terhadap akal, tetapi merupakan pengecualian dari hukum kebiasaan yang Allah tetapkan untuk menunjukkan kekuasaan-Nya. Oleh karena itu, seorang mukmin harus memahami bahwa di balik segala fenomena luar biasa tersebut terdapat hikmah Ilahi yang tidak sekadar menunjukkan keajaiban, tetapi juga menguatkan keimanan dan meneguhkan keyakinan bahwa Allah adalah Maha Berkuasa atas segala sesuatu.

Pengertian Mustahil ‘Aqlan

Mustahil ‘aqlan adalah sesuatu yang sama sekali tidak mungkin terjadi, bukan karena kebiasaan atau hukum alam, tetapi karena bertentangan dengan akal dan logika. Sesuatu yang termasuk kategori ini tidak dapat terjadi dalam keadaan apapun, bahkan dalam kondisi luar biasa seperti mukjizat.

Sebagai contoh, adanya dua Tuhan dalam satu alam semesta merupakan sesuatu yang mustahil ‘aqlan. Konsep ketuhanan dalam Islam menegaskan bahwa Allah adalah satu (ahad), dan keberadaan dua Tuhan yang sama-sama Maha Kuasa akan menyebabkan kontradiksi logis. Jika ada dua Tuhan dengan kekuasaan mutlak, maka keduanya bisa saling meniadakan kehendak satu sama lain, yang pada akhirnya akan berujung pada ketidakteraturan dan kehancuran alam semesta. Dalam logika Islam, ini adalah sesuatu yang tidak mungkin secara akal.

Pendapat tersebut selaras dengan firman Allah Ta’ala:

لَوۡ كَانَ فِيهِمَآ ءَالِهَةٌ إِلَّا ٱللَّهُ لَفَسَدَتَا ۚ فَسُبۡحَٰنَ ٱللَّهِ رَبِّ ٱلۡعَرۡشِ عَمَّا يَصِفُونَ

“Seandainya pada keduanya (di langit dan di bumi) ada Tuhan-Tuhan selain Allah, tentu keduanya telah binasa. Maha Suci Allah yang memiliki ‘Arsy, dari apa yang mereka sifatkan.” (QS. Al-Anbiya: 22)

Iklan Landscape UM SURABAYA

Contoh lainnya adalah eksistensi sesuatu yang ada dan tidak ada dalam waktu yang sama. Dalam ilmu logika, hukum kontradiksi (law of non-contradiction) menyatakan bahwa satu hal tidak bisa “ADA” dan “tidak ada “TIDAK ADA” dalam waktu bersamaan dan dalam aspek yang sama. Jika seseorang mengatakan bahwa satu objek itu sekaligus ada dan tidak ada dalam saat yang sama, maka pernyataan tersebut mustahil secara akal.

Selain itu, mustahil ‘aqlan juga mencakup konsep-konsep yang bertentangan dengan esensi sesuatu. Misalnya, manusia yang merupakan makhluk sekaligus yang tidak terciptakan. Dalam logika Islam, manusia adalah makhluk ciptaan Allah, sehingga mustahil bagi manusia untuk ada tanpa Pencipta. Begitu pula dengan anggapan bahwa makhluk bisa memiliki sifat ketuhanan yang sejati. ini mustahil karena sifat ketuhanan mencakup keberadaan yang tidak bergantung kepada apa pun, sementara makhluk selalu bergantung kepada penciptanya.

Perbedaan Mustahil ‘Adatan dan Mustahil ‘Aqlan

Perbedaan utama antara mustahil ‘adatan dan mustahil ‘aqlan terletak pada sifat kemustahilannya. Mustahil ‘adatan masih berada dalam ruang kemungkinan secara teoritis, tetapi tidak dapat terjadi dalam kondisi normal berdasarkan hukum alam. Sedangkan mustahil ‘aqlan adalah sesuatu yang secara mutlak tidak dapat terjadi dalam keadaan apa pun karena bertentangan dengan prinsip-prinsip logika.

Dari segi kemungkinan intervensi Ilahi, mustahil ‘adatan dapat ditiadakan oleh kehendak Allah melalui mukjizat atau kejadian luar biasa. Sedangkan mustahil ‘aqlan tetap tidak mungkin terjadi meskipun dalam kondisi luar biasa. Nabi Musa AS, atas mukjizat dari Allah, mampu membelah lautan yang kelihatanya mustahil secara adat. Namun, seseorang yang mengaku bisa hidup dan sekaligus mati dalam waktu yang sama adalah mustahil secara akal dan tidak mungkin terjadi dalam kondisi apa pun.

Dari segi implikasi dalam kehidupan sehari-hari, memahami perbedaan antara kedua jenis kemustahilan ini sangat penting. Termasuk dalam menafsirkan dalil-dalil agama, membangun argumen rasional, dan menolak pemikiran yang bertentangan dengan logika Islam.

Sebagai contoh, ketika seseorang mengajukan pertanyaan seperti “Bisakah Tuhan menciptakan batu yang tidak bisa Dia angkat?”. Pemahaman tentang mustahil ‘aqlan membantu kita menjawab bahwa pertanyaan ini mengandung kontradiksi internal. Kekuasaan Allah tidak terbatas, tetapi bukan berarti mencakup sesuatu yang mustahil secara akal. Karena itu bukan bagian dari definisi kekuasaan sejati.

Pemahaman tentang mustahil ‘adatan juga penting dalam konteks sains dan teknologi. Kemajuan ilmu pengetahuan sering kali mengubah apa yang sebelumnya dianggap mustahil dalam kebiasaan. Dahulu, perjalanan dari Indonesia ke Arab Saudi dalam waktu 10 jam dianggap mustahil secara adat. Seiring perkembangan teknologi, hal tersebut menjadi mungkin dengan adanya pesawat terbang. Namun, kemajuan sains tidak akan pernah bisa mengubah sesuatu yang mustahil secara akal, seperti mengubah hukum kontradiksi atau menciptakan keberadaan yang tidak bergantung pada pencipta.

Dalam kajian filsafat Islam dan logika, mustahil ‘adatan dan mustahil ‘aqlan memiliki perbedaan yang mendasar. Mustahil ‘adatan merujuk pada sesuatu yang tidak mungkin terjadi dalam kebiasaan atau hukum alam, tetapi masih mungkin terjadi dengan intervensi ilahi. Sebaliknya, mustahil ‘aqlan adalah sesuatu yang bertentangan dengan logika dan tidak mungkin terjadi dalam kondisi apa pun.

Pemahaman yang jelas mengenai kedua konsep ini tidak hanya penting dalam kajian teologis, tetapi juga dalam kehidupan intelektual sehari-hari. Dengan memahami batas-batas kemungkinan dan kemustahilan, kita dapat membangun pemikiran yang lebih rasional, menolak argumen yang tidak logis, dan semakin mengukuhkan keyakinan terhadap prinsip-prinsip Islam yang sesuai dengan akal sehat dan dalil yang kuat.

Editor Notonegoro

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu