Iklan Mudipat Landscape
Iklan Mudipat Mobile

Memahami Tajdid: Dari Makna Dasar hingga Urgensi Re-Tajdid Muhammadiyah

Iklan Landscape Smamda
Memahami Tajdid: Dari Makna Dasar hingga Urgensi Re-Tajdid Muhammadiyah
Asruri Muhammad. Foto: Chat-GPT/PWMU.CO
Oleh : Asruri Muhammad Pemerhati Sosial Keagamaan
pwmu.co -

Sejak kelahirannya, Muhammadiyah menegaskan diri sebagai gerakan tajdid. Istilah ini tidak hanya tercantum dalam dokumen resmi persyarikatan, tetapi juga menjadi identitas ideologis yang terus diwariskan lintas generasi. Namun harus diakui secara jujur, tidak semua warga Muhammadiyah benar-benar memahami tajdid secara utuh. Dalam praktiknya, tajdid kerap berhenti sebagai slogan, belum sepenuhnya menjelma menjadi kesadaran metodologis dan etos gerakan.

Karena itu, menjelaskan tajdid dari makna dasarnya menjadi penting, agar pembaruan tidak hanya diklaim, tetapi sungguh-sungguh dijalankan.

Makna Dasar Tajdid

Secara bahasa, tajdid (تجديد) berarti memperbarui, menghidupkan kembali, atau mengembalikan sesuatu pada keadaan semula yang bersih dan segar. Tajdid bukanlah menciptakan ajaran baru, apalagi mengganti agama. Ia justru bermakna membersihkan karat yang menempel akibat perjalanan waktu, kebiasaan, dan kelalaian manusia.

Dalam terminologi syariat, tajdid berarti mengembalikan pemahaman dan pengamalan Islam agar tetap setia pada Al-Qur’an dan Sunnah, sekaligus relevan dengan realitas zaman.

Makna ini ditegaskan Rasulullah ﷺ dalam sabdanya,

“Sesungguhnya Allah akan mengutus bagi umat ini pada setiap awal seratus tahun orang yang memperbarui agamanya.” (HR. Abu Dawud).

Hadis ini menunjukkan bahwa tajdid merupakan keniscayaan sejarah. Ia bukan penyimpangan, melainkan mekanisme ilahiah agar agama tidak membeku, kehilangan daya hidup, atau terasing dari umatnya.

Tajdid dan Reformasi: Substansi yang Sejalan

Dalam pengertian tersebut, tajdid sejatinya sejalan dengan reformasi—jika reformasi dimaknai sebagai re-formare, membentuk kembali agar fungsi aslinya tetap berjalan. Perbedaannya, tajdid berakar pada wahyu, bukan semata tekanan zaman.

Dalam tajdid, reformasi berarti memperbarui cara tanpa mengganti prinsip, mengembangkan metode tanpa mengubah manhaj, serta menyesuaikan pendekatan tanpa mengorbankan nilai. Karena itu, menyamakan tajdid dengan reformasi tidak keliru secara substansi, selama reformasi tidak dipahami sebagai perubahan radikal yang memutus tradisi.

Justru tajdid bertujuan menyelamatkan tradisi Islam agar tetap hidup dan mampu membimbing zaman.

Tajdid dalam Praktik Muhammadiyah

Kiai Ahmad Dahlan telah mempraktikkan tajdid secara nyata: meluruskan arah kiblat, memperbarui sistem pendidikan, mengubah pola dakwah, dan menggeser orientasi keberagamaan dari simbolisme menuju pemaknaan. Semua dilakukan bukan untuk membongkar Islam, melainkan untuk menghidupkannya.

Dalam tradisi Muhammadiyah, tajdid memiliki dua wajah utama: pemurnian dalam akidah dan ibadah, serta pembaruan dalam muamalah, sosial, pendidikan, dan dakwah. Inilah yang membuat Muhammadiyah mampu bertahan dan memberi kontribusi nyata selama lebih dari satu abad.

Zona Aman dan Bahaya Kejumudan

Namun refleksi kritis tetap diperlukan. Setiap gerakan pembaruan yang telah mapan, besar, dan diterima luas, berpotensi tergoda oleh zona aman. Struktur menguat, amal usaha berkembang, legitimasi sosial mengokoh. Tetapi bersamaan dengan itu, keberanian bertanya dan mengoreksi diri bisa melemah.

Dalam kondisi demikian, tajdid berisiko berubah menjadi rutinitas administratif, bukan lagi daya dobrak moral dan intelektual. Kejumudan justru dapat lahir bukan karena menolak tajdid, tetapi karena merasa sudah men-tajdid.

Allah Swt mengingatkan,

“Tidakkah mereka berpikir, ataukah hati mereka telah terkunci?” (QS. Muhammad: 24).

Ayat ini menjadi peringatan bahwa stagnasi sering kali bukan disebabkan kekurangan ilmu, melainkan hilangnya kesadaran kritis dan kegelisahan iman. Ketika berpikir digantikan kebiasaan, dan kenyamanan struktural menutup ruang refleksi, kejumudan tumbuh di tengah kelimpahan.

Gerakan yang besar tetapi kehilangan kegelisahan moral berisiko berubah dari harakah tajdid menjadi sekadar lembaga pengelola.

Urgensi Re-Tajdid

Di sinilah urgensi re-tajdid—pembaruan atas semangat pembaruan itu sendiri. Re-tajdid bukan kritik destruktif, melainkan bentuk kesetiaan tertinggi pada cita-cita Muhammadiyah sebagai gerakan pembaru.

Re-tajdid menuntut keberanian mengajukan pertanyaan mendasar:

apakah dakwah Muhammadiyah masih menyapa generasi baru?

apakah sistem kaderisasi masih melahirkan pemimpin visioner?

apakah kenyamanan institusi telah melemahkan kegelisahan iman?

Jika pertanyaan-pertanyaan ini dijawab dengan jujur, maka tajdid akan kembali menjadi api—bukan sekadar label.

Menuju Kesadaran Baru

Kesadaran kritis inilah yang seharusnya mendorong Muhammadiyah untuk tidak berhenti pada klaim sebagai gerakan tajdid. Justru karena Muhammadiyah telah besar dan berpengaruh, tajdid harus terus diuji, bahkan terhadap dirinya sendiri.

Ketika tajdid terasa rutin, kritik dianggap mengganggu harmoni, dan kenyamanan lebih dijaga daripada kegelisahan iman, maka persoalannya bukan lagi teknis, melainkan ideologis.

Dari titik inilah gagasan Reformasi Muhammadiyah: Menatap Abad Kedua menjadi relevan. Bukan sebagai pembongkaran identitas, tetapi sebagai ikhtiar menjaga Muhammadiyah tetap setia pada watak dasarnya: gerakan pembaru. Sebab gerakan yang lahir untuk membarui tidak boleh takut untuk direfleksikan, dikritik, dan—bila perlu—direformasi. (*)

Iklan Landscape Unmuh Jember

Baca Lainnya

Iklan pmb sbda 2025 26

0 Tanggapan

Empty Comments

Search
Menu