Pagi itu, langit Kecamatan Genteng, Banyuwangi tampak lumayan cerah. Sinar mentari menyapa hangat, seolah ikut merayakan semangat para pahlawan tanpa tanda jasa di Hari Guru Nasional (HGN).
Udara pagi yang segar menjadi penyemangat tersendiri bagi saya untuk segera melangkah menuju SMK Muhammadiyah 2 (Muda) Genteng, tempat saya mengabdi selama ini, Selasa (25/11/2025).
Sampai di sekolah, suasana masih begitu sunyi. Hanya deru angin dan langkah kaki saya yang terdengar di halaman yang luas itu karena bel masuk memang masih 30 menit lagi. Sesaat kemudian sudah mulai terlihat beberapa guru dan siswa memasuki gerbang sekolah.
Nampak Wakil Kesiswaan, Mohammad Wahid dibantu oleh beberapa guru yang lain sedang menyiapkan perangkat sound sistem untuk persiapan upacara peringatan HGN.
“Anak-anak segera menuju halaman untuk melaksanakan upacara,” ujar wakil kesiswaan itu memberikan pengumuman melalui loud speaker sekolah.
Senang rasanya menyaksikan para siswa sedang berbaris menata dirinya. “Merekalah generasi harapan bangsa,” batin saya.
Ingatan saya terbayang pada upacara HGN satu tahun yang lalu, saat saya dipercaya menjadi pembina upacara. Tahun ini, saya kembali mendapatkan amanah yang sama.
Tepat pukul 07.00 WIB, upacara dimulai. Seluruh petugas upacara adalah para guru. Dari awal hingga akhir, rangkaian upacara berlangsung dengan khidmat. Terlebih saat lagu Hymne Guru dinyanyikan dan dilanjutkan dengan Mars Sang Surya, suasana seketika menjadi sangat haru.
Di hadapan seluruh guru, karyawan, dan siswa SMK Muda Genteng, saya membacakan pesan Allah dalam al-Quran Surat al-Mulk ayat 2.
“(Allah) Yang menjadikan kematian dan kehidupan untuk menguji kamu siapa yang paling terbaik amalnya.”
Oleh karena itu, dalam memaknai Hari Guru Nasional ini, saya mengajak seluruh peserta upacara untuk senantiasa berusaha melakukan amal-amal yang prestatif. Hal tersebut dapat diwujudkan melalui lima cara berikut:
Pertama, menanamkan karakter mulia pada diri sendiri, baik di dunia nyata maupun dunia maya. Setiap individu harus mampu bersikap bijak dalam bermedia sosial, serta menjaga tutur kata dan perilaku agar tetap sopan dan santun.
Kedua, disiplin. Dari sikap disiplin akan lahir kesuksesan karena tak ada seorang pun di dunia ini yang meraih keberhasilan tanpa kedisiplinan.
Menegakkan budaya sekolah, seperti datang tepat waktu dan melaksanakan salat berjamaah di masjid sekolah sesuai jadwal, merupakan bagian penting dalam membentuk pribadi yang berdisiplin tinggi.
Ketiga, terus belajar. Dengan menjadi pembelajar sejati, seseorang guru, karyawan, dan siswa telah berada dalam jalan yang benar dan diridai Tuhan Yang Maha Esa. Sebab, pengetahuan atau ilmu akan menjadi amal jariyah bagi dirinya.
Keempat, berkompetisi. Setiap siswa hendaknya memiliki keberanian untuk berpartisipasi dalam berbagai ajang perlombaan sebagai upaya meraih prestasi. Jangan hanya merasa cukup menjadi “jago kandang”, tetapi ikutlah kompetisi di luar sekolah untuk melihat dan menantang kemampuan di dunia yang lebih luas.
Terakhir, yang kelima, tawakal kepada Allah. Para juara memang patut diapresiasi, namun yang tidak juara bukan berarti tidak berprestasi.
Apabila sesuatu yang telah kita rencanakan menghasilkan hal di luar ekspektasi, maka serahkanlah semuanya kepada Allah. Yang terpenting adalah sejauh mana kesungguhan dan ikhtiar yang telah kita lakukan untuk meraih prestasi tersebut.
Semoga kita mampu memaknai Hari Guru Nasional ini dengan amalan yang penuh prestasi. (*)






0 Tanggapan
Empty Comments